Mohon tunggu...
Sapta Arif
Sapta Arif Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Menyukai pepuisi, cerita-cerita, kopi, dan diskusi hingga pagi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Renjana

2 Maret 2018   10:50 Diperbarui: 2 Maret 2018   12:16 785
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: ink.imalone.us

Lalu tentu saja, kediamanku kau pecahkan dengan amplop putih bergambar merpati yang bertuliskan namamu. Kau menyodorkan padaku. Ada penyesalan yang terpancar di sudut matamu. Matamu masih sembab, sisa-sisa tangisanmu mengembun di bola mataku. Namun aku mencoba membendung jatuhnya rintik hujan kala itu.

"Bulan depan aku menikah, Rah. Rama melamarku." terbata-bata kau rangkai kalimat yang mendiamkanku. Mendiamkan seluruh darah dan denyut cintaku.

Nama itu sudah terpatri jelas di amplop yang kau bawa. Rama Wijaya---seseorang kala itu pernah kau kenalkan sebagai mitra kerjamu. Matamu masih sembab, namun bulan sudah berangkat ke ruang kerja. Bintang-bintang bertaburan, nampaknya malam bersuka cita menyambut pernikahan kalian. Namun gemuruh di hatiku kala itu tidak bisa kubendung Shinta. Air mataku luruh bersama kepergianmu dari kedai kala itu. Barangkali itu tangisanku yang pertama kali sejak tangisanku saat tertabrak motor ketika berusia sepuluh tahun.

Namun sekarang sudah berbeda, Shinta. Mulai sekarang dan mungkin tahun-tahun ke depan kau milikku Shinta. Kini kau sudah ada di pelukanku, menikmati senja yang memang bertambah merah sore ini. Kita duduk bersama di loteng rumahmu menikmati ritual senja seperti masa-masa indah kita dulu. Kubopong tubuh mungilmu dari lantai satu ke lantai dua. Kurebahkan tubuhmu dengan pasrah di kursi kayu yang sudah kusiapkan untuk kita.

Kau begitu cantik meski matamu tertutup, dan darah mengucur dari perutmu. Bibirmu yang merah merona begitu manis. Kubelai rambutmu yang tergerai. Nampaknya kau begitu menikmati ritual senja kita.

Shinta, sejak cinta hadir di antara kita. Aku sudah merasa bahwa mencintaimu adalah bahagia dan sedih---seperti yang pernah dikatakan Rendra. Bahagia karena memilikimu di dalam hatiku. Dan sedih karena mencintaimu sama halnya merelakan sebuah perpisahan yang entah kapan datangnya. Dan memang perpisahan itu benar-benar terjadi Shinta. Dua puluh Mei sepuluh tahun yang lalu, di jari manismu melingkar cintanya. Cinta Rama.

Namun aku mengerti Shinta, jauh di lubuk hatimu masih kau bungkus rapi parsel cintaku. Terbukti berkali-kali kau mendatangiku dalam mimpi. Setangkai bunga kamboja dengan pita hitam yang melingkarinya. Kau masih sama, dengan rambutmu yang tergerai dengan gaun merah, kala itu. Samar-samar sering kujumpai permintaan untuk menengokmu. Nampaknya kau rindu padaku. Lalu kumantapkan pada puncak niatku, aku akan mengunjungimu dan menunaikan kerinduanku.

Seperti dendam, rindu juga harus dibayar sampai tuntas. Namun rasanya rindu dan dendam dalam hatiku sudah mendidih pada titiknya, maka siang ini, aku mantap menuntaskannya. Aku mendatangi rumahmu yang megah, berbekal pisau kecil yang kusembunyikan pada karangan bunga. Hari ini rinduku harus tuntas.

Aku datang tepat pukul dua belas di arlojiku. Setelah turun dari taksi, aku masuk melewati gerbang rumahmu yang memang tak pernah kau kunci. Kupencet bel rumahmu---aku berharap kau yang membukanya untukku---, agak lama kau biarkan aku membeku di depan pintu. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki dari dalam, samar-samar kuintip dari jendela rumahmu. Aku kenal orang itu. Pintupun terbuka, aku berjalan mendekat dan menarik pisau yang kuselipkan pada karangan bunga. Lalu kutusuk tepat di rongga perut kiri. Laki-laki itu mengeram kesakitan. Kutarik lagi dan kupotong nadi yang ada di lehernya. Rama mati dalam sekejap. Darahnya membanjiri ruang tamumu.

Anakmu yang masih balita saat itu mendekat ke mayat Rama. Dia agaknya belum paham yang dialami ayahnya. Pa-pa. Pa-pa. Dua kata itu terucap sambil berlari girang ke arah Rama. Tiba-tiba kudengar teriakanmu dari ruang tengah, sambil berlari air matamu banjir. Nampaknya kau begitu bahagia menyambut kedatanganku. Sudah lama sekali Shinta, kita tidak bertemu.

"Ayah! Apa yang kau lakukan pada Suamiku!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun