Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Pilihan

Sulitnya Blackberry untuk "Move On"

4 Desember 2017   09:07 Diperbarui: 4 Desember 2017   10:58 1185 5 1
Sulitnya Blackberry untuk "Move On"
Blackberry KeyOne Black Limited Edition (Sumber : AnandTech)

Belum lama ini Blackberry sebuah perusahaan multinasional berasal dari Kanada memperkenalkan produk smartphone terbaru mereka untuk pasar Indonesia yaitu Blackberry KeyOne Black Limited Edition. Hadirnya Blackberry KeyOne ini turut meramaikan pasar smartphone di Indonesia serta menandakan eksistensi mereka dalam ranah smartphone.

Seperti kita ketahui bersama pamor Blackberry semenjak masa digdaya mereka di rentang tahun 2006 s.d 2009 dengan hadirnya Blackberry 8000 dan 9000 series, seiring waktu menurun dengan munculnya smartphone berbasis sistem operasi iOS dan Android. Lambat laun eksklusifitas dari Blackberry kian tertandingi dan tertinggal, Blackberry Messenger (BBM) yang awal menjadi daya tarik dan pembeda dengan produk lain tak kuasa membendung sistem iOS dan Android yang berkembang secara signifikan dan BBM pun harus tunduk akan peluang bisnis piranti lunak pada iOS dan Android.

Sistem operasi Blackberry 10 dan beberapa produknya dinilai gagal, alhasil Blackberry pun ditinggalkan oleh para pengguna disebabkan tidak memberikan sesuatu yang spesial dibandingkan kompetitornya. Penerapan sistem Android pada smartphone Blackberry terbaru dipandang telat disertai harga produk yang relatif mahal menjadikan Blackberry kian terpuruk kalah bersaing dengan merk produk-produk pendatang baru dari negeri Cina seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi.

Peluncuran Blackberry KeyOne Black Limited Edition tentu mencerminkan optimisme dari Research in Motion (RIM) disertai besarnya potensi pasar smartphone di tanah air. Hal ini ditenggarai oleh kondisi pasar smartphone Indonesia yang terbilang unik dikarenakan potensi pangsa pasarnya terbuka lebar dimana setiap pengguna smartphone di negeri ini cenderung mudah beralih dari satu merk ke merk yang lain. Kesemuanya tinggal bagaimana strategi market pihak Blackberry lakukan untuk menarik minat para pengguna terhadap produk ini.

Blackberry KeyOne Black Limited Edition merupakan sebuah smartphone berbasis Android 7.1 (Nougat) Custom UI (User Interface) dengan layar 4.5 inch (res.1620x1080, 434ppi). Tidak selayaknya smartphone-smartphone Android umumnya yang sepenuhnya menggunakan metode touchscreen, Blackberry KeyOne justru mengkombinasikan unitnya dengan keyboard fisik QWERTY compact pada bagian bawah yang menjadi didaulat sebagai keuggulannya. Keyboard ini mampu berfungsi layaknya trackpad dengan dukungan capacitive touch input dan fitur fingerprint terintegrasi pada tombol Spacebar-nya. 

Dari segi spesifikasi Blackberry KeyOne tidaklah terlalu spesial, dimana menggunakan processor Snapdragon 625, 4GB RAM, 64GB ROM, kapasitas batere 3505 mAh, serta fitur Quick Charge 3.0. Sayangnya spesifikasi yang dikategorikan kelas menengah ini harus ditebus dengan mahar layaknya sebuah smartphone kelas premium.

Sekilas dari gambaran Blackberry KeyOne diatas, Penulis memandang nampaknya Blackberry kembali melakukan sebuah pertaruhan dalam bisnis mereka. Blackberry KeyOne selayaknya sedang melawan arus perkembangan teknologi smartphone dengan menghadirkan keyboard fisik sebagai acuan. Hal tersebut sangat mengherankan dan bisa disebut sebagai blunder bisnis dimana smartphone-smartphone berbasis Android maupun iOS telah menerapkan keyboard virtual sebagai trend yang tidak dapat terpisahkan dalam keseharian pengguna.

Terlepas dari tajuk "KeyOne", penerapan keyboard fisik dipandang dari trend smartphone terkini dimana pengguna menginginkan smartphone dengan layar besar dan beragam fitur canggih maka kemunculan Blackberry KeyOne merupakan sebuah kemunduran. Konsen utama dari aspek besar layar 4.5 inch jelas sangat kecil ketimbang layar smartphone Android pada umumnya yang memiliki lebar layar 5.2 s.d 6 inch. 

Kemudian Blackberry seolah mengasumsikan operasional smartphone seperti sepenuhnya vertikal tanpa mengindahkan bahwa beberapa aplikasi permainan dan berbagi video memanfaatkan bidang landscape (horizontal), jelas sekali layar yang kecil dan hadirnya keyboard fisik akan mengganggu dan semakin mengurangi nilai dari unit ini. Tidak luput dari perhatian, adanya tombol navigasi pada sistem operasi Android (Menu, Home, dan Back) diantara layar dan keyboard fisik menambah atmosfer yang tidak umum dari biasanya.

Namun demikian tak sepenuhnya pemikiran Penulis direspon tepat oleh sebagian pengguna. Hadirnya keyboard fisik Blackberry KeyOne dari beberapa pengguna tidak mempermasalahkannya dan merasa terbantu (mungkin bagi mereka yang tidak biasa dengan keyboard virtual) serta memandang Blackberry KeyOne sebagai smartphone berorientasi bisnis bukan hiburan.

Dengan ciri khas yang dimilikinya bisa diasumsikan bahwa Blackberry KeyOne ini menyasar segmen pengguna tertentu. Sebagaimana dikutip dari portal berita Liputan 6 bahwa PT BB Merah Putih selaku distributor BlackBerry di Indonesia melalui Chief Operating Officer (COO) Sukaca Purwokardjono mengatakan BlackBerry KeyOne memang menargetkan pasar niche (sangat spesifik) sehingga target penjualan pun tidak terlalu besar dan penjualan unit ini tembus 20 ribu unit sampai kuartal I (Q1) 2018. 

Target konsumen KeyOne adalah pengguna dari kalangan pebisnis atau yang bosan dengan produk lain di pasar saat ini. Oleh karena itu patut dinantikan apakah Blackberry KeyOne dapat kembali menebar pesona ataukah malah menggambarkan produsen ini akan betapa sulitnya untuk move on? Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.