Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto dokter

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. "We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life" *** www.growup-clinic.com *** www.alergiku.com www.kesulitanmakan.com *** www.dokterindonesia.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Status Komodo Unesco Vs New7Wonders, Manakah Lebih Bergengsi?

2 November 2011   01:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:10 549 1 4

Dibalik emosi nasionalisme bangsa ini yang menggelora dengan melakukan dukungan melalui 9818, ternyata terdapat cerita panjang kontroversial yang masih meragukan komitmen Lembaga New7Wonders dalam manfaat dan kerugian terhadap bangsa Indonesia. Ternyata dibalik itu semua pemerintah Indonesia pernah menarik diri dari perhelatan tersebut karena yayasan tersebut mensyaratkan biaya yang sangat luar biasa besar hanya untuk meraih status komodo menjadi salah satu New7Wonders. Beberapa penyelidikan mengungkapkan bahwa lembaga tersebut ternyata sangat misterius, berbau bisnis dan diragukan kredibilitasnya. Karena di negara tempat kantornya berdiripun tidak dikenal dan alamatnya juga misterius. Padahal Taman nasional Komodo sejak dua puluh tahun yang lalu juga telah ditetapkan oleh UNESCO World Heritage Committee masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia (The World Heritage Sites). Saat ini bangsa ini sedang mengejar status New7Wonders. Manakah yang lebih bergensi status Unescof atau status new7wonders. Sebenarnya apapun status yang disandang bila promosi tidak digalakkan apalah artinya status. Karena promosi yang kurang, status bergengsi dari Unesco saja jarang diketahui oleh sebagian besar masyarakat bangsa Indonesia dan dunia Internasional.Lembaga New7Wonders adalah lembaga swasta yang kredibiitasnya harus lebih diteliti lebih jauh. Bahkan di negaranya sendiripun alamatnya tidak jelas, masyarakat dan media di negara Swisspun bahkan tidak mengenal lembaga yang miosterius itu. Bahkan gaung promosi di negara asal lembaga itu juga tidak pernah ada. Di tengah menggeloranya dukungan terhadap komodo 9818 timbul sejumlah kontroversi tentang misteri dan kepentingan lembaga nes7wonders dibalik kompetisi ini. Melihat kontroversi tersebut bangsa Indonesia termasuk para tokoh masyarakat harus jeli dan cermat dalam semua kegiatan yang dilakukan Lembaga New7Wonders. Memang bisa saja niat baik para pendukung Komodo 9818 ini akan membantu pariwisata Indonesia. Tidak ada yang berhak melarang setiap upaya yang mempromosikan Komodo di dunia Internasional. Tetapi melihat misterius, kredibilitas lembaga New7Wonders, dukungan membabi buta dalam pembelaan terhadap lembaga dan ketertutupan masalah dana dan jumlah “vote” tampaknya sulit dielakkan bahwa lembaga tersebut bukan lembaga non-profit dan berbau bisnis.Selain penyelenggara tidak transparan dalam menjelaskan bagaimana cara mereka menghitung dukungan. Beban urusan finansial yang dibebankan N7W kepada negara peserta sangat fantastis. Panitia harus membebankan biaya sponsor platinum mencapai $350 ribu, dua biaya sponsor emas dengan total $420 ribu, mensponsori tur dunia dengan menerima kunjungan delegasi, menyediakan perjalanan balon udara, penerbangan, akomodasi, kunjungan wartawan, biaya $1 juta dolar bagi penyedia layanan telepon untuk berpartisipasi dalam kampanye New7Wonders dan $1 juta lagi agar maskapai suatu negara peserta bisa menempelkan logo New7Wonders di pesawat-pesawat mereka.Pengalaman buruk dengan pihak N7W ketika Indonesia menyetujui sebagai tuan rumah dengan liscense fee sebesar 10 juta dolar AS. Tettpi timbul permasalahan ketika pada Desember 2010 Yayasan New Seven Wonder menyatakan menyetujui Indonesia (Jakarta) sebagai Tuan Rumah Penyelenggaraan (Official Host) Deklarasi 7 Keajaiban Dunia Alam (New7Wonders of Nature). Syaratnya, Indonesia mesti membayar license feese dan biaya penyelenggaraan mencapai US$ 45 juta. Indonesia dalam hal ini Kembudpar menolak. Tetapi Yayasan N7W balik mengancam akan mengeliminasi TN. Komodo dari finalis New7Wonders of Nature.Kalaupun klaim jumlah 1 milyar SMS yang diberikan oleh masyarakat dunia, apakah berdampak langsung terhadap kepentingan promosi Komodo. Karena, masyarakat di suatu negara pasti hanya akan melihat nama tempat yang diunggulkan di negaranya tetapi jarang melihat nama lainnya yang dinominasikan. Demikian juga masyarakat Indonesia pasti hanya mengenal Komodo sebagai salah satu finalisnya tanpa mengetahui finalis lainnya. Bila di negaranya sendiri di Swiss saja gema promosi New7 Wonder tidak bergaung apakah bisa diharapkan gema promosi terdengar di seluruh dunia. Status Unescof VS Status New7Wonders Lembaga swasta itu mengadakan kompetisi ini ternyata tidak berkaitan dengan lembaga resmi UNESCO di bawah PBB. Sebenarnya UNESCO sudah menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Dalam kaitan kegiatan lembaga tersebut, UNESCO menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan dengan penetapan Situs-Situs Warisan Dunia sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh lembaga New7Wonders. Ternyata UNESCO juga sering diajak bekerjasama oleh organisasi itu, tapi selalu menolak. Bahkan UNESCO mengatakan bahwa penetapan Unesco adalah bedasarkan data ilmiah dan proses penelitian dan pengamatan profesional sehingga menghasilkan daftar situs-situs Warisan Dunia. Tetapi penetapan satatus oleh lembaga lembaga New7Wonders. hanya berdasarkan popularitas dan terselubung berbau kepentingan bisnis lembaga itu.Memang nantinya bila menang maka keuntungannya Komodo mempunya status sebagai New Seven Wonder of Nature. tetapi bila sudah mempunyai status seperti itu lantas apakah bisa membantu pariwisata Indonesia bila tidak ditindaklanjuti dengan promosi berikutnya. Padahal Komodo sudah mempunyai status yang lebih kredibel dan diakui dunia melalui lembaga resmi dan kredibel. Taman nasional Komodo sejak dua puluh tahun yang lalu juga telah ditetapkan oleh UNESCO World Heritage Committee masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia (The World Heritage Sites). Status yang sebenarnya sangat bergengsi itu seharusnya dikelola dengan baik dalam promosi pariwisata komodo di dunia Internasional. Mengapa status yang sudah jelas tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik tetapi bangsa ini harus mengejar lagi sebuah status yang kredibilitasnya masih diragukan. Bahkan promosi yang baik tampaknya belum pernah dilakukan karena banyak bagian masyarakat bangsa ini tidak menyadari bahwa Komodo sudah 20 tahun diberi gelar terhormat oleh Unicef.Bila bangsa ini tidak terpedaya oleh jeratan kepentingan bisnis lembaga tersebut tidak masalah bila menguntungkan bangsa ini. Tetapi bila semua kegiatan ini hanya demi kepentingan bisnis tanpa ada dampak berarti bagi bangsa ini maka sangat disayangkan. Sebaiknya bangsa ini harus menghitung untung rugi dan manfaat dibanding biaya yang dikeluarkan hanya untuk mengejar sebuah status Komodo New 7 (Seven) Wonders of Nature. Benarkah dengan adanya status baru yang akan dikejar selama ini dapat menambah manfaat bagi komodo dan masyarakat NTT khususnya seperti yang digembar-gemborkan para tokoh selama ini. Berbagai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa untuk menjadi pemenang panitia mensyarakan biaya yang luar biasa besar hanya untuk menyandang sebuah status tersebut. Apakah tidak sebaik dipikirkan lebih cermat bahwa biaya yang luar biasa besar itu untuk dijadikan biaya promosi sendiri dan untuk membiayai sarana TN Komodo agar lebih menarik dan dikenal masyarakat dunia. Ternyata masyarakat dan para tokoh tidak disadari mulai masuk dalam jebakan Lembaga New7Wonders untuk meraih sebuah status yang akhirnya nantinya dibebani biaya yang luar biasa. Apakah masyarakat dan pemerintah tidak berkaca dengan pengalaman sebelumnya ? Mudah-mudahan semua niat baik masyarakat untuk mendukung Komodo tidak menjebak bangsa ini untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar hanya mengejar sebuah status. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, hanya untuk sebuah status Komodo, New Seven Wonder of Nature, bangsa ini harus mengeluarkan puluhan juta dolar. Sebenarnya membandingkan status Unesco vs Status New7Wonders bukanlah hal terpenting. Yang terpenting adalah menggelorakan promosi untuk mengenalkan komodo kepada masyarakat dunia. Status Unesco yang bergengsi saja jarang dimanfaatkan. Apakah nantinya status New Seven Wonder of Nature yang mengorbankan biaya besar itu juga akan mubazir tanpa ditindaklanjuti promosi yang baik.