Mohon tunggu...
Samintang
Samintang Mohon Tunggu... Penulis - Try to be useful person for many people. Get success and don't forget to succeed others.

Accounting Department Unhas '19 | Coordinator of Edutainment Division SCI | SGDs Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur

Transformasi Ekonomi Sirkular Berbasis Agroindustri Kelapa Terpadu Zero Waste (6F = Food, Feed, Fiber, Fuel, Farmacy, Finance) di Sulawesi Tenggara

4 Agustus 2022   17:25 Diperbarui: 4 Agustus 2022   20:53 194 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Manajemen Agroindustri - Bioenergi Kelapa Terpadu/dokpri

Sulawesi Tenggara dengan julukan “Bumi Anoa” adalah salah satu surga pertanian di Indonesia yang memiliki 12 komoditas tanaman perkebunan unggulan yang memiliki potensi ekspor, salah satu di antaranya adalah kelapa (mencakup produk turunannya seperti kopra, serabut, hingga tepung kelapa/descoated coconut). 

Kelapa (Cocos nucifera L) sebagai “The Tree of Life” adalah komoditas unggulan yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara baik dalam tataran sosial, ekonomi, dan lingkungan.  

Kelapa sebagai komoditas prioritas juga dikembangkan melalui Gerakan Peningkatan Produktivitas, Nilai Tambah dan Daya Saing (GRASIDA), dan Gerakan Tiga Lipat Ekspor (GRATIEKS) pada tahun 2024 mendatang. 

Perkebunan kelapa di Sulawesi Tenggara diperkirakan mencapai 59.664 hektar pada tahun 2020, dengan total hasil 41.028 ton. Komoditas pertanian tradisional seperti kopra, minyak kelapa, lalapan, dan lain-lain dapat diproduksi di industri komoditas pertanian (BPS Sulawesi Tenggara 2021).

Kabupaten Konawe Kepulauan memiliki 4.809 hektar lahan kelapa di Sulawesi Tenggara. Kabupaten Konawe adalah salah satu daerah penghasil dan keluaran kopra utama di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kepulauan Konawe menghasilkan 2.195 ton kelapa pada tahun 2020. 

Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) khususnya hingga saat ini masih berpeluang mempertahankan sebagai salah satu kabupaten yang memiliki areal perkebunan yang luas khususnya tanaman kelapa dalam/lokal (tall coconut) ataupun kelapa hybrida (hybrida coconut).

Tanaman kelapa lokal mencapai 4.954 hektare yang tersebar pada 25 wilayah kecamatan di Konsel dengan jumlah petani yang terlibat dalam perkebunan itu sebanyak 15.658 orang. 

Selain perkebunan kelapa lokal yang sudah berproduksi puluhan tahun, juga kelapa hybrida yang mulai dikembangkan di era  tahun 90-an itu berjumlah 2.102 hektare yang tersebar pada 5-7 kecamatan, wilayah Konawe Selatan kini menjadi daerah penghasil kopra terbesar dibanding kabupaten kota di Sultra. 

Tanaman kelapa lokal yang dikembangkan masyarakat  di Konawe Selatan itu produksinya baru mencapai 3.650 ton sekali panen dengan rata-rata produksi dalam hektare mencapai 700- 900 kilogram per sekali musim panen (Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, 2021).

Di samping potensi, terdapat beberapa problematika yang dialami oleh petani setempat seperti petani kelapa di Kabupaten Kepulauan Konawe hanya mengolah kelapa dalam bentuk kopra dengan cara manual atau tradisional yang telah diturunkan secara turun temurun, maka kondisi tersebut tidak dapat dihindari dan akhirnya digunakan sebagai ukuran keberhasilan dan kesejahteraan mereka (Herdhiansyah et.al, 2021). Permasalahan utama yang juga dihadapi petani di Pulau Wawonii ini adalah usia pohon kelapa rata-rata berada di usia tua (Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Konawe, 2019). Kegiatan pemetikan buah pun dilakukan dengan cara memanjat pohon dengan menggunakan parang sebagai alat pemetik, kegiatan pengangkutan buah kelapa dilakukan dengan membawa menggunakan keranjang sebagai alat pengumpul, kegiatan pemetikan kelapa dilakukan secara manual menggunakan pombungi sebagai alat pengupas buah, dan biji kelapa. Kegiatan pembelahan dilakukan secara manual dengan menggunakan pombungi sebagai pengupas buah. untuk mengeluarkan daging dari tempurung kelapa (Herdhiansyah et.al, 2021).

Selain itu, di Kabupaten Kolaka Timur, lebih banyak kelapa yang dijual langsung sebagai hasil pertanian, masih sedikitnya bentuk agroindustri kelapa, akses permodalan terbatas, dan mayoritas petani mengandalkan modal usaha dari keuntungan usaha sebab kelapa masih dikelola secara tradisional (Herdhiansyah, D., Alwi, L. O., & Asriani, 2022).  Pada sektor pertanian, subsektor tanaman perkebunan rakyat memberikan kesejahteraan paling rendah dibanding subsektor lainnya. Harga produk kelapa sawit, kelapa, kakao, merica, kacang mete Sultra masih di bawah biaya produksi dan biaya hidup yang harus dikeluarkan petani. Di sisi lain, luas lahan pertanian yang dimiliki petani sektor perkebunan rakyat belum memenuhi skala ekonomis (Kajian Fiskal Regional Triwulan II, 2021).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan