Mohon tunggu...
sampe purba
sampe purba Mohon Tunggu... Insan NKRI

Insan NKRI

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Membaku Bukukan Pelaksanaan Prosesi Adat

10 Desember 2017   09:41 Diperbarui: 10 Desember 2017   09:50 0 1 0 Mohon Tunggu...

Membakukan Pelaksanaan Prosesi Adat tidak mudah. Ada berbagai alasan subjektif dan objektif. Beberapa di antaranya adalah satu, tidak ada satu otoritas tunggal yang dapat mendiktekan mana pelaksanaan adat yang benar. Lain lubuk lain ikannya, lain belukar lain belalangnya. Masalah Parjambaran dan posisi para pemangku jambar saja misalnya, beda di daerah Humbang dengan di daerah Toba Holbung. Dua,  diperlukan fleksibilitas dan penyesuaian dengan melihat situasi dan kondisi hasuhuton serta lingkungan adat setempat. Tiga, dapat dianggap mengekang kreativitas, serta membuat pelaksanaan adat itu menjadi kering, boring dan formalitas.  Orang-orang muda akan kehilangan kegairahannya untuk belajar menjadi Parsinabung misalnya. Sementara orang-orang tua (yang umumnya sudah purna tugas resmi) menjadi kehilangan panggung untuk menunjukkan taji dan keterampilan dalam berpepatah pepitih dan sastra lisan umpasa Batak dan kontemporer. Mereka jadi kurang diwongke, kurang dianggap, dan pelan pelan kehilangan peran penting sebagai Raja Sisukkunon -- Raja Panukkunan.

Terlepas, apapun alasan di atas, saya kira kita harus mengikuti zaman. Zaman sekarang ini, interaksi sosial sudah sedemikian cair, lintas suku, profesi dan sebagainya. Faktor durasi menjadi penting.  Pelaksanaan prosesi adat yang tidak dapat diukur durasinya akan mengganggu. Di Kota-kota misalnya, ada dua tiga resepsi pernikahan dalam satu hari libur yang harus dihadiri. Kalau pelaksanaan adat Batak -- adat na gok berlangsung seharian hingga larut malam, itu akan dapat menghalangi kita menghadiri kondangan lainnya. Kedua, gedung juga terbatas waktu pemakaiannya. Pemakaian gedung pertemuan umum yang melebihi batas waktu akan dikenakan charge tambahan. Salah satu yang membuat mahal sewa gedung pertemuan umum (khususnya untuk adat Batak di kota-kota) adalah karena utilitasnya yang rendah. Gedung-gedung tersebut maksimum hanya satu atau dua kali dalam seminggu dapat digunakan. Beda dengan gedung umum, yang dalam satu hari Sabtu misalnya dapat dipakai dua kali, untuk acara siang dan malam, karena durasi pemakaiannya firm untuk 4 jam.  Tiga, para pemangku pelaksana adat yang sekarang (terutama di kota-kota) adalah mereka yang masih lahir di daerah Bona Pasogit. Dalam 10 - 20 tahun ke depan, generasi tersebut akan surut dan mulai habis.Sementara generasi muda, yang lahir di perkotaan tidak  meminati atau memiliki ketrampilan untuk jadi Parsinabung. Akankah quo vadis pelaksanaan adat itu ?

Untuk itu, adalah penting dibakukan dan digunakan buku panduan. Buku panduannya dapat dibuat dalam dua tiga versi. Dibacakan saja seperti responsoria antara Raja Parhata/ Parsinabung Paranak dan Parboru serta Pihak-pihak yang mengambil bagian dalam Jambar Hata. Seperti buku Panduan Martumpol, atau Agenda di Huria, bukankah juga diikuti secara baku. Tokh tidak mengurangi makna dan hikmahnya bukan ?.

Berikut ini, contoh satu sambutan mewakili kedua hasuhuton dalam Pesta Resepsi yang Penulis bacakan baru baru ini (durasi 5 menit). Pada pagi harinya telah dilaksanakan upacara gereja dan adat terbatas pada lingkungan pemangku adat (stakeholders) utama.

Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita sekalian,

Bapak/ ibu para tamu undangan  yang kami cintai dan hormati, perkenankan kami atas nama kedua keluarga, orang tua mempelai wanita (bp. Ir. ABC, MM/ ibu DEF, SE) dan mempelai pria (mr. PQR/ mrs. Ing. XYZ), serta kedua Pengantin, menyampaikan selamat datang, dan menghaturkan terima kasih atas kehadiran dan doa restu yang diberikan kepada kedua anak kami. Kehadiran Bapak/ ibu melengkapi kebahagiaan kami sebagai orang tua dalam mengantarkan anak anak ini membentuk suatu keluarga baru, disertai doa kiranya mereka tetap dalam naungan kasih kemurahan  Tuhan meraih kebahagiaan mengarungi rumah tangganya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada  semua pihak yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan hajatan ini, wedding organizer, pihak hotel, Panitia, dan Pimpinan Jemaat yang telah memimpin penyelenggaraan kebaktian pentahbisan nikah kudus tadi pagi, serta kepada seluruh kerabat, tondong -- sisolhot dan ale-ale yang telah sama sama melaksanakan  acara adat tradisi kita Batak Toba.

Bapak/ ibu yang kami hormati, izinkan kami pada kesempatan ini menyampaikan sepatah dua kata kepada kedua mempelai,  anak-anak kami, yang dalam waktu tidak lama akan meninggalkan kami orang tua di Indonesia, untuk bermukim di Prague, Czech Republic

To our beloved daughter  Boru Hasian, SE, BSc and son-in-law  Mr. Handsome Jokovics, MSc.:

You two will soon start a new life. Our daughter  grew up in eastern society under the Batak custom and culture.  Today this morning, all close related functional relatives has officially accepted mr. Jokovics as member of our community in Batak family, symbolized by the ULOS awarded.

There is a highly regarded foundations of kinship in the noble tradition of  Batak people, known as the dalihan na tolu (the triangle stone stove pillar). First, mr. Jokovics  as our son-in-law should treat us -- ABC Family -  with love and respect as your parents hula-hula (bride giver). Second, You should also  pay mutual attention and maintain good relation to other extended relatives that already embrace you as their siblings here.  Third, we and the whole clan of ABC -- in return - will regard you as boru/ son-in-law, with passion, affection and  love.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x