Mohon tunggu...
Sam Elqudsy
Sam Elqudsy Mohon Tunggu... pegawai negeri -

bukan penulis fiksi, karena tak bisa menjiwai tanpa pernah mengalami..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Zeid, Musa dan Nabi Khidhir

22 September 2015   12:44 Diperbarui: 22 September 2015   12:44 60
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Hampir setiap pagi, sebelum berangkat kerja ke Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara, Saya menyempatkan diri menonton highlight berita olahraga terutama sepakbola di kanal Beritasatu. Salah satu segmennya adalah cuplikan tayangan Football Inside yang kadangkala menampilkan analis sepakbola Maruf El Rumi. Topik Football Inside tadi pagi adalah cuplikan tayangan pengungsi Suriah yang menjadi pendamping mahabintang sepakbola Cristiano Ronaldo. Terlihat Zeid, nama bocah itu, demikian gembira.

Lepas highlight Sepakbola, biasanya channel Saya pindah ke acara lain. Setelah berputar kesana kemari, Saya berhenti di channel TransTV sekilas menyimak Islam Itu Indah, Oki Setiana Dewi sedang berkisah tentang Musa dan Khidhir. Kisah ini tentunya sudah sering Kita dengar, tapi supaya tulisan ini jadi agak panjang Saya ceritakan kembali sedikit tentangnya.

Dalam sebuah perjalanan, Musa meminta kepada Nabi Khidhir untuk bersedia menjadi guru Beliau, kalau jaman sekarang mungkin semacam mentor. Nabi Khidhir bersedia, namun dengan syarat Musa tidak boleh berkomentar terhadap apapun yang dilakukannya. Nabi Khidhir memang dianugerahi kemampuan melihat sesuatu secara lebih komprehensif, menguasai pengetahuan masa lalu dan masa depan. Meminjam tagline sebuah situs jual beli online, klik, ketemuan, deal, maka Musa menerima syarat itu.

Peristiwa pertama, Nabi Khidhir membunuh seorang bocah. Melihat kejadian itu, Musa langsung bergejolak, protes. "Wahai Nabi Khidhir, mengapa Engkau membunuh anak kecil yang tidak berdaya itu? Tidakkah Engkau kasihan kepadanya dan orang tuanya?" Nabi Khidhir menjawab, bukankah sudah Aku katakan supaya Engkau diam dan jangan berkomentar atas tindakanku?" Jawab Khidhir. Terbit SP 1 untuk Musa.

Peristiwa kedua, Khidhir tiba-tiba menegakkan sebuah dinding yang hampir roboh. Musa menganggap hal ini sebagai kesia-siaan dan buang waktu saja karena disitu dilihatnya tidak ada siapapun sebagai penghuni. Kartu kuning pertama keluar dari kantong Wasit.

Dan pada peristiwa ketiga, saat melintas di tepi lautan, tiba-tabi Khidhir melubangi perahu seorang nelayan miskin. Kembali Musa yang memang terkenal sebagai pembela kaum tertindas protes kepada Nabi Khidhir. Kartu kuning kedua sekaligus kartu merah diberikan pada Musa. Selesai sudah. Game over. Keduanya kemudian sepakat untuk berpisah secara baik-baik.

Selepas itu, Khidhir lalu memberikan penjelasan atas tindakannya kepada Musa. Pertama, soal pembunuhan. Nabi Khidhir menjelaskan bahwa kelak jika dewasa anak itu akan sangat durhaka kepada kedua orang tuanya, sehingga dibunuh. "Allah akan mengganti dengan anak lain yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya," jelas Khidhir.

Kedua, dinding yang hendak roboh ditegakkan kembali karena dibawahnya tersimpan peninggalan berharga dari orang tua untuk anak yatim pemilik dinding itu. Jika dinding itu roboh, warisan yang ada dibawahnya akan diperebutkan oleh orang yang tamak dan serakah sehingga anak yatim pewaris sahnya tidak memperoleh bagian apapun. Musa bertanya, "Lalu mengapa kapal milik nelayan miskin justru Engkau lubangi?" Khidhir menjelaskan bahwa di seberang lautan sana, ada penguasa lalim dan serakah yang tidak senang melihat rakyatnya sejahtera, dia akan merebut kapal-kapal nelayan yang bagus untuk dipakainya sendiri. Sementara kapal rusak akan dibiarkan. "Kita berpisah sampai disini, selamat jalan semoga sukses mengemban amanah berikutnya," pungkas Khidhir.

Jawaban Nabi Khidhir yang menjelaskan tindakannya sesungguhnya masih menyimpan misteri, mengandung jutaan hikmah yang harus Kita gali dan telusuri lebih dalam. Bukan sekedar supaya Kita tidak asal berkomentar atas keputusan dan tindakan orang lain jika Kita tidak tahu.

Apakah anak kecil yang dibunuh itu benar-benar dibunuh secara fisik ataukah ada makna lain misalnya bahwa itu adalah perlambang sifat negatif yang harus dikikis sejak dini karena jika dibiarkan akan menjadi penyebab kerusakan di masa mendatang? Atau bisa jadi ada hikmah lain yang tersimpan.

Benarkah bahwa dinding yang roboh itu adalah dinding bangunan yang memang ada secara fisik dan warisan yang tersembunyi dibawahnya adalah harta benda? Atau mungkinkah maksud Nabi Khidhir adalah bahwa dinding itu adalah nilai luhur sebuah peradaban, persatuan kesatuan ummat/ sebuah bangsa yang hendak rubuh harus ditegakkan dan dikokohkan kembali sehingga warisan berupa kekayaan alam sebuah bangsa tidak dijadikan bancakan oleh bangsa lain yang tamak dan serakah. Jangan-jangan anak yatim adalah Kita semua, umat Islam yang saat ini seperti buih? Benarkah kapal dalam kisah ketiga memang sebuah kapal nelayan ataukah ada makna lain dari kisah tersebut?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun