Samdy Saragih
Samdy Saragih lainnya

"Menjadi pintar dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, membaca. Kedua, berkumpul bersama orang-orang pintar." Di Kompasiana ini, saya mendapatkan keduanya!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tentang Abu Hanifah

28 Oktober 2012   13:00 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:17 457 0 0

Teroris kembali jadi sorotan. Kemarin Densus 88 menangkap sepuluh tersangka teroris di beberapa tempat yang berbeda. Seperti biasa, MetroTV dan TVOne membuat "Breaking News". Pada berita berjalannya MetroTV tertulis bahwa salah satu tersangka dari kelompok HASMI itu bernama Abu Hanifah.

Tiba-tiba saya teringat tentang seseorang yang juga Abu Hanifah. Tapi ini bukan Abu Hanifah yang (terduga) teroris itu, melainkan salah seorang tokoh peristiwa sejarah Indonesia yang hari ini kita peringati: Sumpah Pemuda. Abu Hanifah adalah satu dari puluhan pemuda Indonesia yang menghadiri salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia tersebut.

Abu Hanifah lahir di Padang Panjang, sekampung dengan Sutan Syahrir, pada 6 Januari 1906. Dia menempuh pendidikan menengah di ELS dan melanjutkan pendidikan ke Stovia, Jakarta. Pada masa inilah dia aktif di Jong Sumatra. Seperti kita ketahui, Jong Sumatra adalah salah satu organisasi pemuda daerah yang ikut dalam Kongres Pemuda 26-28 Oktober 1928. Salah satu tokoh Jong Sumatra, Muhammad Yamin, menjadi sekretaris Kongres Pemuda.

Lulus dari sekolah kedokteran, Abu Hanifah memilih bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda. Sembari menjadi dokter rumah sakit, Hanifah terus menggeluti hobi tulis-menulis sastra. Pada masa pendudukan Jepang, dia dikenal dengan nama samaran El Hakim.

Setelah Indonesia merdeka, Abu Hanifah bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat.  Kiprah politiknya dimulai di Masyumi, partai yang didirikan sebagai wadah aspirasi umat Islam. Ia menjadi pengurus bersama-sama tokoh Islam lain seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Anwar Cokroaminoto, dll. Karena posisinya ini, ia dipercaya untuk memimpin fraksi Masyumi di KNIP (DPR saat itu).

Selain di parlemen, Abu Hanifah juga sempat menduduki jabatan eksekutif. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disandangnya selama Indonesia berbentuk negara serikat, Republik Indonesia Serikat. Umur RIS yang pendek membuat dia hanya sebentar berada dalam posisi itu. Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan pada Agustus 1950. Abu Hanifah kemudian melanglang buana ke luar negeri. Ia terpilih sebagai anggota eksekutif Unicef pada tahun 1951. Setelah itu ia ditugaskan ke Brasil, sebagai duta besar Indonesia di sana.

Barangkali sedikit saja yang tahu bahwa Abu Hanifah adalah saudara kandung dari Usmar Ismail. Yang terakhir ini memang lebih familier di telinga orang sebagai sutradara film legendaris Indonesia. Walau abangnya Masyumi, Usmar Ismail kemudian bergabung dalam Lesbumi, onderbouw Partai NU yang membawahi bidang seni dan kebudayaan. Ini lebih taktik belaka karena Masyumi sudah dibubarkan pada tahun 1960. Hanya Partai NU-lah satu-satunya partai Islam yang diakui pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965).

Sebagaimana lazimnya seorang Minang yang sukses, dia dianugerahi gelar adat, Datuk Maharaja Emas. Dalam usia tuanya, dia masih sempat menulis buku Tales of Revolution (1972). Buku ini adalah salah satu buku tentang revolusi Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang asli Indonesia. Delapan tahun kemudian, tepatnya 4 Januari 1980, Abu Hanifah wafat. Jasadnya terkubur di Perkuburan Karet, Jakarta.