Mohon tunggu...
Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto Mohon Tunggu... Jurnalis - Hobi membaca dan menulis

Mukim di Kebumen. Karya tulisnya tersebar di berbagai media cetak dan online, lokal hingga nasional seperti Kompas Anak, Republika, Jawa Pos, Koran Jakarta, Radar Surabaya, Radar Bromo, Radar Banyumas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Minggu Pagi, Lampung Post, Analisa, Bangka Pos, Kartini, Nova, dll.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengobati Penyakit Hati

14 Agustus 2018   13:38 Diperbarui: 14 Agustus 2018   13:47 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hati merupakan organ paling penting dalam tubuh manusia karena menjadi sumber perilaku. Terkait hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Ketahuilah bahwasannya pada tubuh manusia ada segumpal daging, jika daging itu sehat, akan sehatlah seluruh tubuhnya. Namun apabila ia rusak, akan rusak pula seluruh tubuhnya. Bukankah segumpal daging itu adalah hati?"

Hampir semua tradisi agama-agama di dunia menekankan pentingnya kondisi hati. Hati yang bersih dipahami sebagai hati yang bebas dari kerusakan akhlak dan noda-noda ruhani. Yang dimaksud hati di sini sebenarnya adalah dalam makna ruhaniah, bukan organ jasmaniah, walaupun di dalam tradisi Islam, hati ruhaniah ini berpusat di organ jantung (hal 13).

Hamza Yusuf dalam buku ini menguraikan bahwa hati tercipta dengan sifat rentan terhadap kecemasan dan kegelisahan. Mereka yang terlindungi dari keadaan ini adalah orang-orang yang suka menegakkan dan menjaga shalat dengan hati khidmat dan terbuka, yang selalu terhubung dengan Allah, Tuhan semua makhluk.

Orang-orang yang memiliki perangai atau perilaku yang buruk, misalnya para penjahat, orang yang kikir, para penganiaya, orang yang gemar adu domba, pencela, koruptor, dan pembenci, menandakan bahwa mereka sedang terserang penyakit hati yang akut. 

Lain halnya jika hati dalam kondisi sehat, maka mereka tentu tidak akan mungkin mau melakukan tindakan-tindakan buruk yang jelas-jelas merugikan orang lain dan juga diri sendiri (hal 21).

Suka menghina orang lain, juga termasuk bagian dari penyakit hati. Tidak hanya menghina, tetapi mengejek orang, membuat lelucon dengan mengorbankan mereka, juga termasuk penyakit hati yang kerap menjangkiti hati banyak orang. 

Salah satu cara agar kita bisa terbebas dari penyakit tersebut adalah dengan merenungi ayat Al-Qur'an, Surat Al-Hujurat ayat 11, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)..." (hal 213).

Dari ayat tersebut kita dapat belajar banyak untuk saling menghormati orang lain, tidak mudah berburuk sangka, dan jangan mudah menilai (atau menganggap sebelah mata) orang lain hanya dari tampilan luarnya saja. Jangan sampai kita terlalu menuntut orang lain untuk berubah, sementara kita sendiri sangat sulit untuk mengubah kebiasaan atau sifat-sifat buruk kita.

Menurut Hamka Yusuf, jika kita ingin mengubah dunia, maka jangan memulainya dengan memperbaiki yang ada di luar. Alih-alih, kita harus mengubah keadaan batin kita. Karena segala yang terlihat dari luar diri kita, pada hakikatnya datang dari dalam diri (hati) kita.

Melalui buku ini, pembaca dapat mengetahui secara lebih detail tentang ragam penyakit hati dan cara mengobati dan mengantisipasinya.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun