Mohon tunggu...
Nur Sakinah
Nur Sakinah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa-Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta

Membaca dan mendengarkan musik.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Ketergantungan Energi antara Uni Eropa-Rusia selama Konflik Rusia-Ukraina

6 Oktober 2022   00:38 Diperbarui: 6 Oktober 2022   00:54 389
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Rusia merupakan produsen dan pengekspor utama minyak dan gas alam. Ekonomi Rusia sangat bergantung pada ekspor energi. Fokus dan keseriusan Rusia dalam pemanfaatan sumber daya energi telah menjadikan Rusia sebagai negara adidaya energi. Negara ini menggunakan tenaga gas sebagai alat politik baru untuk memulihkan pengaruhnya yang hilang.  

Dengan  menggunakan kepemilikan sumber daya alam yang sangat banyak dan memiliki banyak cadangan serta tingkat swasembada yang tinggi. Adanya kekuatan tersebut, Rusia mulai menegaskan  bahwa ia mempunyai posisi yang penting.  

Pada dasarnya Rusia menjadi alternatif mitra strategis bagi negara-negara dunia di bidang energi. Tetapi, Rusia juga mengambil keuntungan dari kekuasaannya atas kepemilikan sumber daya alam  ini.  Tidak hanya menjadi upaya menjalin kemitraan strategis namun juga berkaitan dengan  hubungan Rusia dengan Eropa mengingat selain Eropa adalah mitra perdagangan Rusia, Rusia juga memiliki kepentingan geopolitik di Eropa, berdasarkan pada negara-negara bekas Uni Soviet khususnya di Eropa Timur.

Rusia mengambil semua langkah yang diperlukan untuk meningkatkan produksi energi guna merevitalisasi perekonomian serta politik. Kekuatan energi tersebut mencakup dua hal. 

Pertama,  ketersediaan  sumber daya alam  serta akses teknologi dan akses ke sumber energi dalam dan luar negeri yang sesuai. Kedua, kemampuan karyawan untuk mengelola teknologi canggih ini dengan gas dan energi ini  akan mulai meningkatkan ekonomi Rusia. 

Tidak ada keraguan bahwa Rusia memiliki cadangan energi yang sangat besar serta penguasaan energi mempunyai  kemampuan untuk digunakan sebagai kekuatan dalam  kancah dunia politik internasional. Sehingga adanya  peluang besar untuk Rusia memperluas perannya dalam keseimbangan energi global.

Adanya konflik antara Rusia dan Ukraina atas kepemilikan teritorial Krimea menyebabkan  hubungan antara Rusia sebagai pengekspor gas alam ke Uni Eropa mengalami gangguan. Dimana pada tahun  2014-2016 adanya pembatasan akses terhadap pasar modal Uni Eropa, pelarangan eskpor ke negara-negara Uni Eropa dan adanya pemberlakuan embargo militer. Sehingga bersama dengan Amerika Serikat, Uni Eropa serta beberapa negara lain, memberlakukan sanksi kepada Rusia yang menargetkan sektor keuangan dan energi. Meskipun telah diberikan sanksi, Tanggapan Rusia pada awal Agustus 2014 sama sekali tidak membawa sebuah perubahan terhadap sikap politiknya pada kawasan Krimea.

Sebuah ketergantungan ini terkhusus pada negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa, pada ketersediaan gas Rusia cukup besar sehingga lebih dari sepertiga konsumsi seluruh kawasan dipasok oleh Rusia.  Negara Jerman salah satu kekuatan utama NATO, bergantung pada Rusia untuk lebih dari 50% pasokan gasnya, menurut data ketergantungan energi Rusia (Wilkes et al.,2022). Negara Prancis serta Italia juga mengalami ketergantungan pada pasokan gas Rusia, masing-masing mengimpor 25% dan 49% dari total konsumsi gas negara tersebut.

Sengketa harga antara Rusia dan Ukraina menyebabkan krisis gas di Eropa, masing-masing bertindak sebagai pengirim dan distributor. Karena konflik Rusia-Ukraina menyebabkan pasokan gas alam kebanyakan negara Eropa Timur yang bertetangga dekat pada Rusia dan  ketergantungan sepenuhnya pada Rusia untuk pasokan gas, seperti Kroasia, Hungaria, Rumania, Yunani, Turki, Bulgaria, Bosnia-Herzegovina mengalami penghentian dan pengurangan secara esktrem pengiriman terhadap negara lain yaitu Jerman, Prancis, Austria, Italia dan Polandia. Krisis gas di Rusia dan Ukraina dikarenakan timbulnya perbedaan harga gas dan tuduhan Rusia bahwa Ukraina mencuri gasnya yang mengalir melalui pipa gas di Ukraina. Karena tidak munculnya kesepakatan antara Rusia dan Ukraina sehingga pada 1 Januari 2006, Rusia berhenti memasok gasnya.

Ketergantungan energi Uni Eropa terhadap Rusia menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam penentu kebijakan keamanan dan merespon agresi Rusia di Ukraina. Sementara itu, impor Rusia juga bergantung pada pembelian energi dari negara-negara Eropa, di mana lebih dari 70% ekspor gas Rusia dikirim ke negara-negara Eropa melalui pipa gas. 

Oleh karena itu, dalam praktiknya hubungan perdagangan kedua negara saling memberi keuntungan dari sudut pandang komersial, tetapi dari sudut pandang politik Rusia bahwa beberapa negara di NATO cukup besar terlihat ketergantungan energinya, sehingga Rusia dapat memiliki daya tawar tersendiri dalam menjalankan politik luar negeri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun