Mohon tunggu...
Firman Saefatullah
Firman Saefatullah Mohon Tunggu... Penulis adalah pegiat demokrasi dan pendidikan, bergabung dalam IED Institute for Election and Democracy

Lulusan Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengajar Itu Rekreasi yang Indah (Warisan untuk Dunia Pendidikan Almarhum Mbah Moen)

8 Agustus 2019   09:41 Diperbarui: 8 Agustus 2019   15:59 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mengajar Itu Rekreasi yang Indah (Warisan untuk Dunia Pendidikan Almarhum Mbah Moen)
20190808-112045-0000-5d4ba74f0d82304a326683a2.png

"Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga". (KH. Maimun Zubair/Mbah Moen)

Kutipan penuh hikmah di atas, yang diungkapkan oleh seorang guru yang telah berpengalaman puluhan tahun mengajar ribuan anak didik, menarik penulis untuk menela'ah lebih dalam tentang bagaimana tugas kita sebagai seorang guru dan relevasinya dengan tantangan global di masa sekarang.

Mendidik itu Hebat

Secara normatif tugas seorang guru adalah mendidik yang diaplikasikan dengan kegiatan belajar mengajar, baik dilakukan di dalam kelas secara langsung maupun melalui pemanfaatn teknologi daring, akan tetapi KH. Maimun Zubair yang biasa di panggil mbah Moen ini mengungkapkannya dengan kata "hebat". Sebuah kata yang menggambarkan pekerjaan diluar kebiasaan.

Ketika seorang tukang bangunan mengerjakan tugasnya membuat sebuah rumah atau seorang driver mengendarai kendaraannya mengantarkan penumpang ke tempat tujuan atau bahkan seorang presiden melaksanakan tugas kenegaraannya mengunjungi daerah terluar di negaranya, hal ini mestinya sama seperti seorang guru yang menjalankan tugasnya mengajar anak didiknya di kelas.

Akan tetapi Mbah Moen, pengasuh salah satu Lembaga Pendidikan Islam (Pondok Pesantren) yang besar di Indonesia dengan ribuan anak didik (santri) yang berasal dari berbagai daerah, memandang tugas mendidik seorang guru sangat luar biasa. 

Dengan segala keterbatasan seseorang yang diamanahkan kepadanya tugas sebagai guru, tentunya mempunyai tangung jawab, bukan hanya mentransfer ilmu dari sebuah buku pelajaran kepada anak didik, bukan pula hanya sebagai jembatan penghubung antara pengetahuan yang ada di luar kelas dengan anak didik yang ada di dalam kelas.

Mbah Moen menggambarkan tugas guru bukan hanya sebatas mengajar yang dalam bahasa arab disebut ta'lim, akan tetapi harus bisa mendidik (tarbiyah). 

Seorang pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan bertanggung jawab secara holistik dan komprehensif meliputi fisik dan psikis (kejiwaan) anak didik.

Perihal mendidik, di kalangan akademisi pesantren sering menyebut guru sebagai murobbi lebih tepatnya seseorang yang melakukan pendampingan melekat, memberikan pengajaran, menjadi tauladan, membimbing anak didik melewati pengalaman kebatinan dan memberikan langkah-langkah solutif bagi anak didik.

 Seorang murobbi harus harus hadir diantara anak didik dan kondisi kejiwaaanya dalam memahami sebuah ilmu pengetahuan. Sampai digambarkan, murobbi harus juga membenarkan posisi topi seorang anak didik yang dipakainya dalam posisi miring.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3