Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Lulusan IPB Kerja di Perbankan, Memang Salah?

7 September 2017   08:40 Diperbarui: 7 September 2017   12:36 3024 7 9
Lulusan IPB Kerja di Perbankan, Memang Salah?
Presiden Joko Widodo di sidang terbuka IPB. Kompas.com

Presiden Jokowi berkesempatan menghadiri sidang terbuka Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam rangka Dies Natalis ke 54. Pada kesempatan tersebut presiden Jokowi mengeluarkan statemen mengejutkan, bahwa lulusan IPB lebih banyak bekerja di sektor perbankan bukan di sektor pertanian. 

Lulusan IPB menyebar dan berkontribusi di seluruh sektor pembangunan tidak hanya di perbankan, bahkan ada lulusan teknik pertanian, perikanan dan peternakan menggeluti dan profesional di bidang IT bahkan ada yang sukses jadi Presiden RI, Menteri, Direktur, dan jabatan-jabatan tinggi lainnya di dalam dan luar negeri. Jadi tidak benar kalau lulusan IPB hanya banyak perbankkan. Tidak masalah dengan fenomena tersebut. 

Jika ingin sektor pertanian menjadi daya tarik bagi lulusannya, maka pemerintah harus mencari solusi dan mereformasi sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan (pertanian modern). Selama ini sektor pertanian belum menjadi pilihan utama lulusan IPB karena belum prosfektif. Yang jelas lulusan IPB bisa bergerak diseluruh sektor, ini menunjukkan kampus telah melahirkan SDM yang siap tempur di setiap tempat dan situasi.

Pernyataan presiden Jokowi tersebut menjadi sorotan publik khususnya civitas akademika dan lulusan IPB. Pernyataan presiden tersebut memberikan 2 makna jika ditafsirkan secara tekstual, Pertama, lulusan IPB tidak tertarik atau berminat bekerja di sektor pertanian karena alasan tertentu, misalnya tidak prosfektif dan kurang menjanjikan sektor pertanian ke depan.

Kedua, peluang untuk bekerja di sektor pertanian kecil karena bagi lulusan S1 tidak memungkinkan menjadi petani (terjun langsung) di samping rata-rata lulusan IPB dari anak petani yang tidak memiliki luas lahan yang signifikan. Di samping itu sektor pertanian selama ini hanya berfokus pada pengelolaan sektor hulu belum memaksimalkan sektor hilir (industri pertanian) atau sering disebut hilirisasi pertanian, bahkan pada kenyataanya banyak pelaku/aktor hilir bukan lulusan pertanian yang banyak menguasai sektor perdagangan dan industri pertanian.

Dua alasan tersebut yang sangat memungkinkan fenomena kenapa lulusan IPB tidak banyak yang terjun dan menggeluti sektor pertanian, padahal seluruh fakultas, jurusan dan program studi di IPB dipersiapkan untuk kebutuhan seluruh sektor pertanian. Ini merupakan pekerjaan besar pemerintah dan tentunya tidak hanya bagi lulusan IPB, namun bagi seluruh lulusan pertanian perguruan tinggi nusantara mengalami hal yang sama, di mana lulusanya tidak selalu linier bekerjanya di sektor pertanian setelah menamatkan pendidikan tingginya. 

Pemerintah harus mencari solusi kongkrit untuk membendung lulusan pertanian yang bekerja di luar sektor pertanian. Jika fenomena ini tidak diberikan solusi, maka ada 2 kerugian yang akan menerpa yaitu pihak perguruan tinggi (PT) dan eksistensi pembangunan sektor pertanian ke depan.

Perguruan tinggi telah bekerja keras untuk melahirkan SDM-SDM yang profesional dan memiliki keahlian tertentu dengan harapan mampu berkarya di bidangnya masing-masing setelah menamatkan diri. Tentu perguruan tinggi berharap lapangan pekerjaan di sektor pertanian bisa merespon SDM-SDM tersebut untuk direkrut dan bekerja dibidangnya masing-masing, namun pada kenyataanya tidak demikian. 

Sektor pertanian kurang merespon dan memilki peluang kecil untuk mampu menampung tenaga kerja dari perguruan tinggi. Hal ini sangat memungkinkan karena perkembangan dan pertumbuhan sektor pertanian belum progresif sehingga belum mampu memberikan ruang terhadap lulusan perguruan tinggi. Dampaknya ke depan jika fenomena ini tidak di antisipasi oleh pemerintah adalah? Perguruan tinggi yang memiliki jurusan pertanian akan semakin tidak diminati oleh generasi penerus karena lulusan pertanian tidak selalu berkorelasi terhadap pekerjaan di sektor pertanian. 

Dampak berikutnya akibat semankin berkurangnya minat generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian dan sedikitnya yang bekerja di sektor pertanian, maka sektor yang paling dirugikan adalah sektor pertanian. Karena SDM-SDM terbaiknya telah meninggalkan sektor pertanian dan bekerja di sektor lain. 

Ini bukan hanya soal masalah bekerja atau tidaknya di sektor pertanian, namun melihat realita Indoensia sebagai negara agraris, banyaknya masalah di dalamnya dan tantangan ke depan sektor pertanian dibutuhkan pelaku-pelaku pertanian yang memiliki skill tinggi dan kemampuan untuk mengelola sektor pertanian secara mandiri, profesional dan modern. 

Untuk mewujudkan hal tersebut tidak memungkinkan hanya mengharapkan dari jumlah petani yang ada saat ini yang sebagian besar dari mereka rendah dari tingkat pendidikan dan kecilnya akses terhadap perkembangan teknologi. Untuk itu SDM-SDM pertanian harus hadir dan mampu memecahkan masalah sektor pertanian dari latar belakang dan bidang keilmuanya masing-masing. 

Jika sektor pertanian semakin ditinggalkan oleh SDM-SDM yang ahli di bidang pertanian, maka dalam jangka panjang sangat membahayakan sektor pertanian terutama terhadap kemajuan dan pertumbuhannya. Untuk itu kehadiran SDM-SDM profesional di sektor pertanian mendesak dan sangat diperlukan pada saat ini.

Menyikapi pernyataan presiden Jokowi dan fenomena yang dialami alumni IPB, maka pemerintah harus merespon situasi dengan serius, jika pernyataan tersebut mempertanyakan lulusan IPB tidak bekerja di bidangnya atau sektor pertanian. Pemerintah dengan melibatkan seluruh stakeholder harus mampu menciptakan dan mendesain sektor pertanian sebagai sektor utama dalam menggerakkan pembangunan dengan mendorong sektor pertanian ke arah pertanian modern/maju yang menjanjikan terhadap lulusan perguruan tinggi dari berbagai skill atau keahlian yang dimilikinya.

Selama ini yang terjadi adalah lulusan pertanian bukanya tidak mau bekerja di sektor pertanian, namun daya tampung dan ruang untuk mereka bekerja sesuai bidangnya tidak memadai dan menjanjikan. Pernyataan presiden Jokowi tersebut sekaligus membuka takbir, bahwa sektor pertanian harus mampu mengubah tampilannya tidak bisa seperti yang saat ini terlihat. 

Sektor pertanian harus mampu menjadi ruang gerak terhadap seluruh lulusan pertanian dari berbagai perguruan tinggi. Jadi, fenomena lulusan pertanian yang tidak bekerja di sektor pertanian bukan kesalahan perguruan tinggi namun lapangan pekerjaan belum berpihak dan menjanjikan untuk mereka (alumni).