H a i r i l
H a i r i l CANDU KOPI

Institut Tinta Manuru

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Aisyah dan Secangkir Rindu

15 November 2017   12:59 Diperbarui: 15 November 2017   13:01 215 0 0

"Aku tak mungkin menangisi nasibku ditengah kegelapan seperti ini" Kata Aisyah, sambil sibukkan matanya mencarita tempat untuk dirinya rebah sebentar. 

Peraduan yang mana bulankan berpulang;- seratus fajar dalam kalender dinding masih mematung. Ini waktu subuh, jutaan orang bahkan Asyik bercengkerama dengan doa mereka. 

Menunggu siapa gerangan yang bijak tempat keluhkan rindu yang sudah dipendam, dan yang maha luas menyapa dengan semangat sedikit riuh ditelinga. Oh seratus fajar, berpulanghlah pada peraduan nyata.

Gelisah pada bayang-bayang samar, takut dibentak dengan nada dingin angin sepoi-sepoi pagi ini, itulah diri seorang Aisyah.  kesehariannya diisi dengan tangis rindu, tapi hanya pada malam dia kembali merayu bulan. Tentang fajar, matahari,  angin pagi dan daun-daun kering yang basah.

"Oh sepi, sedikit saja kau beri aku waktu, aku kan gantikan semua dengan senyum terakhirku" suara Aisyah melemah, berbisik memeluk kedua lutut di tengah kesunyian. 

Jaritannya mankin pada bau kasur bekas dan kegelapan rumah tua" Tidakkah kalian mendengarku, dengarlah keluh tangis tak berbatas ini, sebab hanya pada kalianlah semua ini bermuara. Aku tak meminta kalian mendengarku dengan telinga, sebab aku hanya membutuhkan bijak dan dingin seperti angin waktu pagi?"

Entah pada siapa lagi akan diutarakan sedikit rindu yang sudah meluap ini. rindu yang sedang buta, seakan mati tanpa ada musabab apa-apa. Tetapi jika langit memerah kembali.  

Aisyah berjanji akan di bakar rindu, merusak sisi kesabaran,  mengusik ketenangan di batin tanpa harus kita tahu. Dengan setengah menghardik Aisyah pada yang bijak, keluhkan ini diam-diam ditutur pada daun yang melambai.

Seratus fajar masih tak juga kabarkan Aisyah tentang rindu yang dingin, dirinya menunggu itu pada matahari,  sesering dia tengadahkan wajah ke ufuk timur;-disanalah seratus fajar bermula. 

Sambil menaruh harap sang matahari kala sore hari akan kembali pada peraduan melintasi diatas kepalany yang sudah serasa pecah itu. 

Apa mungkin kejauhan dan sang jarak yang menentukan kapan harus datang berita yang aduhai manis itu, atau Aisyah sempat bersalah sangka kalau sang maha malam terlalu berburu-buru memanggil matahari dengan lirih yang riuh. 

Aisyah benar-banar lupa, dari kejauhan kata tidaklah lagi bermakna fajar. Bisa saja penaggalan rupa sisi yang begitu ranum menakuti jantung lemah ini. 

"oh seratus fajar" lirih Aisyah, bibirnya gemetar kedinginan

Walau begitu, gelas kerinduan ini masihkah selalu tak berisi. Bahkan bersungut wajah tak malu pada sesiapa yang tidak pernah merasakan rindu. Dirumah tua itu, tak ada sesiapapun. Hanya dirinya dan beberapa lembar catatan perjalanan dia kedesa sebelah pekan lalu

Pernah mengelak saat disiram air hujan yang tidak begitu ikhlas,  yang adalah kedinginan seakan tulang ikut memohon ampun. Itu yang dirasakan Aisyah malam ini. 

Padahal hanya soal rindu yang pada mereka bukan apa-apa. Pagi ini masih sedikit basah berselimut kabut karena semalam begitu deras titik-titik air itu. 

"Tapi aku juga tak mau menyulap ibaku menjadi malapetaka" Perlahan dan sangat sepi, bisik Aisyah pada malam. 

ini soal gelas rindu Aisyah yang masih kosongnya. Seakan menunggu lebih lama lagi tentang fajar dengan satu tempayan madu yang ditenteng melintasi luas samudra.  

Sedalam prahara sudah tak elak digelisahkan, disini Aisyah hanya ingin meneguk anggur rindu dalam bingkai yang lebih utuh. Seutuh danau, samudra,  dan bahkan seutuh rasa yang tidak siapapun bisa tahu.

"Uh.. biarkan saja begini, mengadu juga tak dapat membawa makna" Aisyah memeluk erat kedua tangannya yang dilipat merangkul lutut. 

Dia biarkan harap menjadi konflik dan trauma jika semua sudah bebas mengalir dari dada. Sekalipun rindu menjadi kontroversi dengan peraduan matahari pada sesungguhnya.  Aisyah tak mengapa dan menggap khilaf dari jiwa yang terlalu rapuh adalah dirinya. 

Hanya dari simpang jalan tempat Aisyah berpangku sang rindu ini, dia tak sempat bayangkan seratus fajar terlalu pelit membagi senyum.

Ini rindu yang sudah mutakhir, menelisik gagap gempita, juga arak-arakan menuju situasi yang girang. Bahwa kelak semua dari bulan dan matahari juga kembali pada peraduan, tapi kini dirinya, belumlah juga tempat rindu itu berlabuh.

Detail-detail bayang menyembunyi diri disebalik daun basah pagi ini, rasanya sudah tak mungkin menaruh harap. Sebab semua berujung getir.

satu juta rindu-rindu yang lain pulang pada peraduan dengan sedikit mengaduh, jalan pikir makin terempas di belantara yang maha luas. Belum juga secangkir rindu mendapatkan tempat indahnya. 

Tanya Aisyah pada kesepian "Mungkin karena aku terlalu girang dengan mereka sang bijak tapi papah dan sedikit manja. Atau aku terlalu lebih menaruh makna yang pontang-panting ini?"

ruas-ruas isi didada sudah kocar-kacir dibuatnya. Oh seratus fajar, rindu Aisyah belum terbalas. 

Dia bukan ornag pandai, dirinya benar tak pandai berikhtiar pada itu. menyelesaikan dan menyerah bukan satu-satunya jalan terakhir bagi diri yang kaku.  

"Aku tetap menjadi aku, Aisyah dan dan secangkir rindu walau tak kembali digantikannya. Berhati mulia aku pada kau seratus fajar. Agaknya waktu kembalikan aku satu fajar dengan sedikit rindu yang hangat dan tak terlalu manis. Matahari dan malam tak lebih adalah pernak-pernik hidup saat itu.  Aku kalah karena rindu tak mendapat peraduan yang bijaksana" Aisyah membatin, dan tatap mata mulai redup. 

Aisyah yang pasrah, kembalikan titah doa dalam takjub melirik sadik rupa darimu. Hendak besok fajar juga menyapa dengan rasa yang sedikit menggairahkan hatinya yang hampir redup  dalam menunggu yang terlalu berkepanjangan.

Aisyah dengan nada sedikit lirih membujuk hati yang telalu rindu itu kembali pada tempat di mana mata bisa mendapat kesempatan beristirahat dengan damai.

Dan secangkir rindu dalam tanda tanya, bulan sudah pada peraduan, samudra makin bergelombang, angin pagi masih malu-malu serta daun kering yang basah memaafkan angin pagi. semua kembali pada titik di mana keadaan bermula dan akan berakhir.

"Benar, menunggu itu bukan keabadian, bukan juga kepastian" Dari jendela rumah tua, Aisyah melihat fajar buru-buru berpulang diusik cahaya mentari pagi. 

"Kapan kau datang membawa rindu?" Bisiknya pada bukit, tempat dirinya menitip gelisah. 

~crF, hs. 15/11. Aisyah