Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Hiking Santuy, Rusa Jinak, dan Monyet Lasak di Tahura Juanda

5 Desember 2019   13:45 Diperbarui: 5 Desember 2019   14:04 18 0 0 Mohon Tunggu...
Hiking Santuy, Rusa Jinak, dan Monyet Lasak di Tahura Juanda
Memberi makan rusa, hiking dalam hijaunya hutan tropis, blusukan di Goa Jepang, dan monyet-monyet centil pengincar jajanan (doc.Wahyuni)

Liburan akhir semester sudah di ambang pintu dan bagi mama-papa yang ingin memperkenalkan nuansa hutan tropis sambil  hiking ringan bersama para buah hati tercinta bisa memilih Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda yang terletak di kawasan Jalan Ir H Juanda (Dago) Bandung sebagai destinasi wisata keluarga.

Akses ke sana terbilang mudah, ada angkot trayek Dago-Tahura atau Dago sambung ojek sampai ke lokasi atau manfaatkan fasilitas transportasi  online sesuai kebutuhan. Kenakan sepatu kets dan pakaian yang nyaman, serta siapkan pula jas hujan serta air minum dalam tas.

Gerbang Tahura Juanda dibuka pada pukul 08.00 -- 18.00 wib dan setelah membayar tiket masuk Rp.15,000 (limabelas ribu rupiah) saja per orang, mata kami (Arifa, Aqida, dan saya) langsung menghijau disuguhi hamparan panorama nan bikin adem dari berbagai jenis pepohonan/perdu/rerumputan yang tumbuh alami di topografi berkontur bebukitan menyatu serasi dengan hutan budidaya pohon pinus.

Jalur pendakian relatif aman plus kami pun mendapat bonus untuk jalan-jalan dalam kegelapan Gua Belanda dan Gua Jepang, peninggalan para penjajah yang masih asyik untuk ditelusuri. Ada ruang-ruang yang digunakan sebagai penjara dan tempat istirahat tentara di jamannya. Pastikan menyewa senter dari para penyedia di sana agar buah hati yang masih kecil tidak kesasar di dalamnya.

Bonus tambahan selain udara bersih nan menyegarkan adalah kita bisa menikmati panorama tiga air terjun (curug) terkenal di Tahura Juanda, yakni Curug Dago, Curug Curug Omas, dan Curug Lalay. Papan-papan penunjuk arah bisa diandalkan untuk memandu kami memilih jalur yang dikehendaki. 

Semakin lama napas kian ngos-ngosan seiring kian menanjaknya jalur perjalanan, tapi jangan kuatir karena ada  banyak tempat dari mulai semacam shelter, dahan-dahan besar pohon tumbang, atau batu-batu alam yang cukup nyaman dijadikan untuk duduk-duduk rehat minum sejenak sebelum melanjut pendakian.

Kami pun menyambangi rusa-rusa jinak di penangkaran yang ada di dalam Tahura dan mentraktir mereka makan wortel-wortel segar yang dibeli dari penjual yang sudah siaga di area tersebut. Anak-anak dari balita sampai yang rada bangkotan sekalipun pasti senang berinteraksi dengan rusa-rusa ramah yang bakal merapat ke bentang kawat pembatas, mendekati pengunjung untuk mendapatkan camilan wortel.

Seharian beraktifitas di Tahura Juanda jangan sampai lupa sholat karena jelang gerbang keluar tersedia fasilitas mushola di kawasan pujasera yang dilengkapi taman bermain anak. 

Di sinilah anda mungkin bakal bertemu monyet-monyet kecil nakal yang menggemaskan. Salah seekor di antara mereka sukses mencopet sekantong snack dari anak kecil di depan kami lalu dengan ketangkasan yang luar biasa dia memanjat naik ke pohon cemara untuk menikmati hasil jerih payahnya di ketinggian sana. Teman-temannya pun bersiaga mengincar tas kresek bahkan ransel. Percayalah, mereka cukup piawai untuk urusan menarik resleting lantas merogoh isi ransel!

Pedagang bakso yang melayani kami bercerita bahwa kelakuan iseng para monyet itu sebenarnya bukan ulah orisinal mereka, namun karena beberapa tahun silam seorang pendatang membagi bekalnya dengan para primata imut tersebut sehingga kumpulan hewan itu menyimpulkan bahwa pengunjung wajib memberi mereka camilan. Bagi para hijaber, pastikan kerudung anda tak disambar mereka, ya ...

Pendakian pamungkas menuju gerbang lumayan membuat napas tersengal karena kebetulan kami memilih jalur menuju gerbang keluar yang terletak paling tinggi (sekitar 1300 meter dari permukaan laut). Rasanya plong dan bahagia banget setelah menjejakkan kaki ke luar kawasan hutan. Berikutnya adalah bersabar menunggu datangnya mobil angkutan umum yang akan membawa kami kembali ke keramaian pusat kota Bandung.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x