Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ta'ziyah: Jajat Munajat

28 November 2018   16:02 Diperbarui: 28 November 2018   16:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Ta'ziyah: Jajat Munajat
Arsip pribadi

Sungguh kematian adalah sebuah misteri, yang bisa datang dan terjadi kapan dan di mana saja. Dan semua kita pasti akan mengalaminya. Sebuah proses kehidupan yang semakin menguatkan keyakinan bahwa keabadian hanyalah milik Allah semata.

Hari ini, Rabu, 28 Nopember 2018, sekitar jam 10.00 WIB, saya menerima kabar duka tentang wafatnya Jajat Munajat, seorang putra Banten, akibat serangan jantung.

I knew him very well, when we were together in nineties as students at al-Azhar University in Cairo, Egypt.

Saya teringat pada suatu hari tahun 2003: dari Jakarta ke Bandung bagian selatan, tepatnya ke wilayah Ciparay, berkendara mobil tua (kalau nggak salah ingat jenis TAFT), kami berempat (saya, Jajat Munajat, Hamzah Hasan dan Kak Ulfah) menempuh jalan reguler Cikampek-Bandung (waktu itu belum ada jalan tol Cipularang). Tujuannya satu: melamarkan sdr. Hamzah Hasan dengan seorang putri Sunda yang juga eks mahasiswi Kairo. Teringat karena dalam perjalanan itu, saya diposisikan sebagai juru bicara pelamaran. Dan diam-diam saya menikmatinya.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kami bernostalgia banyak tentang kehidupan mahasiswa Kairo. Dan tentu banyak hal yang layak diingat dan diceritakan ulang.

Dari segi usia, Jajat (begitu kami akrab memanggilnya) adalah adik. Tapi Jajat pernah menjadi Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kairo periode 1995-1996. Bahkan kalau nggak salah, pernah juga menjabat satu periode sebagai ketua perkumpulan mahasiwa/pelajar ASEAN di Kairo.

Pada suatu hari di Kairo (tahunnya sudah lupa), saya diundang pada sebuah acara yang diselenggarakan tokoh-tokoh mahasiswa se-ASEAN, dan saya dibuat kagum luar biasa oleh Jajat: dia tampil di mimbar berpidato berbahasa Inggris dengan kefasihan yang di atas rata-rata. Sebagai alumni Gontor (angktan 1989), tentu lazim kalau Jajat bisa berbahasa Inggris. Tapi jarang-jarang alumni Gontor yang sefasih Jajat dalam berbahasa Inggris. Ketika itu, dan mungkin juga sampai hari ini, bahasa Inggrisnya jauh melebihi kemampuan bahasa Inggris saya.

Sejak kembali ke Indonesia, hanya beberapa kali memang saya berkomunikasi dan bertemu langsung dengan Jajat. Lalu pada suatu kesempatan di medio tahun 2000-an, entah mengapa, tiba-tiba dan tanpa pendahuluan apa-apa, Jajat mengirimi saya SMS dan meminta nomor rekening saya. Saya heran, tapi akhirnya saya menyikapinya dengan berbaik sangka: barangkali saja Jajat punya nazar khusus.

Selama beberapa tahun ini, saya tidak lagi intens mengikuti kegiatannya. Terakhir terdengar kabar Jajat maju sebagai calon kepala daerah di wilayah Banten pada 2010.

Dengan fostur tubuh yang relatif pendek dan gerak lincah yang gesit, juga pembawaan yang selalu riang dan bersemangat, saya yakin penuh bahwa Jajat relatif akan selalu menarik perhatian orang lain dalam setiap pertemuan. Bukan semata karena dia ganteng secara fisik, atau bukan juga semata karena kesupelannya dalam berinteraksi dengan siapa saja, tapi lebih karena Jajat senantiasa memiliki ide-ide segar tentang banyak persoalan. Terus terang saja, acap kali saya menjadikan postingan dan komentar ringkasnya di Medsos sebagai bahan awal atau semcam trigger untuk menulis artikel, khususnya di bidang politik.

Pernah, saya terkesan cenderung terbius oleh sebuah foto Jajat Munajat yang pernah ditampilkan di akun Medsosnya: duduk bersila, badan tegap, berpakaian lengkap tradisional Banten, dadanya setengah telanjang, sambil memegang keris (mungkin salah satu keris pusaka Banten), dan kerisnya dihadapkan ke langit. Tampak aura keningratan di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x