Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Basis Data Setiap Survei adalah Perasaan Subyektif, Ini Buktinya

13 April 2017   15:31 Diperbarui: 13 April 2017   16:25 807 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Basis Data Setiap Survei adalah Perasaan Subyektif, Ini Buktinya
Arsip pribadi


Coba bayangkan dan posisikan diri Anda tiba-tiba dijadikan salah satu responden oleh sebuah lembaga survei, yang mengajukan pertanyaan begini: bagusan dan rasional mana jawaban Anies atau Ahok terkait masalah reklamasi Teluk Jakarta, dalam Debat Kandidat terakhir di Jakarta pada 12 April 2017?

Jika Anda tidak punya data dan backroundinformasi tentang reklamasi, hampir pasti Anda akan menjawabnya sesuai dengan kecenderungan perasaan Anda terhadap Ahok dan/atau Anies.

Jika hati Anda sudah cenderung berpihak ke Anies, Anda akan cenderung menjawab: jawaban Anies lebih rasional. Tapi jika Anda pendukung Ahok, jawabannya jelas akan menjagokan Ahok. Artinya, jawaban Anda lebih mengacu pada perasaan Anda ketika menjawab pertanyaan tersebut.

Dan pertanyaan serupa tentu akan diajukan ke beberapa responden lainnya, dan masing-masing responden juga akan menjawab dalam suasana batin persis seperti Anda, ketika menjawab pertanyaan kuesioner. Jika Anda sudah senang Anies, akan menjagokan Anies. Sebaliknya, kalau sudah fanatik Ahok, tetap akan menjagokan Ahok.

Lantas, oleh petugas administrasi di lembaga survei akan mengolah jawaban Anda dan jawaban responden-responden lainnya, lalu diklasifikasi dan dikelompokkan: menjagokan Ahok sekian orang, yang menjagokan Anies sekian orang. 

Hasilnya, jawaban Anda bersama jawaban responden-responden lainnya – yang notabene disampaikan berdasarkan perasaan subyektif Anda ketika menjawab pertanyaan kuesioner tersebut – ditampilkan di layar komputer atau papan peraga, lalu diposisikan sebagai fakta atau basis data ilmiah. Maka keluarlah hasil survei yang mengatakan: Ahok mendapat suara sekian persen, dan Anies meraih suara sekian persen.

Dan sangat dimungkinkan terjadi, para responden yang ditanya pada periode tertentu – kebetulan pada menjawab: Anies lebih baik, dan pada periode yang lain, sebagian besar responden lebih menjagokan Ahok.

Karena itu, tak perlu heran, kadang seorang kandidat unggul di papan peraga statitistik survei, tapi keok ketika perhitungan real count. Jangan heran juga bila sering terjadi perbedaan hasil survei antara satu lembaga dengan lembaga survei lainnya. Sebab basis data setiap survei memang lebih mewakili perasaan subyektif responden.

Pesannya: jangan seperti saya, yang senang pada hasil survei yang mengunggulkan kandidat jagoan saya, dan benci melihat hasil survei yang tidak mengunggulkan kandidat yang saya dukung. He he he.

SyarifuddinAbdullah |Kamis, 13 April 2017 / 16 Rajab 1438H

VIDEO PILIHAN