Mohon tunggu...
Rizka Khaerunnisa
Rizka Khaerunnisa Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Mengumpulkan ingatan dan pikiran.

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Kim Ji-young, Born 1982" dan Tiga Wajah Generasi Perempuan

2 Desember 2019   10:48 Diperbarui: 2 Desember 2019   16:30 503
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika film Kim Ji-young memang ingin menyoroti sistem, saya sebetulnya berharap menemukan adegan di mana seorang laki-laki juga bisa terluka karena patriarki. Sayangnya itu tidak terjadi. Entah kalau di dalam novelnya--ah betul, saya harus membacanya!

Kenyataannya patriarki pun bisa melukai laki-laki. Kalau Anda masih menganggap perempuan feminis itu anti-laki-laki, Anda salah besar. Luka karena patriarki ini terjadi pada adik laki-laki saya, misalnya.

Sewaktu adik saya masih duduk di bangku SD, doktrin-doktrin seperti laki-laki harus kuat, tangguh, berani, sedikit bandel, harus suka main dan paham bola, tidak boleh menangis, tidak boleh manja, dan tidak boleh lembek, sesungguhnya itu sangat menyiksanya. Bahkan orangtua saya sampai percaya kalau ada jin yang mengikuti dan memengaruhi perilakunya, sehingga adik saya harus dibawa ke "orang pintar". Saya tahu, ia begitu tertekan menghadapi ini.

Kembali lagi ke pembicaraan semula. Sewaktu remaja saya berasumsi bahwa ketidakberdayaan nenek saya saat dituntut kakek untuk memberi "pelayanan" layaknya kepada seorang raja, itu semata-mata karena faktor ekomoni. Nenek pasrah direpresi karena menganggap kemiskinan yang didera keluarganya adalah penyebab utama kenapa kakek suka marah-marah sendiri.

Tapi itu keliru. Ekonomi memang jadi salah satu pemicunya, tapi bukan satu-satunya. Faktor yang paling mempengaruhi adalah pendidikan. Iya, pendidikan. Tapi saya lebih suka mengartikan "pendidikan" ini bukan melulu soal pendidikan formal dan tinggi, tetapi juga pendidikan di luar ruang formal. Ingat Kartini? Memang apa yang paling mendorong kehendaknya untuk melawan patriarki kalau bukan karena pendidikan?

Di dalam film, Kim Ji-young toh berada dalam keadaan ekonomi yang serba-cukup, tapi masih saja belum berdaya untuk mendobrak penindasan. Apa yang menyelamatkan dirinya dari belenggu patriarki adalah pendidikan. Pendidikanlah yang menumbuhkan kesadaran. Apalagi ia mengambil jurusan sastra/humaniora yang notabene mempelajari problem sosial-budaya. Mustahil Ji-young tak tahu feminisme, hanya saja ia tak menggembar-gemborkan konsep itu.

Baik ibu maupun nenek saya masih beranggapan kalau permasalahan di dalam keluarga adalah aib besar yang sepatutnya ditutup rapat, alih-alih memandangnya sebagai problem universal yang terjadi pada semua perempuan di dunia. Keyakinan seperti ini tentu saja menyulitkan.

Baik saya maupun Ji-young adalah perempuan dari generasi "perbatasan" di dalam keluarga. Maksudnya, kami sama-sama harus berdiri dengan kaki sebelah yang memijak budaya patriarki yang terlanjur mengeras, sementara kaki yang satunya lagi harus memijak kesadaran untuk melawan sistem sampai ke akar-akarnya. Anda yang membaca ini serta orang-orang di luar sana, entah perempuan, laki-laki, ataupun orientasi gender lain, mungkin juga sedang berada di posisi ini.

Jika memikirkan peran Ji-young, saya pasti akan meraba-raba rupa pendidikan apa yang akan diberikan pada anak--entah anak biologis ataupun bukan, terutama bagi anak perempuan. Bagaimana cara saya menjelaskan pada mereka, generasi mendatang, bahwa dunia ini punya penyakit akut bernama budaya patriarki? Ji-young pasti membatin pertanyaan ini untuk putrinya yang tengah tumbuh, Jung Ah Young.

Film Kim Ji-young menyelipkan humor kecil yang kadangkala gelap, tapi ada saja penonton yang mampu melontarkan tawa. Di dalam bioskop saya sempat berbisik kepada seorang kawan di sebelah; "Aku tau ada beberapa adegan yang memang lucu. Tapi ngeliat ini semua (konflik yang dialami Kim Ji-young), aku ngga bisa click ke rasa humor itu. Aku ngga tau apa yang dipikirkan orang-orang yang bisa ketawa. Aku cuma merasa sedih."

Sebetulnya saya tidak yakin kata "sedih" ini betulan tepat sebagai akumulasi dari spektrum rasa yang saya alami selama menonton. Rasa marah, kecewa, putus asa, tak berdaya, dan sakit, semuanya bercampur jadi satu. Ini semua bukan sekadar perasaan sedih yang sepadan dengan "empati". Sebab empati menempatkan tokoh dalam film sebagai objek, bukan subjek yang mengalami. Bagi saya, Kim Ji-young adalah saya. Kim Ji-young juga adalah kita semua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun