Mohon tunggu...
Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Mohon Tunggu... Profil Saya

Menulis dan Membaca http://ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama FEATURED

Fenomena "Long Weekend" dan Ironi Kaum Urban

25 Desember 2015   20:39 Diperbarui: 7 Mei 2016   17:34 0 21 15 Mohon Tunggu...

[caption caption="Photo courtesy: www.detik.com"][/caption]Betapa irinya kami ketika hari Rabu yang lalu melihat di sosial media; facebook, twitter, instagram dan path. Jelek-jelek begini kami kan tergolong Pak Ismed (Pasangan Muda Eksis di Sosmed). Banyak, bahkan hampir semua kawan-kawan kami merencanakan yang namanya holidei, pekensi atau apalah yang bermakna satu: LIBURAN.

Maklum, di Negara tempat kami mencari nafkah ini liburan hanya ada tiga, pertama libur hari kemerdekaan, kedua libur Idul Fitri dan ketiga libur Idul Adha, selebihnya kami harus tetap produktif. Jadi maklum kalau kami iri, bahkan sempat nekat mau ambil cuti pulang ke Indonesia, untung saja ongkosnya mahal hehe.

Tapi, keinginan kami (iri) tadi menjadi surut ketika melihat update status kawan-kawan ditambah membaca news dari Indonesia kalau liburan tadi menjadi 'petaka'. Mungkin bahasanya sedikit sarkastik, saya tidak menemukan kata ganti yang lebih mengena dari 'tidak menikmati'.

Di mulai dari kakak ipar saya yang pulang kantor normal (jam 5 sore teng) dari kawasan Kuningan namun belum sampai rumah di kawasan Jatibening, padahal sudah pukul 10 malam. Istrinya sudah bolak balik update di sosmed karena tidak bisa mengabari, berharap ada teman kakak ipar saya yang baca lalu bisa memberikan informasi.

Ini bukan dialami oleh satu orang saja, begitu banyak informasi yang mengabarkan bahwa Jakarta lumpuh, malam kamis itu.

Kakak ipar saya baru diketahui sampai rumah pukul dua pagi. Tapi.. ternyata itu masih belum seberapa, ada yang pulang kantor dari Pasar Minggu baru sampai rumah jam lima pagi, ah informasi lebay menurut saya..eh ternyata itu memang kenyataan. Kalau dihitung cuma orang pulang kantor tak mungkin sepadat itu, ternyata itu juga merupakan buntut kemacetan yang berhulu di Cikampek, entah yang ke Bandung, entah yang ke Jawa, dua-duanya sama.

Ini fenomena lho, betapa tidak, selama ini kita hanya disuguhkan kemacetan yang begitu luar biasa jika menghadapi satu momen: Lebaran. Tapi momen ini sekarang bergeser, kaum urban Jakarta tidak lagi menunggu Lebaran untuk pulang kampung atau hanya sekedar liburan, mereka senantiasa mencari celah 'kapan bisa liburan' untuk setiap libur panjang yang terjadi dalam satu tahun.

Bahkan jika tanggal merah itu hadir menjepit tanggal hitam, tanggal hitam tadi otomatis menjadi warna merah dengan cara cuti. Pokoknya, sebelum tahun baru mulai, kita (dan tentunya saya sendiri) sudah mulai rajin melihat kalender di tahun berikutnya, melingkari dan kemudian menuju laptop untuk membuka website plesir. Betul apa betul? 

Mengapa fenomena (atau latah?) ini menjadi-jadi?

Menurut survey yang dilakukan Cak Lemper, kenapa orang Jakarta sangat menantikan liburan ini karena sebanyak 80% orang Jakarta itu STRES, dan 20% sisanya itu SANGAT STRES. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Jakarta ini isinya orang STRES, jadi butuh liburan.

Mari kita breakdown lagi penyebab stressnya; ditemukan bahwa 3 dari 4 orang kantoran Jakarta itu stresnya bukan ada di Kantor mereka. Lho, lalu apa? Mereka akan stres apabila harus menghadapi jalanan Jakarta, mereka stress di jalan. Mereka anggap stress di kantor adalah konsekuensi bagian dari pekerjaan, tapi stres di jalan itu soal lain.

Mereka (mungkin) muak dengan lalu lintas Jakarta. Lalu apakah ini sudah ditanggapi tuntas oleh Gubernur Ahok? Ditanggapi sudah, namun tuntas ya belum dong.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x