Mohon tunggu...
Rut sw
Rut sw Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga, Penulis, Pengamat Sosial Budaya

Berusaha melejitkan potensi dan minat menulis untuk meraih pahala jariyah dan mengubah dunia dengan aksara

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kurir Rawit

14 Agustus 2019   11:56 Diperbarui: 14 Agustus 2019   12:18 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sudah bisa ditebakkah mengapa saya menulis judul diatas? , memang muncul setelah baca tulisan di punggung sebuah truk. Seluruh papan penutup bagian belakang truk itu penuh dengan tulisan segala macam merk dagang produk. Lha, tulisan itu berada dibagian bawah, dekat dengan plat nomor.

Sekilas jika tak jeli tulisan itu hampir kabur karena tertutup jelaga asap. Yang entah sudah berapa lama menutupi, karena truk itu terlihat jam kerjanya tinggi. " Kurir Rawit" , kalau mak-mak Revowriter sukanya bilang sedikit tapi dalemmmm...

Maknanya bisa bermacam-macam. Dan kemungkinannya kecil untuk bisa menanyai penulisnya secara langsung.  Saya sendiri akhirnya jadi ikut berandai-andai. Kurir adalah salah satu nama sebuah profesi jasa antar barang. 

Hari ini kurir laris manis, karena jualan mak-mak sudah gak pakai lapak apalagi warung. Cukup di hape, pencet-pencet sebentar, abang kurir deh yang bergerak. Mau barang apa saja bisa. Mau bayar online atau COD-an juga mudah.

Di sistem ekonomi hari ini, kurir bisa berkonotasi buruk maupun baik. Kalau buruk, biasanya jarang terekspos, nantilah jika sudah jatuh korban barulah viral. Seperti kuris narkoba, kurir sindikat penjualan bayi, organ tubuh, perempuan dan lain sebagainya. Subjek kurir juga bisa bapak-bapak, ibu-ibu, mbak- mbak mahasiswa, pelajar, profesional muda bahkan transgender.

Sekali lagi, kata" Kurir Rawit" kembali menggelitik. Apakah dia pembawa paket cabe rawit? ataukah nama perusahaan kurir itu " Cabe Rawit" dan lain-lain..lebih baik saya analogkan dengan rekaan saya sendiri yaitu seorang pengemban dakwah.

Di hari ini, disaat Islam dipersekusi namun tak kehilangan apresiasi dari umat muslim maupun non muslim. Di saat Islam dianggap Radikal padahal tak ayal makin banyak mualaf yang ingin terpapar rahmatnya. 

Di saat Islam dianggap tak layak jadi sistem hidup ternyata makin membuat rezim panik dan tercekik, kita butuh suatu gerakan yang massif. Gerakan yang lebih " pedas" seperti rawit. Guna menghadang pemikiran sekuler dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih revolusioner, yaitu dakwah.

Hendaklah kita berpacu dengan waktu dengan memberitahukan kepada dunia tentang urgensitas menjadikan Islam terterapkan secara kaffah. Mewarnai dengan pedas, bagaikan cabe rawit, kecil, tak berarti namun tak lengkap rasanya risoles jika tanpanya. 

Ya, kitalah kurir dakwah pembawa pesan cabe rawit, pembawa pesan global bahwa apapun yang terjadi didunia adalah ujian. Dan hanya bisa diselesaikan dengan Islam. Dan bahwa sekulerisme akan diakhiri.