Mohon tunggu...
Rut sw
Rut sw Mohon Tunggu... Freelancer - Ibu Rumah Tangga, Penulis, Pengamat Sosial Budaya
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Berusaha melejitkan potensi dan minat menulis untuk meraih pahala jariyah dan mengubah dunia dengan aksara

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ramadan di Negeri Serumpun Bambu

13 Mei 2019   07:34 Diperbarui: 13 Mei 2019   07:43 46
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh: Rut Sri WahyuningsihKali ini mau bertandang ke Negri Jiran, Negeri Serumpun Bambu, Malaysia. Bukan mau klaim mengklaim sebagaimana beberapa tahun lalu. Yang heboh dengan wayang kulit, reog, sate padang dan sebagainya yang diklaim Malaysia. 

Indonesia meradang, nasionalismenya muncul. Budaya asli diklaim,  ganyang Malaysia bertandang. Itulah buruknya nasionalisme. Tak peduli seakidah semua dianggap musuh ketika teritorial wilayah, budaya dan sosial diserang.

Bagaimana kini? berlalu serangan berlalu pula perjuangan bahkan pertahanan. Syaikh An -Nabhani rahimahullah menjelaskan dalam kitab Nidzomul Islam ( Peraturan Hidup Dalam Islam), ikatan yang paling rendah untuk membuat manusia bangkit secara pemikiran , perasaan dan peraturan adalah ikatan Nasionalisme. Karena ia temporal ada hanya jika ada serangan, ketika tidak ya hilang. Kedua karena ia berdasarkan perasaan cinta tanah air semata, bukan karena Allah sehingga sempit. Ketiga tak layak, karena nilainya rendah.

Maka, kelak hanya Daulah Khilafah yang mampu menyatukan seluruh negeri- negeri kaum Muslimin. Sehingga kaum Muslim adalah satu, meskipun budaya, bahasa dan letak berbeda.

Ramadan di Malaysia tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Karena bertetangga, tradisi yang ada pun masih mirip-mirip. Dilansir Saudi Gazette, hari pertama Ramadhan adalah hari libur nasional di Melaka, Johor dan Kedah, mirip seperti di Indonesia. Sebagian besar kantor memberi izin cuti dan tidak banyak aktivitas di jalanan. Kantor dan perusahaan di Malaysia juga mengurangi jam kerja karyawannya pada saat bulan Puasa Ramadhan. Jika biasanya jam kerja pukul 9:00am hingga pukul 6:00pm (8jam/hari), saat bulan Ramadhan berubah menjadi pukul 09.00am hingga 5:00pm (7jam/hari), atau dikurangi satu jam tiap hari. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mereka yang berpuasa untuk mempersiapkan santapan berbuka

Mereka mempersiapkan Ramadhan di rumah. Salah satu tradisi Malaysia setiap bulan suci adalah membuat dan membagi-bagikan bubur lambuk, bubur nasi yang dibuat dengan potongan daging, santan, rempah dan lainnya.

Bubur lambuk yang paling populer dan paling banyak dicari adalah bubur lambuk versi Masjid Kampung Baru. Setiap harinya, masjid membuat 20 tong besar bubur sejak pukul 08.00 hingga 16.00. Setelah itu, orang-orang tampak mengular mengantri untuk mendapat bubur. Bubur lambuk Kampung Baru ini disebut-sebut jadi yang terbaik di Malaysia. Ia dibuat dengan resep tradisional yang sudah turun temurun.

Selain tradisi bubur lambuk, mirip seperti di Indonesia ada pasar makanan yang marak menjelang berbuka. Bazar makanan ini menyebar di setiap sudut kota, mulai dari yang kecil hingga yang akbar.  Beragam macam makanan tumpah ruah dengan masing-masing aroma yang mengugah. Bazar Ramadhan juga tidak jarang menjual barang-barang keperluan Hari Raya.

Atmosfer perayaan begitu kental di Malaysia. Sebagian besar mal pusat perbelanjaan, khususnya di Kuala Lumpur dan Selangor akan berhias dan mendekor setiap sudut tempat dengan tema Ramadhan. Pusat belanja untuk Idul Fitri biasanya ramai di Jalan Tuanku Abdul Rahman dan Jalan Masjid India di Kuala Lumpur. Para pembeli dan penjual ramai dari sejak pagi hingga malam.

Lagu-lagu Ramadhan lokal pun terus mengalun di hampir semua tempat. Dari radio hingga mal perbelanjaan. Saat malam datang, masjid ramai oleh jamaah yang shalat malam. Setelah tarawih, orang-orang berkumpul untuk bersilaturahim. Mereka duduk dan makan bersama.  Waktu Adzan subuh di Malaysia yaitu sekitar pukul 06.00am waktu Malaysia, waktu buka puasa sekitar pukul 7:30pm waktu Malaysia, dan waktu shalat tarawih adalah sekitar pukul 8:30pm.

Malaysia adalah Negara Islam akan tetapi jumlah masjid di sini terhitung masih sedikit. Namun meskipun begitu sudah banyak sekali surau. Masjid-masjid di Malaysia terbukti sangat ketat, karena di pantau langsung oleh Jabatan Agama Islam Malaysia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun