Rustan Ibnu Abbas
Rustan Ibnu Abbas Penulis Buku, Trainer Sales, Senang Membaca Buku

Suka nulis , Trainer Sales, Cinta Islam, Pembelajar dari nilai kehidupan Silahkan kunjungi Blog saya di www.rustanibnuabbas.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ust. Abdul Somad dan Fenomena Media Sosial

28 Juli 2018   12:23 Diperbarui: 28 Juli 2018   12:54 203 0 0

Ceramahnya mengalir lembut, argumennya selalu didasari dengan dalil, sesekali diiringi dengan candaan membuat jamaahnya bisa betah mendengarkan apa yang Beliau sampaikan. Didukung oleh luasnya wawasan ilmu keislamannya terutama ilmu hadist dan Perbandingan mazhab yang Ia dapatkan dari Mesir dan Maroko. Sosok yang sederhana, berkharisma ini mampu meraih simpati jutaan umat islam yang haus ilmu dan dan nasehat darinya.

Tak bisa dipungkiri  Ust. Abdul Somad memang sangat fenomenal. Beliau popular di media sosial. Maka tak berlebihan kalau Beliau digelari sebagai ulama internasional. Ceramahnya menembus batas Negara dan strata sosial dari rakyat jelata sampai ke aparatur pemerintah, dari kota sampai ke pelosok daerah. Terbukti disetiap daerah yang Beliau kunjungi jamaahnya selalu meluber.

Hal ini mengingatkan kita pada salah seorang ulama kharismatik yang di gelari "dai sejuta umat" almarhum KH. Zainuddin MZ . Ceramah beliau sangat dinanti meski hanya melalui radio atau lewat kaset dan setiap kunjungan dakwahnya selalu dipadati masyarakat yang jumlah jamaah banyak tak ubahnya keramaian seperti konser musik.  

Namun dibalik itu semua, ternyata masih ada sebagian orang yang merasa gerah dan kebakaran jenggot dengan materi-materi dakwah yang disampaikan. Terutama ketika membahas masalah dianggap sensitif seperti materi tentang khilafah,  penyebutan kata 'kafir' dsb. Masih ada yang menganggap Beliau ceramahnya radikal dan berpotensi memecah belah umat.

Maka dihembuskanlah berbagai fitnah dan tuduhan tak berdasar seperti anti kebhinekaan, anti toleransi, anti NKRI yang tujuannya agar umat dijauhkan dari ceramah-ceramah beliau. Persekusi yang diterima ust. Abdul Somad di beberapa daerah merupakan ulah beberapa kalangan yang gagal paham apa yang disampaikan Beliau dan inilah yang disebut Ust. Abdul Somad sebagai bunga-bunga dakwah sebagai konsekwensi logis seorang juru dakwah.

Penolakan-penolakan yang alami  merupakan "berkah" tersendiri bagi Ust. Abdul Somad. Hukum alam bagi media sosial  "semakin di larang, semakin dicari". Semakin kontroversi kasusnya maka semakin banyak yang penasaran. Kasus di Bali dan dideportasinya Beliau ketika bersafari dakwah ke Hongkong atau pelarangan salah satu ormas di Semarang untuk datang berceramah membuat netizen semakin rasa ingin tahu apa isi ceramahnya.

 Apakah betul-betul isinya intoleran dan semakin membuat orang radikal. Ternyata hal ini bantah langsung oleh pakar hukum pidana Prof Romli Atmasasmita bahwa yang disampaikannya tidak menyudutkan agama lain dan tidak melecehkan kawan seiman serta tidak radikal.Hal itu pun bisa kita saksikan sendiri ceramah di Youtube ceramahnya menyejukkan dan diselingi dengan candaan.

Tidak bijak menyampaikan pendapat di media sosial  berupa hujatan, celaan, dan makian ke orang lain apalagi ditujukan ke ulama tentu akan berakibat buruk. Seperti hujatan yang dilakukan oknum wartawan olahraga ke Ust. Abdul Somad yang direspon  netizen untuk memboikot tempat wartawan itu bekerja. Akhirnya sang wartawan tersebut di pecat dari tempat kerjanya.

Hal ini menunjukkan kecintaan masyarakat ke Ust. Abdul Somad  begitu besar. Kecintaan bukan tanpa alasan. Beliau dengan segala kapasitas keilmuannya dianggap mampu mempersatukan umat islam ketika berbicara soal aqidah dia tegas dan bahkan keras. Meski sangat lembut dan moderat dalam hal fiqih dan furu'. 

Dari beliau kita banyak mendapatkan percerahan seperti tidak gampang membid'ahkan apalagi menyesatkan ke kelompok yang berbeda metode dakwahnya. Beliau banyak membanding bukan mengklaim apalagi memvonis ketika membahas fiqih empat imam mazhab sehingga materi kajiannya disukai lintas mazhab. Selalu menasehat pentingnya persatuan umat islam untuk mencapai kemajuan bangsa. Metode penyampaiannya yang mudah dipahami, mengalir dan menyejukkan.

Besarnya animo masyarakat bermedia sosial  ini juga tentu harus diiringi dengan sikap bijak dalam menyampaikan pendapat. Dibutuhkan kedewasaan agar energi kita tidak banyak terkuras untuk mencela, menghujat orang lain yang berbeda pendapat. Persatuan islam yang semakin kuat jangan pernah meluntur hanya karena provokasi oleh oknum yang tidak ingin kita kuat. Persatuan umat islam akan mendukung kemajuan berbangsa dan bernegara. Ust. Abdul Somad sudah mencontohkan itu untuk kita.