Mohon tunggu...
Rusman
Rusman Mohon Tunggu... Libang Pepadi Kab. Tuban - Pemerhati budaya - Praktisi SambangPramitra
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama". Penulis juga aktif sebagai litbang Pepadi Kab. Tuban dan aktivis SambangPramitra.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Rusman: Wayang, Kemelut di Keraton Astina (1)

18 Februari 2019   13:25 Diperbarui: 1 Maret 2019   21:40 0 3 1 Mohon Tunggu...

Tindaka Patih Sengkuni mengundang pendekar bayaran untuk memperkuat tentara Astina ternyata berbuah simalakama. 

Para pendekar liar yang tidak terbiasa hidup di lingkungan keraton itu sering membuat onar.

Baru-baru ini seorang wanita yang ditugaskan mengantar makan siang telah mendapatkan perlakuan tak senonoh. 

Dan wanita itupun menjerit-jerit histeris sambil berlari keluar dari asrama para pemuda asing itu.

Kontan Raden Kartamarmo yang kebetulan sedang bertugas keliling istana segera mencabut pedang untuk mengatasi keadaan.

Dalam pada itu Patih sengkuni yang mendengar hiruk pikuk itupun segera melerai pula.

Semua orang berpaling kepada Patih Sengkuni, dan orang tua itu berkata seterusnya:

"Kadang-kadang kita memang perlu bertindak tegas, supaya jika terjadi persoalan yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Tetapi sebaiknya tindakan tegas itu tidak terjadi dalam kesalah-pahaman. Sebaiknya tindakan itu harus terjadi secara sadar."

Tak satupun orang yang ada di tempat itu menyahut. Semua laki-laki itu seolah-olah masih membeku.

"Sekarang sarungkan pedang masing-masing?" berkata Sengkuni seterusnya.

Ketika masih saja belum ada yang menuruti nasehatnya, maka ia berkata kepada Kartamarmo.

"Anakku ngger, Kartamarmo. Janganlah kau terpengaruh oleh perasaanmu yang kekanak-kanakan itu. Cobalah berpikir dewasa, seperti orang yang lain pun juga harus berpikir dewasa."

Pemuda liar berkumis yang suka mengganggu wanita itu tiba-tiba menyadari dirinya. Dan justru ialah yang kemudian berkata:

"Dengarlah, aku bersama teman-temanku ini bukan barang mainan. Aku datang atas undangan kalian. Tetapi di sini aku sekedar hendak dihinakan oleh pemuda itu. Aku tidak mau. Aku harus melakukan sesuatu untuk menebus cemohan ini," katanya sambil bertolak pinggang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x