Rus Rusman
Rus Rusman Praktisi Pendidikan, Aktivis SAMBANGPRAMITRA - www.kompasiana.com/rusrusman522 - www.facebook.com/rusman245

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Raden Sekartanjung, Adipati Tuban yang Terbunuh (2)

15 September 2018   06:19 Diperbarui: 15 September 2018   14:52 365 1 0
Raden Sekartanjung, Adipati Tuban yang Terbunuh (2)
-5b994a686ddcae63470804b2.jpg

Oleh:

RUS RUSMAN.

 

Ketika Adipati Sekartanjung dan rombongan kecilnya melakukan tetirah ke wilayah timur, pulangnya dihadang oleh Ki Ajar Talun dan teman-temannya. Mereka mengaku sebagai utusan Raden Ngangsar. Ki Ajar Talun yang juga mengaku sebagai paman guru  Raden Ngangsar memaksa agar Adipati Sekartanjung menyerahkan tampuk pimpinan Tuban kepada adiknya, yaitu Raden Ngangsar Putra Balewot.

Terjadilah peperangan dua kelompok kecil itu, dan Ki Ajar Talun langsung berusaha membunuh Adipati Sekartanjung.

Kini Ki Ajar Talun yang tidak dapat menahan diri lagi telah meloncat menyerang Raden Sekartanjung. Tetapi Raden Sekartanjung sudah bersiaga, karena itu iapun segera bergeser menghindari serangan lawannya.

Ternyata serangan Ki Ajar Talun tidak mengenai sasarannya. Namun orang tua itu tidak membiarkan Raden Sekartanjung lolos, iapun segera berkisar, dan serangannyapun telah meluncur pula dengan derasnya.

Sekali lagi Raden Sekartanjung bergeser. Dan sekali lagi Adipati muda itu berhasil melepaskan diri dan serangan lawannya. Bahkan. iapun telah mengimbangi serangan-serangan lawannya dengan serangan pula yang tidak kalah cepatnya dengan gerak lawannya.

Ki Ajar Talun tersentak melihat serangan Raden Sekartanjung yang cepat. Tetapi iapun masih mampu mengimbangi kecepatan gerak sang adipati, sehingga dengan demikian maka iapun mampu pula menghindari.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Seperti yang telah diperhitungkan oleh Raden Sekartanjung. maka Ki Ajar Talun pun mulai berputaran. Tetapi Raden Sekartanjung tidak mau lagi terkurung oleh putaran prahara yang membuat kepalanya menjadi pening.

Ketika Ki Ajar Talun mulai dengan mengetrapkan ilmunya. Raden Sekartanjung telah meloncat keluar lingkaran. Sekali dua kali Ki Ajar Talun seolah-olah bagaikan kehilangan korbannya. Tetapi ternyata bahwa Ki Ajar Talun memang menguasai ilmunya dengan mapan. Karena itu ia tidak memberi kesempatan lagi kepada Raden Sekartanjung. Ketika sekali lagi Raden Sekartanjung meloncat keluar dari putaran Ilmunya, maka Ki Ajar Talun tidak meloncat menyerangnya, melainkan segera meningkatkan daya kemampuan ilmunya dan mengikuti kemana loncatan sang Adipati Tuban itu.

Begitu Raden Sekartanjung meloncat keluar, maka putaran itu seolah-olah telah bergeser langsung mengurungnya, meskipun sekali-sekali dengan arah yang berlawanan.

Dari agak jauh Raden Sunan memperhatikan pertempuran yang aneh itu dengan saksama. Bahkan sekali-sekali nampak keningnya berkerut. Sementara Ki Guru Ngangsar sambil tersenyum berkata, "Persoalannya terletak pada waktu."

Raden Sunan menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia mengedarkan pandangan matanya kesekeliling pertempuran kecil itu. Dipandanginya pertempuran antara Kusir Adipati dan orang bersenjata tombak sejenak. Namun pertempuran itu tidak menarik perhatiannya. Keduanya memang memiliki kelebihan. Tetapi seolah-olah keduanya telah dapat mengurus diri mereka sendiri. Bahkan ada semacam keyakinan bahwa akhirnya Kusir Adipati akan dapat mengalasi lawannya. karena sebenarnyalah orang bersenjata tombak itu bukan orang yang pantas dicemaskan.

Pandangan Raden Sunan tertambat sebentar pada pertempuran antara pengawal kadipaten dengan seorang anak muda. Pengawal kadipaten itu ternyata benar-benar seorang yang pilih tanding. Meskipun lawannya yang muda itu memiliki kelebihan, namun dihadapan pengawal kadipaten itu ia tidak banyak mempunyai kesempatan.

Meskipun demikian benturan-benturan Ilmu telah terjadi. Jauh dari jangkauan nalar orang kebanyakan. "Cucu permaisuripun kurasa masih aman juga. Karena itu rasanya aku belum perlu menampakkan diri, apalagi sampai terlibat secara langsung."

Namun dalam pada itu. pusat harapan Ki Guru Ngangsar adalah putaran pertempuran antara Ki Ajar Talun dan Raden Sekartanjung. Dengan ketajaman penglihatannya, sebagaimana juga Raden Sunan, ia melihat putaran ilmu Ki Ajar Talun yang sangat dahsyat, meskipun oleh orang lain kedahsyatannya itu tidak dapat dilihat dengan mata kewadagan. Dengan demikian, maka Ki Guru Ngangsar masih tetap menganggap bahwa akhir dari pertempuran itu akan terjadi seperti yang ia harapkan.

Tetapi yang kemudian sangat menarik perhatian Raden Sunan dan Ki Guru Ngangsar adalah Raden Sekartanjung. Ki Guru Ngangsar dengan nada tegang berkata, "Apapun yang terjadi dengan yang lain. namun sebentar lagi Raden Sekartanjung akan dikuasai sepenuhnya oleh Ki Ajar Talun. Jika demikian. maka segalanya akan cepat selesai."

Raden Sunan tidak menjawab ia melihat putaran Ki Ajar Talun yang cepat dan memiliki kekuatan khusus itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Betapapun kemanapun Raden Sekartanjung meloncat namun ternyata putaran itu seakan-akan tetap tidak mampu dihindarinya lagi.

Raden Sekartanjung sendiri merasa, bahwa putaran itu seolah-olah selalu berhasil langsung mengurungnya jika ia meloncat keluar. Bahkan kadang-kadang ia masih mendengar suara tertawa kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3