Rusman
Rusman Praktisi Pendidikan, Aktivis SAMBANGPRAMITRA - www.kompasiana.com/rusrusman522 - www.facebook.com/rusman245

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Sang Pelantun Syair

7 Agustus 2018   01:27 Diperbarui: 8 Agustus 2018   20:49 1433 5 3
Cerpen | Sang Pelantun Syair
travelbyannllc.com

Ketika Raden Patah meminta ayahanda Raja Majapahit untuk berkenan datang ke Demak dengan cara mengutus dua pembantunya yaitu Ki Wira dan Ki Pinunjul, maka Sang Brawijaya itu tidak berkenan datang. Namun sebagai bukti bahwa sang Raja merestui berdirinya Kesultanan Demak beliau menitipkan bumbung kecil agar disampaikan kepada putranya. 

Sayang sekali saat kedua utusan itu beristirahat benda tersebut berhasil dicuri oleh seorang wanita cantik di hutan Gembul di daerah Montong Tuban. Ki Wira dan Ki Pinunjul agaknya tidak mampu mengimbangi kemampuan lari sang pencuri sehingga kehilangan jejaknya. Karena lelahnya Ki Pinunjul tertidur dan bermimpi didatangi lelaki yang berpakaian hitam-hitam yang memberikan petunjuk agar Pinunjul datang ke suatu tempat.

Rembulan kian merambat ke tengah ketika Ki Pinunjul mengakhiri sholatnya. Seperti biasa pemuda itupun meneruskan dengan membaca do'a (dzikir). Tapi pendengarannya yang tajam mendengar suara yang mencurigakan. Awalnya pemuda ini kurang menghiraukan, siapa tahu hanya suara dedaunan yang  tertiup angin, pikirnya. Tetapi semakin lama suara itu menjadi kian jelas. 

Seusai melakukan dzikir pemuda itu lantas mencari tempat dari mana asal-usul suara tadi. Dia sengaja melangkah dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan suara.

"Aih !" Hampir saja lelaki itu terpeleset ketika kaki kirinya menginjak lahan yang kosong. Untunglah pemuda ini cukup gesit untuk meloncat ke belakang. Setelah diamati ternyata sebuah sumur liar yang sangat dalam hampir saja menelan dirinya.

Terasa meremang bulu kuduk Ki Pinunjul ketika dengan jelas dia mendengar suara cekikikan seorang wanita dari dalam sumur liar itu.

"Kau tak boleh pulang kakang, tinggalah bersama aku di sini", kata wanita itu sesudah tertawa keras. Yang dipanggil kakang tidak menyahut, namun Ki Pinunjul yakin bahwa di dalam goa atau sumur itu ada juga seorang lelaki yang menjadi kekasih wanita itu. Lantas siapakah sebenarnya kedua orang ini ?

"Kaulah yang selama ini selalu aku tunggu kakang", lanjut wanita itu lagi "peluklah aku erat-erat".

Suara itu berhenti. Tapi sekejab kemudian tertawanya malah terdengar lebih keras.

"Hi.....hi....hi...., oh kakang, pokoknya kau harus menjadi suamiku. Kau tidak aku ijinkan keluar dari goa ini. Bambu kuning yang ada di tanganku inilah yang menjadi taruhannya".

Betapa kagetnya Ki Pinunjul  ketika perempuan itu menyebut bambu kuning. Kalau demikian, mungkinkah .... oh, astafirullah haladzin ... Kenapa harus begini kakang Wiro.

Saking terkejutnya Ki Pinunjul sehingga tak terasa kakinya menyentuh sebuah batu. Batu itu jatuhke dalam goa sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.

"Hai, siapa di luar ?" Berbarengan dengan bentakan itu seorang wanita cantik melesat keluar dari dalam goa. Tentu saja Ki Pinunjul segera melompat ke belakang untuk menghindari tendangan wanita tersebut.

"Siapa kamu, berani sekali mengintip tempat tinggal kami ?" tanya wanita itu sambil melotot.  

Namun ketika wanita itu tahu yang dihadapi adalah seorang pemuda yang ganteng, wajah wanita itupun berubah menjadi ramah..

"Bocah bagus, mengapa kau mengintip kami ?"

"Aku menginginkan bambu milikku itu. Kembalikanlah kepadaku !" kata Ki Pinunjul.

"Oh ini, ya tentulah nanti akan aku berikan padamu. Tapi ikutlah ke dalam goa dulu".

"Tolonglah, berikanlah bambu itu kepadaku !" pinta pemuda itu lagi. Tiba-tiba wajah wanita cantik itu berubah menjadi merah lagi, seolah-olah menahan amarah yang luar biasa.

"Dasar kau anak muda tak tahu disayang", katanya sambil bersiap "Agaknya aku terpaksa harus menyeretmu dari sini".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2