Mohon tunggu...
Rusdi Mustapa
Rusdi Mustapa Mohon Tunggu... Guru sejarah di MAN 1 Surakarta yang menyukai dunia literasi. Aktif sebagai blogger sejak tahun 2003 dengan membuat blog www.history1978.wordpress.com. Menulis adalah sebuah pengembaraan seru yang akan menemukan hal-hal baru. "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang akan terjadi", itulah keyakinannya untuk selalu menulis.

Guru sejarah di MAN 1 Surakarta yang menyukai dunia literasi. Aktif sebagai blogger sejak tahun 2003 dengan membuat blog www.history1978.wordpress.com. Menulis adalah sebuah pengembaraan seru yang akan menemukan hal-hal baru. "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang akan terjadi", itulah keyakinannya untuk selalu menulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Generasi Millenial Belajar Busana Keraton

27 Agustus 2018   15:32 Diperbarui: 31 Agustus 2018   06:39 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ketika Generasi Millenial Belajar Busana Keraton
Peserta workshop antusias mengikuti acara ( sumber :koleksi penulis)

Budaya merupakan aset terpenting yang dimiliki suatu negara. Bahkan bisa dikatakan jika tidak memiliki budaya maka sirnalah suatu bangsa. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi kekayaan sekaligus kebanggaan bangsa. 

Kelangsungan budaya di Indonesia salah satunya tergantung dari bagaimana sikap generasi muda. Generasi muda merupakan sosok penerus masa depan bangsa yang akan membawa bangsa ini ke arah kemajuan maupun kemunduran. Sehingga dapat dipahami ketika generasi muda tidak lagi peduli dengan budaya bangsanya, maka hal ini merupakan alamat hancurnya suatu bangsa. Sesuatu yang tentu sangat tidak kita harapkan. 

Di era millenial ini, di tengah gempuran budaya barat yang semakin gencar, kepedulian generasi millenial akan budayanya sangat memprihatinkan. Mereka lebih bangga ketika bisa meniru ( dalam konsep antropologi disebut dengan "mimesis) semua hal yang berbau barat, mulai dari cara bicara, berpakaian, bahkan sampai pada masalah pemikiran. Budaya barat yang mengedepankan aspek kebebasan tentu menjadi daya tarik yang besar bagai generasi millenial.

Berawal dari pemikiran tersebut, Solo Societeit, sebuah komunitas pecinta sejarah dan budaya di kota Surakarta, menghelat kegiatan Workshop dan Bincang Budaya dengan tema "Ngadi Busana Kraton", ahad (26/8/2018) bertempat di Ndalem Kayonan, Keraton Surakarta. Kegiatan diikuti oleh sekitar 50 orang peserta yang berasal dari berbagai kalangan, dari pelajar, mahasiswa, pemerhati budaya Jawa. 

Menurut pendiri Solo Societeit, Heri Priyatmoko, kini generasi Millenial banyak yang tidak tahu dan cuek mengenai budaya Jawa. Dengan mengemas acara ini secara segar dan berbeda, komunitas itu ingin mengajak generasi millenial mengenal nilai luhur berbusana yang diwariskan keraton. 

Sejarawan Surakarta yang juga dosen di jurusan sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini menyatakan Solo Societeit berusaha melakukan terobosan dengan belajar sejarah yang lebih kreatif, segar, serta menghibur. Kegiatan  digelar dalam satu rangkaian, yakni napak tilas sejarah, workshop dan bincang seputar busana keraton.

Peserta mempratikkan sikap lampah dhohdok ( sumber : koleksi penulis )
Peserta mempratikkan sikap lampah dhohdok ( sumber : koleksi penulis )
Dalam kesempatan ini, peserta mendapat pemaparan seputar busana yang di kenakan oleh kerabat ndalem keraton yang selama ini belum diketahui dengan narasumber pengajar Pawiyatan Keraton Surakarta K.R.A. Budayaningrat dan alumnus Pawiyatan yang juga anggota Solo Societeit Rohmad Hidayat. 

Peserta sangat antusias ketika praktik melipat jarit untuk membuat wiru. Mereka juga antusias mencoba sikap lampah dhodhok yang biasa dilakukan oleh kerabat keraton. Pengalaman yang luar biasa bagi peserta. Sesuatu yang selama ini hanya mereka baca, dengar atau bahkan belum mengenal sama sekali, di hari itu mereka mengalami secara langsung. 

Peserta belajar dengan Gusti Moeng ( sumber : koleksi penulis)
Peserta belajar dengan Gusti Moeng ( sumber : koleksi penulis)
Kegiatan workshop terasa istimewa dengan hadirnya putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari ( Gusti Moeng ) di tengah-tengah peserta. Kehadiarannya menjadi daya tarik bagi segenap peserta karena bisa ngangsu kawruh (belajar) langsung pada kerabat keraton. 

Gusti Moeng menyatakan rasa gembira karena generasi muda masih peduli dan mau belajar budaya Jawa di tengah gempuran budaya barat yang semakin gencar. Ditambahkan, jika bukan generasi muda yang nguri-uri (merawat) budaya Jawa, siapa lagi yang akan merawat. 

Keraton merupakan bentuk pemerintahan yang sudah ada sebelum berdirnya Republik Indonesia. Semua hal yang berhubungan dengan kenegaraan bisa di dapatkan di keraton, mulai dari sistem pemerintahan, tata kelola negara, budaya hingga tata pergaulan, termasuk cara berbusana. Hal ini wajib diketahui oleh generasi muda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN