Mohon tunggu...
Rulli Rachman
Rulli Rachman Mohon Tunggu... -

"talk with me about football, travelling, camping, books, coffee even engineering..."

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menumbuhkan Nasionalisme

18 Mei 2017   18:01 Diperbarui: 18 Mei 2017   18:14 413
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
menikmati kopi di jalur barat pantai Sumatera

Cinta tanah air, keberpihakan pada produk dalam negeri adalah beberapa definisi dari Nasionalisme. Timbul pertanyaan. Apakah jika kita memilih untuk menggunakan produk luar negeri, misalnya mesin (engine) buatan Eropa, lalu itu artinya kita tidak memiliki nasionalisme yang tinggi?

Saya sepakat bahwa mencintai produk dalam negeri adalah salah satu wujud nasionalisme. Dengan catatan mempertimbangkan segala faktor. Dalam memilih mesin tentu faktor yang perlu dipertimbangkan terdiri dari misalnya kualitas barang, kinerja produsen, ketersediaan spare part – suku cadang, layanan purna-jual dan lain-lain. Bila akhirnya pilihan jatuh pada produk buatan luar negeri, tentu itu bukan jadi masalah. Toh dengan menggunakan produk tersebut niscaya terbuka kesempatan kita untuk mempelajari teknologi yang mereka gunakan. Bahkan pada tingkat advanced, kita bisa melakukan reverse engineering – proses rekayasa teknik memproduksi barang dengan desain yang kurang lebih sama atau bahkan lebih baik.

Saya setuju bahwa nasionalisme itu perlu ditumbuhkan, bukan sekedar jargon belaka.

Saya beruntung dilahirkan dengan jiwa petualang, suka travelling (catatan : senang plesiran). Ditambah lagi dengan pekerjaan saya yang seringkali memerlukan kunjungan ke daerah-daerah diluar pulau Jawa. Menurut saya, travelling menjelajahi pelosok nusantara adalah salah satu metode yang pas untuk menumbuhkan nasionalisme. Dengan jalan-jalan, travelling kita akan menemukan banyak hal-hal baru yang mungkin kita tidak dapatkan di tempat asal kita. Hal-hal yang bisa membawa kita kepada refleksi, perenungan yang dalam tentang makna nasionalisme.

Contoh pertama, seringkali kita merasa bahwa pembangunan di pulau Jawa itu sudah berlebihan – over. Pemukiman yang rapat jaraknya, Gedung-gedung bertingkat menambah sesak perkotaan. Tapi cobalah kita jelajahi sisi luar Pulau Jawa.

jalur timur trans Sumatera
jalur timur trans Sumatera
Foto diatas adalah foto saat perjalanan saya menuju kesalah satu lokasi stasiun gas di Jambi, Sumatera. Bisa kita lihat bahwa betapa ‘lega’-nya jarak antar perumahan. Ditambah jalur yang cukup lengang karena memang armada kendaraan masih bisa dihitung dengan jari. Hanya mobil yang menuju lokasi kerja, diselingi dengan truk-truk pengangkut kelapa sawit. Otomatis udara pun masih segar karena minimnya polusi asap kendaraan. Sangat bertolak belakang dengan kondisi di ibukota bukan?

Bicara perjalanan ke daerah-daerah maka mau tidak mau kita akan melihat betapa ketimpangan infrastruktur masih terlihat disana-sini. Bukan hanya infrastruktur vital semacam jalan raya tapi juga fasilitas umum. Pernah suatu malam saat menuju daerah Bengkulu, kami hampir kehabisan bensin. Setelah sekian kilometer belum tampak tanda-tanda adanya SPBU. Beruntung kami diselamatkan oleh ‘Pertamini’, SPBU skala kecil yang dikelola oleh penduduk sekitar.

'pertamini', penyelamat asa.
'pertamini', penyelamat asa.
Menyinggung soal infrastruktur tentu perlu juga dibahas soal ketersediaan energi. Indonesia termasuk salah satu Negara dengan ketersediaan sumber energi yang melimpah. Sebut saja energi primer seperti batubara, minyak bumi, gas alam. Belum termasuk energi terbarukan seperti panas bumi, air, angin dan lain-lain. Data dan populasi energi tersedia dengan melimpah dari berbagai sumber. Tapi jangan heran, bisa jadi saat kita berada di salah satu kota yang memiliki produksi sumber energi yang tinggi namun soal mati listrik itu sudah menjelma menjadi habit – kebiasaan disana.

Jalan-jalan juga akan membuka wawasan kita tentang makanan khas daerah (baca : kuliner). Acara makan ini tentu selalu masuk dalam agenda perjalanan. Bubur manado, gudeg jogja, mie ongklok khas Wonosobo, semuanya akan memanjakan lidah kita dengan rasa yang bervariasi.

mie ongklok dengan sate sapi khas Wonosobo
mie ongklok dengan sate sapi khas Wonosobo
 

mie celor khas Palembang
mie celor khas Palembang
“Oh ternyata disini jaringan listrik belum masuk ya…”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun