Ruli Mustafa
Ruli Mustafa wiraswasta

THE TWINSPRIME GROUP- Founder\r\n"Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang disampaikannya" (Ali bin Abi Thalib ra). E-mail : hrulimustafa@gmail.com. Ph.0818172185. Cilegon Banten INDONESIA

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memilih Pemimpin yang Amanah

14 Januari 2018   08:11 Diperbarui: 14 Januari 2018   08:54 1158 0 0
Memilih Pemimpin yang Amanah
RoelMoez

"Kullukum ra'in, wa kullukum masulun an-ra'iyyatih - Setiap kamu adalahpemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban" (HR. Bukhari Muslim)

Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari 'amina- amanatan'yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Amanah juga mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman.

 Sejatinya esensi kepemimpinan itu ialah kapabilitas dalam memegang kepercayaan, pertanggungjawaban, responsibilitas dan akuntabilitas. Responsibilitas merujuk kepada tanggung jawab melayani atau 'kualitatif' sedangkan akuntabiltas adalah soal perhitungan tanggung jawab 'kuantitatif'nya. Karena itulah pemimpin disebut 'Leader" bukan sekedar "Dealer". 

Pemimpin harus hadir di depan, selangkah lebih maju dan siap menjadi panutan masyarakat yang dipimpinnya, bukan melakukan 'deal-deal" semata hanya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. 

Dalam sejarah kenabian, selalu dikisahkan profesi para Nabi dan Rasul sebagai penggembala dan pedagang. Karena dari kedua profesi tersebut, manusia akan banyak belajar tentang keadilan, kesabaran dan keikhlassan, disamping juga kebenaran serta keberanian dan ketegasan. Seorang pemimpin, sebagaimana layaknya penggembala harus bertanggung jawab penuh memikul mandat yang diembannya, berinteraksi dengan yang dipimpinnya. 

Sementara dari profesi pedagang diperoleh filosofi integritas, yakni jujur dan benar, tidak berlaku curang apalagi melakukan pembohongan publik. Seleksi calon pemimpin yang jujur, adil, sabar dan ikhlas mengabdi bukan hal mudah, namun harus dicari sebab itulah modal setiap orang untuk dapat disebut sebagai pemimpin yang berintegritas. 

Kita sudah sering saksikan jelang pemilihan langsung kepala daerah, umumnya banyak pasangan calon  yang mengumbar janji kepada rakyat. Sangat wajar bila rakyat ingin tahu rekam jejak calon pemimpinnya sebelum memberikan mandat, supaya tidak seperti memilih kucing dalam karung. 

Selain itu menuntut pula komitmen pengabdian para kandidat kepala daerah itu setelah terpilih, itulah yang kemudian mendorong masyarakat menagih pakta integritas, sebuah kontrak politik berisi "janji suci" pengabdian altruistik, pengabdian tulus untuk lebih mengedepankan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan pribadi atau golongan. 

Selain juga sebuah janji tertulis untuk mengedepankan kejujuran dalam menjalankan mandat. Pakta integritas atau integrity pact, merupakan salah satu alat (tools) yang awal mulanya dikembangkan oleh Transparency International di tahun 1990-an, bertujuan menyediakan sarana bagi Pemerintah, Perusahaan swasta dan masyarakat umum guna mencegah tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), awalnya terutama dalam dalam rangka kontrak-kontrak pemerintah (public contracting). 

Konsep ini diadopsi oleh banyak kalangan, dari organisasi sosial hingga partai politik. Makna integritas adalah kesetiaan kepada yang benar, artinya ada konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip, satu kata dengan perbuatan. Nilai dan prinsip ini tentunya tidak lepas dari yang namanya kebenaran. 

Oleh karena itu orang yang memiliki integritas pasti akan menjadi orang yang jujur dan menerapkan keadilan lintas batas. Pakta integritas juga menjadi sebuah prasyarat investasi sosial ditengah merebaknya krisis kepercayaan di masyarakat dewasa ini. Komitmen atas kebenaran ini penting agar skema kebijakan dapat diimplementasikan secara penuh dan tepat sasaran, tanpa ada sedikitpun penyelewengan yang merugikan kepentingan komunal. 

Namun pada kenyataannya, sering ada kesenjangan diantara das sein dengan das sollen- antara cita-cita dengan apa yang terjadi alias ada banyak kesenjangan diantara Pakta (janji-janji) dengan Fakta (kenyataan). 

Betapapun, pakta integritas tetap penting untuk dikedepankan sebagai komitmen awal, sebagai jangkar aturan main (the rule of conduct) yang benarharus ada pengawasan yang melekat, agar selalu tetap terjaga komitmennya. 

Mengingat sifat manusia yang mudah lupa atau malah sering melupakan aturan-aturan, maka harus selalu ada mekanisme check and balance, saling mengingatkan. Kesetiaan kepada kebenaran atau kejujuran itu mudah diucapkan tetapi sulit untuk diwujudkan tanpa ada dukungan sistem yang baik. 

Fakta sosial saat ini banyak melenceng dari pakta integritas yang telah dibangun, kebanyakan disebabkan oleh : Pertama, kelangkaan panutan dan contoh dari pemimpin dan para tokoh masyarakat, sehingga bergulir kepada perilaku asosial, pragmatisme, hingga degradasi moral masyarakat. 

Kedua, sistem yang dibangun kurang baik dan kurang sesuai dengan kebutuhan, artinya mengandung banyak celah yang mudah disiasati untuk dilanggar. 

Ketiga, faktor lingkungan yang tidak kondusif, sebagai contoh anggapan umum bahwa memperoleh uang ekstra diluar gaji sebagai pegawai atau pejabat publik, yang sesungguhnya merupakan gratifikasi, malah dianggap wajar atau lumrah, padahal tidak jujur alias melanggar. Sebaliknya seseorang yang jujur tapi dianggap tidak lumrah, lalu disingkirkan. Keempat, sanksi yang tidak tegas ketika terjadi pelanggaran atas pakta integritas yang disepakati. 

Kelima, tidak dilakukannya pengawasan melekat dan berkesinambungan, sehingga rentan dengan kelalaian dan memudahkan terjadinya pelanggaran. Keenam, mental dasar manusianya yang memang kurang cakap. Jadi faktor SDM berkualitas adalah penting, sebagai awal yang harus dilakukan dalam memilih dan memilah individu-individu yang berkualita. 

Dengan demikian diperlukan kesetiaan kepada yang benar, komitmen luhur yang melekat sepanjang hayat. Karena itulah amanah dan integritas adalah pertanda berbakti dengan bukti, satu kata dengan perbuatan. Betapapun, menjadi pemimpin yang amanah itu tugas yang amat berat, terutama soal tanggung jawabnya yang berlapis, tidak saja di dunia, melainkan juga di akhirat nanti ! (*)