Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... dibuang sayang

Kutuliskan lagu ini Kupersembahkan padamu Walau pun tiada indah, syair lagu yang kugubah Kuingatkan kepadamu, akan janjimu padaku

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Indonesia dan Portugal pun Sepakat di "New York Agreement", Apa Itu?

10 Desember 2020   10:05 Diperbarui: 10 Desember 2020   10:13 126 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia dan Portugal pun Sepakat di "New York Agreement", Apa Itu?
Adam Malik (indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com)


Hari ini 45 tahun yang lalu, tepatnya 7 Desember 1975, pasukan Indonesia menginjakkan kakinya di Timor Leste (dahulu Timor Timur). 

Didahului oleh pasukan laut yang mendarat di Timor Portugis, kemudian diikuti oleh pasukan udara yang diterjunkan dari pesawat dengan maksud untuk merebut Kota Dili, ibukota Timor Timur.

Inilah invasi pertama kalinya militer Indonesia dengan maksud untuk klaim Timor Timur sebagai bagian dari Bumi Pertiwi. Pasukan Indonesia dengan maksud merebut Dili masih bertempur dengan Fretilin (Front Revolusi Kemerdekaan Timor Timur).

Lantas tiga hari kemudian, pasukan Indonesia mengadakan invasi yang kedua. Militer pun berhasil merebut Baucau, kota kedua terbesar di Bumi Lorosae.

Patut diketahui, 9 hari sebelumnya (pada 28 Nopember 1975) Fretilin mengumumkan kemerdekaannya dari penjajah Portugis yang telah menduduki mereka sejak abad ke 16.

Bentrokan yang terjadi antara Fretilin dan militer Indonesia, yang kemudian oleh kelaparan dan penyakit menyebabkan banyak korban yang tewas yang diderita oleh rakyat Timor Timur.

Militer Indonesia yang dibantu oleh milisi pro Indonesia pun akhirnya berhasil menundukkan Dili.

Harian Australia, The Sidney Morning Herald, melaporkan keberhasilan militer (dari Angkatan Laut & Angkatan Darat) dan pro Indonesia itu yang menaklukkan Dili menyebabkan banyak warga terbunuh. 

Terlebih pasukan payung diterjunkan, punggawa Fretilin kocar-kacir dan melarikan diri ke wilayah perbukitan (di luar Dili). Dari situlah mereka berencana untuk melakukan perang gerilya.

Darwin di Australia menangkap siaran radio dari Fretilin yang mengatakan banyak wanita dan anak-anak yang ditembak di jalanan, Fretilin juga memberitakan sendiri lewat radio yang ditangkap di Darwin itu yang mengatakan tentara dan pasukan payung lah yang memimpin invasi tersebut.

Dari Jakarta, Menteri Luar Negeri Indonesia saat itu, Adam Malik, menyanggah pernyataan Fretilin tersebut. Adam Malik mengatakan justru mereka lah (Fretilin) yang membunuh wanita dan anak-anak itu karena mereka (wanita & anak-anak itu) mendukung pasukan APODETI dan UDT yang pro Indonesia selama invasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x