Humaniora Artikel Utama

Pentingnya Mengajari Anak Mengelola Stres Sejak Dini

17 April 2018   10:13 Diperbarui: 17 April 2018   22:21 2308 3 2
Pentingnya Mengajari Anak Mengelola Stres Sejak Dini
Brian A. Jackson/Shutterstock/cbc.ca

Kemampuan mengelola stres tak hanya penting bagi orang dewasa. Anak masa kini juga menghadapi setumpuk tantangan. Yuk, ajari mereka mengelola stres.

Si kecil tiba-tiba mudah menangis, atau menarik diri dari aktivitas yang biasanya disukai? Bisa jadi ia mengalami stres.

Ya, sama seperti orang dewasa, anak-anak pun tak lepas dari kondisi stres. Stresor atau penyebab stres pada anak umumnya berkaitan dengan situasi yang ia hadapi sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Misalnya, ada anak yang stres ketika memiliki adik bayi, atau karena kesulitan yang dihadapi di sekolah.

"Stres pada anak bisa muncul dari berbagai sumber. Misalnya, seberapa mampu ia menjalani aktivitas di sekolah, menjalin dan mempertahankan pertemanan, dan mengelola tuntutan atau harapan orangtua, guru, maupun pelatih," ungkap Aurora Lumbantoruan, M.Psi., dari Keara Konsultan.

"Kondisi hubungan dengan keluarga dan adanya permasalahan di rumah - bila ada peristiwa negatif atau musibah - juga bisa berkontribusi dalam menimbulkan stres yang dialami anak," papar Aurora.

Lebih jauh Aurora mengingatkan bahwa stres bersifat subjektif.

"Setiap anak bisa saja merasakan stres akan satu hal, tapi tidak terlalu stres atau terganggu akan hal lain," paparnya. "Ini tergantung pada kapasitas berpikir, berkomunikasi, mengelola emosi yang dialami, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan."

Umumnya, anak belum mampu mengungkapkan kalau dirinya stres. Kata-kata yang mungkin digunakan untuk menyatakan stres, misalnya, adalah khawatir, bingung, sedih, terganggu, marah, dan perilaku yang mengikuti perasaannya tersebut (menangis, agresif, murung).

Di sinilah orangtua perlu memahami setiap perubahan perilaku yang negatif, yang bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang salah atau yang sedang mengganggu pikiran atau emosi anak. Bentuk stres sendiri umumnya berupa perubahan emosi atau mood, dan perilaku.

Aurora mengungkapkan sejumlah riset yang menemukan perbedaan reaksi dalam anak perempuan dan laki-laki ketika menghadapi stres. Anak perempuan cenderung mencari dukungan sosial dan berusaha menyelesaikan masalah, dan anak laki-laki cenderung menghindar.

"Anak perempuan juga cenderung lebih mudah mengkomunikasikan perasaannya dan menunjukkan emosinya. Karena itu, mereka dianggap lebih mudah mengalami stres," jelas Aurora.

Sementara itu, reaksi anak terhadap stres bisa berupa reaksi secara internal dan eksternal. Reaksi internal muncul dalam pikiran dan perasaan, seperti bingung, khawatir, sedih, kecewa, marah, dan berpikir tidak bisa melakukan aktivitas tertentu.

Reaksi secara eksternal adalah saat anak mengekspresikan rasa marah atau sedih, namun lebih sering secara tidak langsung. Misalnya, menampilkan perilaku mengganggu orang lain atau agresif. Atau, ia mogok sekolah, dan merasa selalu sakit ketika mau sekolah.

"Orangtua harus peka terhadap perubahan perilaku anak, baik di rumah dan di sekolah," pesan Aurora. "Berkomunikasilah dengan orang dewasa yang berinteraksi dengan anak, sehingga ia bisa menemukan penyebab stres yang dialami."

Psikolog ini menggarisbawahi risiko bila stres pada anak tidak diatasi dengan baik, seperti emosi atau perasaan negatif yang bertumpuk dan membuat masalah semakin berat atau sulit ditangani. Stres pada anak juga bisa berujung pada gangguan perilaku, seperti perilaku agresif atau kenakalan.

Saat menginjak remaja, ia bisa rentan melakukan perilaku berisiko, seperti seks bebas dan aksi pelanggaran hukum, seperti mencuri dan penggunaan narkoba.

Untuk mengajak anak mengatasi stres dengan baik, Cecilia Helmina Erfanie, M.Psi., Psikolog, psikolog klinis anak dan remaja dari Pion Clinician, menekankan pentingnya keterampilan mengelola emosi pada anak.

"Keterampilan ini sangat perlu untuk diajarkan sedini mungkin, sehingga anak dapat mengolah emosi ketika berhadapan dengan situasi atau kondisi yang menekan, seperti menghadapi kondisi atau kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan," papar Cecilia.

Menurut Cecilia, untuk mengajarkan hal ini, orangtua perlu menciptakan pola asuh anak yang terbuka, di mana orangtua dan anak dapat mengungkapkan isi hati dan keinginan masing-masing.

"Ciptakan komunikasi dua arah dengan anak, sehingga anak dapat secara terbuka mengungkapkan apa yang ia rasakan. Berikan penjelasan kepada anak bahwa ia harus mampu melindungi dirinya sendiri dari situasi yang kurang menyenangkan atau mengancam," pesan Cecilia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2