Wisata

Mengenal Ritual Tungguk Tembakau

14 November 2017   14:42 Diperbarui: 14 November 2017   14:58 158 0 0
Mengenal Ritual Tungguk Tembakau
nasional.tempo.co

Hawa dingin berselimut kabut yang memaksa tubuh harus mengenakan baju hangat rupanya tak berlaku bagi para sesepuh adat Desa Senden, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam remang temaram pencahayaan obor, para sesepuh yang berpakaian adat itu tampak khusuk melaksanakan ritual dan doa. Rangkaian ritual dan doa pun dirapalkan menjelang ritual "Tungguk Tembakau" di Puncak Makam Petilasan Gunungsari, Lereng Gunung Merbabu, awal Agustus 2017.

Suasana sakral sungguh terasa ketika para sesepuh adat melantunkan doa-doa dengan Bahasa Jawa di tengah heningnya malam. Tungguk Tembakau yang berarti dimulainya panen memetik tembakau adalah prosesi ritual warisan leluhur yang hingga kini dilestarikan secara turun temurun. Seremoninya tentu tak lepas dengan suguhan sesajen beraneka ragam yang bertujuan membangun dialog kebudayaan yang dikemas sedemikian rupa, sebagai upaya memperkenalkan keindahan budaya dan tradisi Nusantara di mata dunia.

Ritual Tungguk Tembakau adalah ritual persembahan tradisional masyarakat kawasan lereng timur Merapi-Merbabu. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rasa wujud terima kasih serta syukur kepada Tuhan YME atas berkat dan rahmatNya sehingga tanaman tembakau yang mereka tanam dapat tumbuh dengan baik dan memberi berkah kesejahteraan untuk mereka.

Menjelang fajar, ratusan warga berbondong-bondong memadati kawasan makam dengan membawa sesajen berupa makanan dan sebuah tumpeng berukuran raksasa lengkap dengan lauk-pauknya. Sesajen ini dibawa ke tempat ritual kemudian dibagi-bagikan kepada warga yang hadir. Inilah bagian dari ritual Tungguk Tembakau, dimana warga bersuka ria menyambut awal musim panen tembakau. Sekaligus menjadi ajang memperkenalkan potensi daerah berupa Festival Kesenian. Tak ketinggalan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, hadir di perayaan ini dan nemetik daun tembakau pertama.

Tak hanya sekedar ritual, tradisi ini juga disemarakkan dengan Kirab Gunungan Tembakau, makanan dan hasil bumi beriringan berbagai kesenian tradisi lokal. Sebagai desa penghasil tembakau, warga berharap panen di musim ini dapat meningkat dibandingkan tahun lalu. Dengan harga jual kisaran Rp 60.000 per kilogram, para petani yakin hal itu dapat menjadi penopang ekonomi mereka.