Mohon tunggu...
Coach Rudy Ronald Sianturi
Coach Rudy Ronald Sianturi Mohon Tunggu...

Terapis Klinis, CoachWriter, Trainer & Motivator

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mengapa Banyak 'Parasit' dalam Politik?

4 April 2016   10:46 Diperbarui: 4 April 2016   11:15 305 3 1 Mohon Tunggu...

Bangsa ini kembali ketiban tsunami politik dengan ditangkapnya Sanusi dan kompradornya oleh KPK. Bisa dipastikan bahwa publik akan disuguhi sinetron bersambung karena Sanusi sangat mungkin berkicau sebagaimana Nazaruddin dulu. Hal yang sama sudah ditempuh Gatot dan istri mudanya dengan menjadi justice collaborator. Kita hargai bila sikap ini yang diambil Sanusi, bukan demi tontonan gratis, tetapi karena negeri ini memang sedang bersih-bersih sebagaimana amanat Reformasi 1998.

Sembari menanti unjuk kerja KPK, barangkali kita sebagai bangsa perlu mundur sejenak ke dalam diri dan bertanya: sesungguhnya, ada apa? Mengapa Reformasi yang digenangi darah anak bangsa justru melahirkan banyak politisi yang terlibat dalam kasus korupsi bahkan secara berjamaah? Bukankah semangat Reformasi adalah mengganti sistem Orde Baru yang kita percaya korup, kolutif dan nepotis? UUD 1945 diamandemen hingga berkali-kali guna membatasi kekuasaan eksekutif dan mengembalikan TNI ke tempatnya yang paling terhormat sebagai penjaga Republik. Tetapi di mana-mana, dari pusat hingga ke daerah-daerah terpencil, yang bermunculan bak jamur musim hujan adalah politisi-politisi karbitan, doyan berkata ganjil, bahkan sebagian, kosong melompong.

Tentunya ada masalah serius dengan sistem rekrutmen partai-partai politik. Selain itu, tentu berkaitan dengan tingkat pemahaman kebangsaan yang masih rendah, belum lagi sebagian mungkin kurang terdidik? Akan tetapi, pertanyaan kita sama: sesungguhnya, ada apa? Mengapa politisi yang adalah wakil rakyat malahan turun derajat menjadi wakil kepentingan pribadi? Dirumuskan dengan cara lain, pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya membuat orang berbondong-bondong menjadi politisi?

Ada sejumlah hipotesa yang bisa disodorkan. Seringkali analisis melihat bahwa politik yang kita praktekkan sejak 1998 justru anak kandung Reformasi! Rasa benci terhadap Orde Baru yang memaksa aspirasi dan aliran politik ke dalam dua partai dan satu golongan karya dituding sebagai biang keladinya. Reformasi membuka ruang ideologis yang super liberal sehingga orang bebas mendirikan partai. Di tahun-tahun itu, kita kerap mendengar kata eforia, sebuah kondisi emotif yang ditandai kegandrungan berpolitik dan berideologi. 32 tahun dalam cengkraman dan pembatasan, bangsa ini benar-benar meluapkan setiap jenis 'syawat' politik.

Kondisi di atas membuka berbagai skenario kerjasama antara modal, ideologi dan kekuasaan. Kita tahu bahwa mendirikan partai politik butuh dana besar untuk melengkapi sarat-saratnya. Harus ada yang membiayai, harus ada pula yang menginisiasi dan harus ada yang menyokong. Bisa dibayangkan, ada berapa orang kaya, berpengaruh, kuat dan cerdas yang mengumpul dalam sebuah partai. Terjadi sebuah simbiosis politik yang saling menguntungkan, atau saling menjegal, saat sudah tidak saling menguntungkan.

Sejak tahun 1998, kehidupan bangsa seakan berpusat pada partai politik. Pileg, Pilkada, Pilres dan pemekaran wilayah, kita terus-menerus mengitari politik dalam bentuk partai-partai politik.

Terang sudah bahwa partai politik seperti lampu yang menggoda laron-laron untuk berkerumun. Mobilisasi sosial dan politik akan sangat dimungkinkan dengan menjai anggota partai. Kekuasaan, prestise dan kekayaan, sangat mungkin diakselerasi berkat amanademen yang memberi kekuasaan begitu besar pada legislatif -- yang ironisnya, semangat awal adalah justru supaya kekuasaan eksekutif terkontrol. Tidak disangka, kekuasaan yang dibatasi itu tampaknya dianugerahkan kepada legislatif, khususnya terkait uang. Sehingga, sudah rahasia umum, misalnya, bahwa Banggar menjadi ajang eksploitasi dan pemerasan atau pembahasan peraturan menjadi 'legalisasi' bancakan berjamaah.

Bukan berlebihan bila dikatakan bahwa politik yang hendak memperbaiki, berbalik bagai hama yang merusak sendi-sendi bangsa. Bukan berlebihan bila dikatakan bahwa politik yang hendak menghidupkan, berbalik bagai penghisap energi bangsa, parasit-parasit yang menumpang tanpa malu.

Ada lagi hipotesa lain yang bisa diajukan untuk menjawab perenungan kita sebagai bangsa. Hal ini akan dibahas dalam kesempatan terpisah.

BERSAMBUNG.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x