Mohon tunggu...
Rudi Darma
Rudi Darma Mohon Tunggu... Administrasi - pemuda senang berkarya

pemuda yang menjadi dirinya di kampung halaman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Biarkan Toleransi Memudar

14 Mei 2024   20:45 Diperbarui: 14 Mei 2024   20:46 78
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 Beberapa waktu terakhir beberapa kasus intoleransi marak kembali. Baik karena sebab-sebab teknis seperti suara TOA dari rumah ibadah yang sangat menganggu, juga suara gitar dan nyanyian yang menganggu  lingkungan sekitar karena terjadi sampai larut malam.

Beberapa kasus intoleransi di Indonesia itu ada yang sampai pengadilan, tapi beberapa diantaranya berhasil dimediasi oleh tokoh-tokoh lokal sehingga tidak sampai menimbulkan perpecahan. Meski juga menimbulkan suara berisik di media sosial, kasus-kasus itu terus terang menimbulkan tanda tanya sendiri pada benak kita.

Hal (tanda tanya) ini wajar muncul karena sejak kemerdekaan bahkan sebelum kemerdekaan, suasana Nusantara sebenarnya dipenuhi dengan suasana toleransi

Pada masa Wali Songo menyebarkan agama Islam, suasana toleran itu menimbulkan Islam tersebar dengan begitu cepat tanpa ada pertentangan dari banyak pihak. 

Begitu juga ketika Kristen Protestan dan Kristen Katolik . Aliran kepercayaan dan keyakinan Hindu Budha dengan rela hidup berdampingan dengan keyakinan baru seperti Islam. Seperti itu perkembangan keyakinan /agama di tanah air. Masuk dan berkembang di Nusantara tanpa pertentangan fisik maupun verbal.


Namun dalam perkembangannya, ada saja yang menjadi pertentangan antyar keyakinan. Terlebih jika beberapa keyakinan kemudian melihatnya dari dogma atau ajaran agama. 

Jika ini dilakukan tak jarang pertentangan akan terjadi, sehingga akan terjadi radikalisasi seperti yang terjadi pada awaltahun 200-an yaitu Bom bali 1 dan 2 dan kemudian ada beberapa aksi kekerasan sampai seputran menjelang 2020.

Meski beberapa tahun ini kekerasan seperti itu tidak terjadi secara besar seperti BomSurabaya, yang terjadi tahun 2018, namun riak-riak intoleransi masih saja terjadi. Disinilah kedewasaan kita melihat keyakinan itu secara dewasa. Kita perlu melihat agama sesuai dengan konteks sehingga bisa sesuai dengan alam lingkungan di mana agama itu berkembang.

Sebagai bangsa kita akan menginjak tahun ke 79. Kita tentu belajar arti perbedaan, kebersamaan dan harmoni sebagai warga negara. Toleransi yang telah  ada di Nusantara sejak zaman Wali Songo hendaknya kita pelihara sampai sepanjang hayat bangsa kita ini. Jangan biarkan toleransi ini memudar.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun