Mohon tunggu...
Puji Plolong
Puji Plolong Mohon Tunggu... Freelance

Daydreamer

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Jurusan Bahasa, Jurusan Buangan?

27 November 2018   11:40 Diperbarui: 28 November 2018   14:06 347 1 2 Mohon Tunggu...

Buat yang merasa pernah SMA mungkin pernah mendengar seloroh tentang anak jurusan bahasa, bahwa jurusan ini adalah jurusan buangan. Penulis sendiri dulu adalah anak jurusan biologi, dan sering mendengar bagaimana olok-olok yang dialamatkan ke anak-anak bahasa.

"Eh, lu anak bahasa ya? Nggak usah masuk deh, kan lu sekolahnya cukup pake feeling doang," begitu kira-kira candaan yang terkesan kurang ajar dulu sering kita dengar.    

Sekalipun bahasa sering diremehkan, anehnya orang paling kaya sedunia seperti Warren Buffet justru tidak pernah terlalu antusias dengan gelar sekolah bisnisnya dari Columbia Business School, tapi justru bangga dengan sertifikat public speaking yang dipajang di dinding kantornya, perusahaan Berkshire Hathaway.

Yang lebih unik lagi mungkin adalah Steve Jobs, sang almarhum pemilik perusahaan IT paling moncer sedunia dengan brand Apple atau iPhone. 

Semua orang tahu bahwa Steve Jobs ternyata justru tidak memahami bagaimana membuat baris-baris pemrograman alias coding, tapi kemampuan komunikasinya yang luar biasa untuk mengkoordinir dan mengakomodir pengembangan software di antar departemen usaha miliknya, justru menghasilkan produk berlabel premium. Belum lagi kemampuannya berpresentasi pada saat launching produk-produk buatan Apple, seolah membius konsumen loyalnya untuk mengantri ke gerai-gerai miliknya di seluruh dunia.

Orang bijak berkata, bangsa yang maju peradabannya adalah bangsa yang menciptakan kosakata-kosakata baru untuk mewakili ide-ide baru yang muncul di kepalanya. Semakin maju seseorang, akan semakin kaya kosakatanya, sehingga kemampuan dia untuk menyusun ide dalam kerangka mengartikulasikan algoritma penalaran berpikir juga ikut terpengaruhi. Jadi tidak heran kenapa seorang sejenius Einstein, juga sering kita jumpai mengucapkan kata-kata bijak yang belakangan juga sering dikutip orang banyak. Dan pada gilirannya, sudah pasti orang yang algoritma berpikirnya terstruktur dengan baik, pasti kemampuan kognitifnya juga semakin konstruktif.

Mungkin ini sebabnya kenapa di negara-negara maju usia pra sekolah amat menekankan pada pendidikan kognitif. Anak diberi keleluasaan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat experience tanpa terlalu menekankan pada materi yang berat seperti calistung - baca, tulis, hitung. Bahkan di tingkat perguruan tinggi, tradisi untuk menulis esai juga menjadi kewajiban sebagai syarat mutlak diterima tidaknya calon mahasiswa di lingkup akademis.

Akhir-akhir ini di era digital ketika informasi sering dipelintir menjadi antara yang mana kebenaran dan yang mana hoax, kita menjadi tersadar bagimana pentingnya pemahaman kognitif amat berpengaruh pada "kewarasan" algoritma pemikiran dibentuk untuk memilah-milah antara kejujuran dan muslihat. 

Lebih memprihatinkan lagi adalah bagaimana politisi-politisi "sontoloyo" bermain-main dengan logical fallacy untuk memperdaya massa, karena mereka mahfum benar bahwa sebagian besar masyarakat kita memang belum terbiasa dan terkondisikan bagaimana membangun pemahaman kognitif yang cukup.

Pendidikan agama memang bagus dalam andilnya untuk membentuk ahlak siswa - tapi dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pendidikan agama - untuk menempa bagaimana bagaimana membangun kemampuan kognitif yang mumpuni, literasi, baik membaca atau menulis tampaknya kurang mendapat porsi yang memadai bagi kebanyakan anak didik di negara kita tercinta ini. Mungkin itu sebabnya kenapa kita kurang mencintai "budaya buku".

"I very rarely think in words at all. A thought comes, and I may try to express in words afterwards." (Albert Einstein)

Dedicated to EMA

VIDEO PILIHAN