Mohon tunggu...
Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Mohon Tunggu... Guru - Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat, membaca dan menulis untuk pengembangan potensi diri dan kebaikan ummat manusia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bijak dalam Menggunakan Gawai di Keluarga

27 Mei 2020   17:38 Diperbarui: 27 Mei 2020   18:27 769
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ada sebuah peribahasa mengatakan ," buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Peribahasa ini menggambarkan bahwa perilaku seorang anak tak jauh dari perilaku kedua orang tuanya. Hal ini disebabkan karena naluri seorang anak adalah gemar meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Jika yang dilihat dan didengarnya hal-hal yang baik, maka prilakunya akan terbentuk kearah yang baik, begitupun sebaliknya.

Untuk itu, bagi setiap orang tua sangat diutamakan agar sebisa mungkin menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Namun, sudah sama-sama kita ketahui bahwa sumber belajar bagi seorang anak bukan saja kedua orang tuanya di rumah, namun bisa juga teman bermainnya di luar rumah atau bahkan smartphone. 

Ketika orang tua tidak punya cukup waktu untuk sekedar menjadi teman bermain atau bercerita bagi anak-anaknya, maka mereka akan mencari wadah lain yang dapat menampung keluh kesah mereka atau sekedar melampiaskan emosi mereka. 

Namun kadang sebagian orang tua berpikir bahwa mereka sudah semaksimal mungkin menjadi role model bagi anak-anaknya, namun apa yang diharapkan kepada anak-anak mereka agar menjadi anak yang rajin dan penurut belum berhasil. Hal ini membutuhkan kesabaran dan kesinambungan usaha setiap orang tua, jangan sampai kita sebagai orang tua menyerah untuk terus membentuk karakter mereka.

Salah satu hal yang menjadi tantangan para orang tua saat ini adalah maraknya penggunaan smartphone atau gawai pada anak.

Dibutuhkan komunikasi yang efektif antara anak dan orang tua, agar orang tua tidak salah dalam mengasuh anak-anak mereka.

Kurang bijak rasanya kalau para orang tua menjadikan gawai sebagai alat penentram bagi anak-anaknya dikala mereka sedang menangis atau sejenisnya. Kalau anak terlalu dini dikenalkan dengan gawai maka hal buruk akan terjadi. Mereka akan memiliki  rasa empati yang rendah terhadap lingkungannya, dan yang paling menakutkan mereka bisa jadi akan kecanduan gawai atau gadget. 

Untuk itu harus dibuat komitmen antara orang tua dan anak, kapan mereka baru boleh memiliki smartphone dan batasan-batasan lainnya. Banyak cerita para orang tua, bahwa anak mereka sampai larut malam belum tidur karena asyik main games di gadget. Anakpun mudah marah ketika mereka tidak memiliki kuota atau smartphone mereka disita. Jika hal ini sudah terjadi, maka dibutuhkan ketegasan para orang tua untuk memutus mata rantai masalah ini.

Memang sulit menghindari penggunaan gadget atau gawai pada anak-anak. Namun paling tidak, sebagai orang tua kita harus memiliki aturan di keluarga guna pembatasan penggunaan gawai pada anak. Tentunya yang pertama berawal dari orang tua dalam memberi keteladanan.

Jangan sampai anak berkata,"tuh, kan, ibu saja main handphone terus!"

Pemberlakuan reward dan punnishment perlu diberlakukan jika aturan bersama sudah disepakati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun