Mohon tunggu...
Rooy Salamony
Rooy Salamony Mohon Tunggu...

Saya pelayan masyarakat rooy-salamony.blogg.spot.com

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Fenomena Desa

7 Agustus 2012   06:32 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:08 0 0 0 Mohon Tunggu...

Suatu hari pada penghujung tahun 2010. Puluhan sepeda motor bergerak dalam formasi teratur. Cuaca cerah nampaknya berpihak pada rencana perjalanan para pengendara yang berencana menyatukan jarak Jakarta – Sukabumi. Pimpinan rombongan cekatan mengawasi. Ia memberi aba-aba peringatan pada setiap kondisi jalan yang berbahaya atau dengan maksud memberi perhatian pada hal-hal tertentu. Jalanan juram, tanjakan meliuk, lintasan kereta api, lampu merah, pasar, perkampungan, jalan makadam, adalah semua hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus pengendara. Sang pimpinan terkadang bergerak lambat untuk memantau ujung belakang robongan, kadang bergerak cepat untuk meminta ujung terdepan menahan laju kendaraan, atau sesekali berada di tengah memberi semangat.

Perjalanan rombongan sepeda motor ini semakin melambat ketika memasuki wilayah Kabupaten Bogor. Faktor penyebabnya, pertama-tama adalah jalan yang makin menyempit dengan turunan dan tanjakan meliuk. Kedua, pemandangan alam yang mempesona yang menjadi alasan mengapa rombongan ini lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada kendaraan roda empat.

Sepanjang jalan nampak hamparan sawah menghijau laksana permadani bagi tapak kemuliaan alam. Bukit-bukit penuh pepohonan melingkar memeluk dan melindungi pemukiman. Langit cerah membentang di atas. Udara sejuk merasuk pori-pori. Pesona tentang desa yang menggetarkan rindu dan rasa siapa saja. Lukisan dari kedamaian akan tanah air kaya raya, tentram, damai dan sejahtera. Eksostisme yang dipuja dan sekaligus disindir oleh JJ. Rizal ketika mengomentari orientalisme Raden Saleh dengan sebutan “mooi indie”. Indonesia yang cantik.

Desa memang cantik. Desa memberi rasa damai. Desa juga mungkin tanah air paling sentosa yang terpisah dari hiruk pikuk pertarungan politik. Ia adalah tempat dimana semua harapan dan keinginan berpulang.

Tapi lukisan indah tidak selamanya adalah kenyataan. Desa, terkadang tampil sebagai siluet yang menyamarkan semua problematika kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, keterbelakangan dan penutup episode peminggiran. Data Badan Pusat Statistik bulan Maret 2010 memperlihatkan bahwa desa merupakan rumah bagi 19,93 juta orang miskin Indonesia, dari total 32,53 juta orang miskin di negeri ini. Rumah yang didalamnya bermukim balita yang kekurangan gizi, ibu hamil dengan resiko melahirkan berdampak kematian, anak-anak buta huruf, juga orang tua dengan kesehatan yang jauh dari layak. Apakah yang dapat diharapkan dari suatu pemukiman dimana para pekerjanya berpendapatan rendah? Upah riil petani pedesaan Indonesia pada bulan Desember tahun 2010 adalah Rp.28.934. Jumlah penghasilan yang hanya cukup untuk makan.

Ketika para pengendara sepeda motor yang datang dari Jakarta melintas pedesaan Kabupaten Bogor pada akhir tahun 2010, saat itulah mereka menangkap wajah cantik mempesona dari gadis kekurangan makan dan sarat persoalan bernama desa. Sawah hijau membentang dan kicau burung yang menyahut menutupi kenyataan dari desa, bukan saja di daerah Kabupaten Bogor tapi semua tempat di Indonesia, yang penduduknya hanya dihargai nominal pekerjaan Rp.38.577. Persis seperti sindiran JJ.Rizal (dalam Harsja W.Bachtiar dkk, 2009:xxx-xxxi) atas eksploitasi kecantikan alam dalam lukisan-lukisan orientalisme Raden Saleh, semua eksostisme desa terkadang adalah tampilan yang menipu. Keindahan semu dalam wajah beku yang membunuh analisa perkembangan masyarakat dan sejarah.

Desa dengan demikian adalah fenomena. Meminjam konstruksi filsafat Immanuel Kant, desa sebagai realitas dan pemikiran manusia tentang desa adalah dua hal yang terpisah. Pengetahuan orang tentang desa berasal dari sintesis atas unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman (apriori) dengan unsur-unsur yang didapat setelah pengalaman (aposteriori). Gambaran tentang keindahan, kedamaian, kesejukan, keramahan, dan kegotongroyongan mungkin saja merupakan unsur-unsur apriori yang melekat pada pikiran para pengendara motor yang datang dari Jakarta dalam cerita di atas. Pengetahuan tentang desa baru didapat setelah unsur-unsur apriori cocok dengan data-data indrawi yang diperoleh para pengendara saat berada di desa.

Ruang dan waktu (Raum und Zeit) adalah adalah perangkat utama apriori. Keduanya membentuk struktur subjek yang bertugas menangani data-data realitas yang masuk melalui panca indra. Lily Tjahjadi (2004:283-4) mengingatkan bahwa ruang dan waktu Kant adalah kondisi mental kognitif manusia, yang berada di dalam diri. Iniberbeda dengan ruang waktu Newton sebagai suatu kerangka yang berada luar manusia.

Mengikuti konstruksi Kant, desa, dengan demikian berdiri sebagai sebuah realitas yang ada pada dirinya sendiri (das Ding an sich). Semua problem kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, atau peminggiran yang disebut di atas adalah hal-hal yang tidak bisa diamati, dipahami, dan diselidiki para pengendara motor di atas. Apa yang bisa diamati oleh orang-orang Jakarta saat melintas pedesaan Kabupaten Bogor hanyalah gejala atau fenomena. Fenomena tidak lain dari penampakan. Sawah menghijau, bukit yang membentengi dan pepohonan menyejukan, semuanya hanyalah fenomena. Ia bukan realitas.

Diskursus tentang fenomena sebagai pokok pengetahuan filsafat nampaknya perlu dibatasi sampai disini. Apa yang ingin disampaikan disini adalah bahwa potret desa yang tersimpan sebagai pengetahuan tiap orang berbeda-beda. Orang yang memiliki pengalaman masa kecil bermain layang-layang diantara pematang sawah, menyelam mencari kerang di tepi dermaga tua, atau memetik anggrek di tebing curam pegunungan memiliki pengetahuan tentang desa sebagai surga yang turun ke bumi. Sementara orang yang dibesar di antara kepungan asap kendaraan bermotor, berbelanja dari satu mal ke mal berikutnya, menyaksikan film Holywood di bioskop modern dan nyaman memiliki apriori tentang masyarakat udik, orang-orang dekil, hidup serba terbatas, dan cerita serba menyeramkan.

Bertahun-tahun silam, seorang presenter televisi berkelakar membawa kisah seorang anak kaya raya yang membuat karangan tentang keluarga pembantunya yang miskin. Sang anak memulai karangannya dengan kalimat: “Pembantuku seorang miskin”. Selanjutnya ia menulis: sebagai orang miskin, pembantu saya tidak mempunyai banyak barang. Rumah pembantu saya cuma satu. Sawahnya satu. Kerbau ada satu. Juga hanya ada satu tukang cuci dan satu tukang masak di rumahnya di desa. Kemana-mana, pembantu saya hanya bisa menggunakan mobilnya yang hanya satu-satunya di rumahnya di desa.

Kisah yang ironis. Tetapi mungkin juga adalah cerita tentang pemahaman sebagaian besar orang kota terhadap desa. Pertama-tama, pengertian tentang desa yang tersimpan dalam katalog pikir orang kota adalah pemukiman miskin berisi orang tidak berdaya. Tetapi kemudian, ke atas pemukiman itu diberikan bermacam hal dengan ciri dan gaya orang kota. Lembaga-lembaga modern, manajemenmodern, teknologi modern, sistem proyek modern, semuanya, yang menjadi keseharian masyarakat kota dicangkokan dalam kehidupan desa. Semua proses transplantasi teknologi dan modernisasi itu dijalankan dengan peertanyaan sinis: “apakah desa memang harus dipandang dan diatur secara tradisional?” Pertanyaan yang menunjukkan ketidakpahaman orang kota tentang desa dan masyarakat desa.

Seminar-seminar mewah di hotel berbintang digelar untuk membicarakan tentang desa, tanpa seorang desa pun hadir. Kalaupun ada orang disana yang pernah hidup dan besar di desa, setidaknya, pengalaman hidup di kota telah menyebabkan distorsi pemahamannya tentang desa. Atau, andaikan ia tetap mau memposisikan dirinya sebagai suara hati orang desa, orang ini akan merasa risih sendiri karena berbeda pendapat dengan peserta seminar lain.

Dari ruang seminar, rekomendasi studi dibuat. Studi dilakukan oleh para peneliti berpendidikan tinggi. Orang-orang terpelajar ini datang ke desa membawa sejumlah indikator modernitas untuk mengukur desa. Mereka mengukur konsumsi pangan, mereka mengukur kebiasaan toiletis, mereka mengukur jam bekerja, semua menggunakan ukuran modernitas. Hasilnya? Seperti dikeluhkan wakil Gubernur Maluku. Jika orang Maluku makan sagu dan tidak makan beras, itu tidak berarti bahwa orang Maluku lebih miskin dari orang Jawa. Sama halnya jika para peneliti menemui orang desa yang tidak bekerja selama seminggu dan menggolongkan mereka sebagai pengangguran, itu sebuah salah kaprah besar karena orang desa bekerja sesuai dengan iklim dan kondisi alam. Para peneliti bukannya tidak mengetahui hal ini. Mereka tahu. Tapi mereka kekurangan instrumen. Atau paling tidak, mereka membawa pesan kebijakan.