Mohon tunggu...
R_82
R_82 Mohon Tunggu... Wiraswasta - Adalah seseorang yang hidup, menghidupi dan di hidupkan OlehNya. Begitupun dengan kematian dan semua diantaranya. tanpa terkecuali.

Bukan sesiapa yang mencari apa dibalik mengapa dan bagaimana

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Tete Wariskan Tanah Kematian di Papua

25 Oktober 2011   18:27 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:30 1216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

[caption id="attachment_139429" align="aligncenter" width="602" caption="http://revo4me.files.wordpress.com"][/caption]

Sejak seminggu yang lalu Tete memberi kabar, dia akan datang ke Manado. Beberapa hari yang lalu, memang kami banyak melihat berita di televisi. Tentang penembakan yang terjadi di tanah kelahiranku. Aku hanya sekolah hingga lulus SD di Papua. Karena ayahku tinggal di Manado semenjak dia Memiliki usaha percetakan disini.

Biaya hidup di Manado lebih terjangkau jika dibandingkan dengan biaya hidup di Papua. Entah karena berdekatan dengan pemukiman pekerja tambang atau kenapa? Karena menurut ayahku. Biaya kehidupan disana memang sudah hampir tidak bisa terjangkau lagi untuk keluarga kami, karena ayahku hanya bekerja sebagai pekerja honorer di kantor kecamatan.

Entahlah? Ayahku terlalu bodoh atau jujur? Karena sepertinya teman-teman ayahku banyak yang hidup dengan keadaan yang lebih dari cukup. Bahkan sempat beberapa kali bertemu waktu mereka berlibur ke Bunaken. Dan hingga sekarang mereka  masih honorer, bukan PNS.

Ketika Tete datang, Kami semua sudah bersiap menjemputnya di Bandara Samratulangi. Ayahku sengaja menyewa Oto untuk menjemput Tete. Padahal dia cuma sendiri saja,  ayah khawatir Tete akan datang dengan bawaan yang banyak. Selain itu, ayah akan langsung mengajak Tete berjalan jalan dulu sebelum ke rumah. Karena pertama kalinya Tete pergi meninggalkan Papua.

Dulu, ayahku punya Oto, tapi sejak banyaknya orang  yang membuka percetakan disini. Percetakan ayahku menjadi kurang orderan. Sepertinya memang orang lain memiliki bahan yang lebih bagus dan kualitas kerja yang lebih baik dari ayahku, selain itu mereka bisa memberikan harga yang lebih murah. Beruntunglah aku sempat lulus kuliah. Setidaknya aku memiliki ijazah untuk melamar pekerjaan.

Saat aku melihat Tete di bandara, aku terkejut. Spontan air mata menetes perlahan, mengalir di pipiku terasa hangat. Ternyata Tete sudah tidak seperti di ingatanku, dia lebih kurus dan terlihat tua saat ini. Padahal, seingatku dulu badannya tegap, dengan otot yang masih terlihat kekar. Tapi tidak kali ini, Tete berjalan sedikit membungkuk, dengan keriput dan rambut putih yang menghiasi senyumannya.

Sekilas aku bertanya dalam hati. Kenapa Tete tidak memakai kemeja yang lebih baik dari yang dipakainnya sekarang? Ataukan dia sudah tidak bisa lagi membeli baju baru yang bagus. Karena saat ini, kemeja yang dipakainnya nampak lusuh dan sudah usang sekali. Aku menghibur diriku sendiri, dengan menganggapnya sebagai cara agar terhindar dari aksi pencopetan. "Tete pasti sengaja memakai baju yang terlihat lusuh".

Aku masih ingat suara Tete dengan jelas, memang tidak terlalu jauh dengan sekarang. Saat dia memelukku, aku tak kuasa lagi menahan air mata yang semakin deras berjatuhan. Dalam pelukan itu, aku dapat menyentuh tulang punggungnya. Terasa sangat dekat, hingga sejenak aku lupa bahwa dulu kakek berbadan tegap dan gagah sekali. Dulu Tete bisa mengangkatku dengan tangan kirinya saja. Entahlah sekarang? Karena dengan kedua tangannya pun, sepertinya dia tidak akan sanggup lagi. Bukan hanya karena aku sudah besar sekarang, tapi tubuh Tete sepertinya memang rapuh sekali saat ini.

"Kamu sudah besar Yosi"

Tete berkata perlahan. Dia menepuk pundakku, air matanya terasa menetes di bahu kananku. Aku tak sanggup berkata kata lagi. Ingin rasanya terus memeluk Tete, karena memang sudah begitu lama tak bertemu. Sepintas terbayang di benakku. Masa kecilku yang penuh dengan permainan bersama Tete. Aku sering sekali ikut Tete berburu ke Hutan. Bersama Ngrembu, Anjing milik Tete yang telah mati beberapa tahun yang lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun