Mohon tunggu...
Ronald Wan
Ronald Wan Mohon Tunggu... Freelancer - Pemerhati Ekonomi dan Teknologi

Love to Read | Try to Write | Twitter: @ronaldwan88

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Biar Bagaimanapun, Politik akan Memengaruhi Ekonomi

10 Agustus 2018   11:48 Diperbarui: 10 Agustus 2018   12:34 638
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jokowi-KH Ma'ruf Amin (tribunnews.com)

Pengelolaan sebuah negara tidak lepas dari politik. Tidak peduli apakah sistem negara tersebut demokratis atau sistem negara yang bisa disebut komunis seperti China walaupun tidak murni lagi.

Salah satu arti kata politik menurut kamus Merriam Webster adalah seni atau ilmu dalam mengelola pemerintahan.

Tetapi kita juga tahu bahwa politik juga berlaku di lingkungan yang lebih kecil seperti perusahaan atau bahkan keluarga.

Bagi pelaku ekonomi, politik adalah salah satu faktor dalam mempertimbangkan sebuah keputusan. Karena suka atau tidak suka pengelola pemerintahan adalah lembaga yang akan membuat kebijakan baik yang secara langsung ataupun tidak langsung mengatur tentang ekonomi.

Di Indonesia lembaga ini adalah Presiden dan DPR atau dalam skala lebih kecil Pimpinan Daerah dan DPRD.

Demi untuk dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah, di Amerika Serikat bahkan ada sebuah profesi yaitu Pelobi (Lobyist). Jasa para pelobi ini bukan hanya digunakan oleh perusahaan namun juga LSM (isu lingkungan misalnya) bahkan negara. Baca "Bisnis Lobi di AS".

Bahkan saya melihat bukan hanya menggunakan lobi. Tidak bisa dipungkiri ada cara-cara lain yang juga akan digunakan dalam mempengaruhi isu politik oleh pelaku ekonomi. Baca "Politik dilihat dari kacamata Ekonomi"

Selain kebijakan, suhu politik juga akan berpengaruh terhadap ekonomi. Tingkat keyakinan pelaku ekonomi untuk melakukan investasi misalnya, akan berkurang jika suhu ekonomi dianggap panas.

Kalau melihat ke belakang, sejak tahun 2014 suhu politik memang boleh dibilang terus menerus panas. Awal pemerintahan Jokowi, terjadi perebutan kekuasaan di DPR sehingga akhirnya partai pemenang pemilu tidak mendapatkan kursi pimpinan.

Puncaknya adalah di Pilkada DKI 2017, isu SARA begitu kencang dimainkan. Sampai orang yang sudah meninggal juga diajak untuk berpolitik.

Bagi pelaku ekonomi ini adalah hal yang menimbulkan kekhawatiran. Terlebih bagi investor asing dan pelaku ekonomi yang tidak tinggal di Jakarta. Melihat di tv demo-demo yang terjadi walaupun pilkada sudah berakhir, bisa jadi membayangkan kejadian yang lebih parah dibandingkan dengan penduduk Jakarta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun