Mohon tunggu...
Roisul
Roisul Mohon Tunggu... Kunjungi tulisan saya yang lain di roisulhaq.blogspot.com saat ini sedang menjadi Guru demi mendidik, mencerdaskan anak bangsa.

Menulis tak harus menunggu galau~

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pak Menteri, Bolehkan Menilai Karakter Siswa dari Medsos?

3 Juni 2020   09:43 Diperbarui: 4 Juni 2020   23:34 86 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pak Menteri, Bolehkan Menilai Karakter Siswa dari Medsos?
Twitter @itjen.kemdikbud

Siapa sangka Kegiatan Belajar dari rumah (BDR) bisa sejauh ini. Jika dihitung-hitung siswa belajar dari rumah sejak siswa SMK kelas XII Ujian Nasional berarti sekitar pertengahan Maret.

Adakalanya mereka jenuh satu dua anak berkali-kali menanyakan kapan mereka bisa sekolah lagi. Jawaban saya? sama dalam hati.

Belajar Mengajar memang harus tetap berjalan, Kini setelah memasuki pekan Penilaian Akhir Tahun (PAT) kita para pendidik harus segera memasukkan nilai ke aplikasi. Beuh ini pekerjaan sulit untuk nilai kompetensi sih bisa saja kita dapatkan dari tugas dan nilai harian. Tapi, untuk nilai Karakter bagaimana caranya???

Pendidikan karakter dewasa ini mengalami pasang dan surut pembahasan. Pembahasan mengenai pendidikan karakter yang bersifat teoritis hingga praktis, semua banyak ditemukan di media massa maupun di buku-buku. Wacana dan referensi mengenai bagaimana pendidikan karakter yang baik dan dapat diterapkan di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. 

Kurikulum pendidikan karakter pun banyak kita temukan di berbagai sekolah. Ada sekolah yang memisahkan kurikulum pendidikan karakter dari pelajaran atau bidang studi, sampai dengan sekolah yang justru mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap pelajaran. Tujuannya tentu sama agar bisa membentuk karakter siswa.

Akan tetapi, ketika pendidikan karakter diterapkan dalam realita pengajaran di kelas dan para guru mulai melaporkan, mengevaluasi dan memberi penilaian, muncullah permasalahan. Peserta didik sering kali mendapatkan skor berupa nilai atau huruf-huruf. Misalnya, Karakter Jujur 100 atau dengan menggunakan skema nilai huruf, contohnya nilai kedisiplinan adalah A. 

Selain penilaian terkadang bersifat normatif saja, apa yang ada di balik angka itu pun dapat dipersoalkan. Sebagai contoh, peserta didik dengan nilai kedisiplinan A, apa bedanya dengan peserta didik dengan nilai kedisiplinan B? Selain menggunakan penilaian di atas, ada pula institusi pendidikan yang menggunakan deskripsi. 

Sebagai contoh, Aziz adalah anak yang rajin di kelas. Ia suka membantu temannya. Ia berani bertanya kepada guru saat tidak mengerti materi  yang disampaikan. Komentar deskriptif semacam itu bukan tanpa masalah. Pada saat Aziz melihat komentar yang sama terhadap teman sekelas, maka kualitas penilaian guru pun dipertanyakan bahwa jangan-jangan sang guru hanya copas kalimat tanpa sungguh-sungguh mengetahui seperti apa sifat Aziz yang sebenarnya.

Berbagai permasalahan dalam evaluasi dan penilaian ini sesungguhnya perlu diadakan evaluasi dan pengukuran. Karena evaluasi dan pengukuran adalah bagian yang sama pentingnya dengan proses pembelajaran itu sendiri. 

Apalagi di masa pandemi covid19 seperti ini, kegiatan belajar mengajar yang tidak bisa secara tatap muka, membuat kami kesulitan untuk mengukur karakter siswa. Disisi lain, kini sosial media menjadi tempat kreasi semua orang untuk dikenal dan berekspresi. Terakhir, siswa di Riau yang merayakan kelulusan dengan coretan dan pakaian yang vulgar. Kalau sudah seperti ini, sekolah jadi kambing hitam mengapa siswa demikian sampai diluluskan. 

siswa-siswi salah satu SMA Rokan Hulu, Riau saat merayakan kelulusan. Sumber: Riaunews.com
siswa-siswi salah satu SMA Rokan Hulu, Riau saat merayakan kelulusan. Sumber: Riaunews.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x