Mohon tunggu...
Roisul H
Roisul H Mohon Tunggu... .

Menulis tak harus menunggu galau~

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tren Belajar di Rumah, dari Tatap Muka ke yang Online-online, Masihkah Belajar Itu Menyenangkan?

20 Maret 2020   15:53 Diperbarui: 20 Maret 2020   16:17 73 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tren Belajar di Rumah, dari Tatap Muka ke yang Online-online, Masihkah Belajar Itu Menyenangkan?
Pembelajaran di sekolah tak hanya sekedar transfer ilmu, namun juga proses interaksi langsung antara guru dengan siswa. Sumber: kompas.com

Setelah saya membaca artikel headline Kompasiana dengan judul "Liburnya Senang, Tugasnya bikin meriang" tulis Vera Shinta dan tulisan milik Kompasioner Martha Weda yang judulnya "Ini Dia, Hari Pertama Kegiatan Belajar di Rumah". 

Saya ingin menulis artikel penguat bahwa belajar sendiri di rumah tidak asyik. Apalagi anak usia sekolah dalam masa pertumbuhan. 

Hal lain, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana sibuknya para orang tua mendampingi anak-anaknya yang belajar di rumah, orang tua harus meluangkan waktunya untuk anaknya sebagai pengganti guru di sekolah. 

Sejak virus corona dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia (WHO) kepala daerah sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat menyatakan bahwa untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar di lakukan di rumah secara online, tidak ada pembelajaran tatap muka. 

Melalui pembelajaran tatap muka guru dapat memantau secara langsung aktifitas belajar siswa.

Guru juga akan lebih mudah untuk melihat seberapa jauh kemampuan siswa sesuai dengan indikator pencapaian kompetisi.

Belakangan memang perubahan dalam dunia pendidikan menuntut pembelajaran harus lebih modern. Model-model lama seperti ceramah sudah dianggap usang. Guru harus menguasai TIK agar pembelajaran lebih menarik.

Hasilnya, mau tidak mau peran guru yang begitu besar dalam pembelajaran harus tersisihkan. Istilah lainnya sekarang bukan lagi Teacher Center Learning namun telah berganti menjadi Student Center Learning. Disini pembelajaran lebih hidup.

Menempatkan siswa sebagai pusat dari pembelajaran bukan perkara mudah. Karena Mindset siswa tidaklah sama, bagi mereka pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang sedikit tugas, tidak dituntut ini itu. Banyak mainnya guru yang santuy tidak banyak aturan.

Ada yang menganggap sekolah seperti penjara, ruanganya persegi bahkan jendela kelas diberi jeruji besi agar aman tidak ada yang kabur. Tembok yang mengelilingi sekolah dibuat setinggi mungkin agar mereka tak loncat pagar.

Nyata, mereka lebih santuy. Macam-macam alasanya sejak UN tak lagi punya standart kelulusan, sejak HAM menjadi tameng mereka sehingga tak ada lagi guru yang melakukan kekerasan dan sejak gadget menjadi senjata untuk memviralkan kejadian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x