Rofiq Al Fikri
Rofiq Al Fikri

Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu (JAMMAL)

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Hasil Survei Litbang Kompas Buktikan Kampanye Fitnah Tidak Ngaruh

26 Maret 2019   12:55 Diperbarui: 26 Maret 2019   14:58 180 1 2
Hasil Survei Litbang Kompas Buktikan Kampanye Fitnah Tidak Ngaruh
megapolitan.kompas.com

Hasil Survei Litbang Kompas Buktikan Kampanye Fitnah Tidak Berpengaruh di Indonesia

(Menyadari Elektabilitas Prabowo yang Tak Mampu Tembus 40% Walau Sudah Habis-Habisan Sebar Hoax dengan Metode Firehose of Falsehood)

Hari ini, Rabu (20/3/2019) Litbang Kompas mengeluarkan hasil survei Pilpres 2019 per bulan Maret, atau satu bulan sebelum pemungutan suara di 17 April 2019. Kredibilitas Lembaga Kompas membuat banyak sudah dapat mengetahui hasil Pemilu dari survei Kompas, bahwa Presiden Jokowi hampir pasti terpilih kembali sebagai Presiden 2019-2024 dengan raihan suara sekitar 55-56%? Benarkah?

Saya pribadi sama sekali tidak merisaukan hasil survei Litbang Kompas di mana elektabilitas JKW bulan Maret 2019 yaitu 49,2% (turun dibanding Oktober 2018 yang 52,6%), sementara elektabilitas Prabowo, yaitu 37,4% (naik dibanding Oktober 2018 yang 32,7%). Mengapa? Saya teringat di Pilpres AS tahun 2012 saat Obama sebagai petahana kembali terpilih, walau selama setahun sebelum Pilpres, elektabilitasnya tidak pernah lebih dari 50% sepanjang tahun.

Saat itu Obama melawan capres dari Partai Republik yang bergelimang harta Mitt Romney (persis saat ini di mana Prabowo-Sandi adalah dua konglomerat Indonesia yang masuk jajaran orang terkaya di ASIA). Namun, kecintaan rakyat AS pada Obama saat itu tidak bisa dibeli oleh uang Romney. Begitu pun hari ini, milyaran bahkan triliunan rupiah yang digelontorkan Prabowo-Sandi tetap tidak bisa membeli suara rakyat, bahkan dengan fitnah dan hoax sekalipun.

Bayangkan berapa ratus milyar yang telah dikeluarkan Prabowo-Sandi untuk membayar para konsultan asing yang memenangkan Donald Trump (AS) atau Bolsonaro (Brazil) dengan metode FOF atau yang biasa kita kenal sebaran fitnah dan kebohongan yang dialamatkan ke lawan politiknya

Cara yang sudah diterapkan kubu Prabowo dengan kampanye mulai dari Hoax Ratna, 7 kontainer surat suara tercoblos, legalisasi LGBT, dan larangan adzan jika JKW berkuasa. Namun, hingga kini, elektabilitas mereka selama berbulan-bulan tidak mampu sekadar menembus angka 40%, angka yang sebenarnya juga jauh untuk menggaransi kemenangan. 

Fakta yang mengejutkan juga dari hasil survei Kompas, yaitu generasi milenial di Indonesia, generasi yang paling rentan terpapar metode kampanye fitnah FOF karena paling dekat dengan media social, justru semakin banyak yang mendukung JKW.

Pada Oktober 2018, generasi Milenial (usia 22-30) yang memilih JKW ada 43,3%, yang memilih Prabowo 42,4%, sementara per Maret 2019 generasi milenial yang memilih JKW naik jumlahnya menjadi 49,1%, sementara yang memilih Prabowo berkurang menjadi 41%.

Saya yakin, banyaknya pendukung Prabowo yang hari ini tiba-tiba memviralkan survei Litbang Kompas (setelah selama 4 tahun lebih selalu memaki Kompas sebagai media yang tidak netral dan pendukung JKW) tidak membaca laporan survei Kompas dengan utuh. Jika mereka membaca sampai habis laporan survei Kompas, mereka hanya akan duduk termangu meratapi nasib. Mengapa?

Dalam survei yang dirilis hari ini, dijelaskan, prediksi hasil Pilpres 2019, yaitu JKW akan meraih 56,8% suara, sementara Prabowo hanya akan meraih 43,2% suara. Angka prediksi Litbang Kompas itu hampir mirip seperti angka lembaga survei kredibel asal Australia Roy Morgan yang dari hasil riset dan surveinya, JKW akan menang dengan 58% suara, sementara Prabowo hanya akan mendapat 42% suara.

Pun jika suara JKW tidak bertambah dan terus mengalami penurunan dan sebaliknya Prabowo terus bertambah dalam satu bulan, kemungkinan paling ekstrim suara JKW akan turun menjadi 56-55%, sementara Prabowo hanya akan naik menjadi 44-45%. Itu adalah hitungan ilmiah yang dihasilkan dari Survei Litbang Kompas yang banyak orang luput membacanya.

Namun, apakah Presiden Jokowi dan timnya dalam satu bulan ini akan berpangku tangan dan membiarkan tren elektabilitasnya berlanjut? Saya yakin tidak. Di 17 April Indonesia akan mengejutkan dunia, di mana dengan kemenangan JKW, Indonesia akan membuktikan, bahwa rakyatnya tidak mempan dipengaruhi hoax untuk pemenangan sebuah Pilpres, seperti di AS atau Brazil.