Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution

7 Oktober 2013   14:05 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:52 10213 3 5
Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution
1381118987800976548

[caption id="attachment_270720" align="aligncenter" width="491" caption="Museum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption] d 48 tahun silam, di tempat ini terdapat salah satu peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak berdirinya negeri ini, selain kemerdekaan 1945 dan reformasi 1998. Terletak di kawasan elite ibu kota, Menteng, tepatnya Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat, berdiri sebuah bangunan yang merupakan saksi bisu peralihan orde lama ke orde baru: Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Ya, seluruh rakyat Indonesia tentu sudah mengetahui peristiwa penculikan jenderal yang terjadi pada 30 September 1965 atau dikenal dengan G 30 S PKI. Terlepas dari benar atau tidaknya penyebab dan latar belakang dari sejarah tersebut. Termasuk mengenai penyimpangan yang melibatkan bentrok kepentingan antara pemerintah dengan partai berkuasa saat itu hingga menimbulkan kesan "Sejarah Ditulis oleh Sang Pemenang". Sebagai rakyat, kita tidak boleh menutup mata terkait momen kelam tersebut seperti semboyan populer, Jasmerah: Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah. Namun, tulisan ini tidak bermaksud menimbulkan kembali kegetiran masa lalu akibat peristiwa 48 tahun silam, ibarat menabur garam di atas luka. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah tersebut. Itu seperti ungkapan dari almarhum Jenderal Abdul Haris Nasution atau semasa hidupnya dipanggil dengan Pak Nas, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para pahlawannya".

*      *      *

Minggu (6/10) cuaca di sekitar Jakarta sangat terik. Terutama di kawasan Kelapa Gading hingga Senayan, sinar matahari begitu menyengat. Namun, tidak begitu sampai di kawasan Menteng. Lokasi yang identik dengan kediaman elite pemerintahan dan pejabat itu sebaliknya tampak teduh. Rerimbunan pohon di kanan dan kiri jalan menjadikan kawasan tersebut tampak asri. Tepat di Jalan Teuku Umar no 40, terdapat beberapa kendaraan yang parkir. Tampak sepeda motor, mobil, hingga bus parisiwata berjejer memadati Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution atau juga disebut Museum Sasmitaloka. Beberapa anak kecil terlihat antusias berfoto di depan patung Jenderal Nasution. Sebagian lainnya khidmat menyusuri perjalanan hidup dan relief dari sosok yang meninggal pada 6 September 2000 lalu. Saya pun melangkah ke dalam museum untuk ikut antre menulis di buku tamu. Sementara, di ruang tamu terdapat beberapa pengunjung museum dengan tenang menyimak penuturan dari seorang lelaki paruh baya. Ya, pria dengan postur tegap itu biasa dipanggil dengan Pak Royen yang bertugas memberi informasi kepada setiap pengunjung mengenai museum. Selintas, terdengar perbincangan menarik antara personil Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu dengan pengunjung yang sebagian besar anak-anak. "Jadi Ade Irma Suryani tewasnya di sini ya Pak?" "Bukan, tapi di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto setelah dirawat beberapa hari sejak peristiwa 30 September. Kalau peristiwa penembakannya memang di rumah ini yang terdapat di kamar ujung." "Kata di buku (pelajaran sejarah) Ade Irma itu tewas sama tentara." "Ya, tepatnya saat penyerbuan pasukan Cakrabirawa (pengawal istana) untuk menculik Pak Nas. Karena Pak Nas sudah berlindung terlebih dulu, maka hanya tersisa Ade Irma, dan Ibunya (Bu Nas yang menjadi istri Pak Nas) serta ajudan Piere Tandean yang diculik." "Kenapa kok anak kecil yang ditembak?"

*      *      *

Kedatangan saya ke museum Sasmitaloka berawal saat menyaksikan beberapa foto yang terdapat di pameran Alutsista HUT TNI ke-68 di Monas, sehari sebelumnya (5/10). Ketika asyik melihat-lihat gambar berbagai pahlawan, baik kemerdekaan dan revolusi, tertuju pada bingkai yang berisi tiga Jenderal Besar Bintang Lima: Soedirman, Soeharto, dan Nasution. Melihat nama yang terakhir, seketika ingatan saya tertuju kepada putrinya yang meninggal di usia muda, Ade Irma Suryani. Kebetulan, setahun lalu saya pernah mengunjungi makamnya yang terletak di kompleks Walikota Jakarta Selatan. Jadi, tiada salahnya saya mendatangi Museum Sasmitaloka yang kebetulan bertepatan dengan hari kematiannya. Apalagi, saya belum pernah mengunjungi museum yang diresmikan 3 Desember 2008 ini oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam museum tersebut, terdapat sembilan ruang utama yang dahulunya merupakan kediaman Pak Nas dan keluarga. Namun yang paling membuat saya merinding saat memasuki ruang tidur. Sebab di kamar itulah insiden memilukan terjadi. Yaitu, penembakan brutal dari anggota Cakrabirawa terhadap Ade Irma Suryani. Tampak, bekas tembakan di langit-langit kamar dan pintu masuk akibat berondongan peluru, yang enam di antaranya menembus tubuh mungil tak berdosa. Beranjak beberapa meter, terdapat ruang Ade Irma Suryani yang dulunya menjadi kamar tidur dari putri bungsu Pak Nas. Berbagai koleksi peninggalan sosok yang meninggal pada usia lima tahun itu masih tersimpan utuh dalam lemari kaca. Boneka, sepatu, seragam TNI ukuran kecil, hingga botol minuman plastik. Di atas lemari tersebut, terpampang bingkai foto Pak Nas dengan Ade Irma Suryani disertai keterangan singkat namun memilukan: PAPAAA... APA SALAH ADEK? Sementara, di ruang makan terdapat diorama yang tidak kalah tragis. Usai Pak Nas berhasil melarikan diri, istrinya berusaha menghubungi Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah yang menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya untuk meminta bantuan. Hanya, usaha itu gagal karena sambungan telepon sudah diputus. Tiba-tiba muncul lima anggota Cakrabirawa dengan menodongkan senjata dan mengancam Bu Nas yang sedang menggendong Ade Irma Suryani yang berlumuran darah. Dan, sebagaimana yang kita tahu. Akhirnya, peristiwa itu memang benar-benar terjadi.

*      *      *

[caption id="attachment_270721" align="aligncenter" width="491" caption="Patung Pak Nas di ruang kerja"]

13811190511058070750
13811190511058070750
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270734" align="aligncenter" width="491" caption="Koleksi buku Pak Nas di ruang perpustakaan"]

1381120283432371798
1381120283432371798
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270722" align="aligncenter" width="491" caption="Kendaraan dinas yang menjadi saksi peristiwa 48 tahun silam"]

13811191021698385613
13811191021698385613
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270723" align="aligncenter" width="491" caption="Diorama penangkapan Letnan Satu TNI, Piere Tandean"]

13811191981108324870
13811191981108324870
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270733" align="aligncenter" width="369" caption="Keterangan dalam dwibahasa"]

1381120232203373934
1381120232203373934
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270724" align="aligncenter" width="491" caption="Diorama penyergapan tentara Cakrabirawa"]

1381119251600856541
1381119251600856541
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_270725" align="aligncenter" width="491" caption="Diorama saat Pak Nas melompati tembok di samping rumah (kini museum)"]

1381119297509873581
1381119297509873581
[/caption]

*      *      *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2