Rochman Hadi Mustofa
Rochman Hadi Mustofa Human Resources

Tertarik pada dunia Pendidikan dan Ekonomi. Berbagi pemikiran layaknya diskusi. Boleh setuju boleh tidak.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

"The Third Wave Coffee"

22 Januari 2019   02:58 Diperbarui: 22 Januari 2019   05:01 1193 2 1
"The Third Wave Coffee"
Sumber Gambar: kompas.com

Hampir semua orang pasti mengenal minuman berwarna hitam ini, apalagi kalau bukan kopi. Saat ini kopi sudah menjadi gaya hidup yang menyatukan masyarakat, tidak terkecuali di Indonesia yang terkenal dengan beragam keunikan kopinya.

Sebelum kita masuk pada bahasan "The Third Wave Coffee" atau kopi gelombang ketiga, ada baiknya kita sedikit mengulas sejarah kopi di Indonesia. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kopi berasal dari Ethiopia dimana secara harfiah ia mulai disebut dalam beberapa catatan abad ke-15. 

Akan tetapi, menurut Jan Breman, dalam sebuah bukunya terbitan Belanda berjudul Mobilizing Labour for the Global Coffee Market menyebutkan bahwa kopi yang ada di Indonesia sebenarnya berasal dari India Selatan. Bagaimana kopi bisa sampai ke Indonesia, tidak lain peran dari pemerintah kolonial Belanda. Secara harfiah kopi pertama dikenal dengan sebutan koffie (dalam bahasa Belanda), sehingga tidak heran Belanda memiliki andil besar dalam penyebaran kopi di dunia.

Sumber Gambar: Walmart.com
Sumber Gambar: Walmart.com
Singkatnya, VOC (kongsi dagang Belanda) saat itu sudah mulai menguasai beberapa wilayah di dunia termasuk negara-negara afrika, India, dan Indonesia. Pada masa itu kopi menjadi komoditas yang berharga di Eropa. Karena Belanda tidak mau kalah dalam pasar dagang dunia (termasuk kopi), maka ia membawa benih-benih kopi tersebut ke daerah kolonialnya. 

Saat dibawa ke Indonesia (dulu masih bernama Hindia Belanda), ternyata keadaan iklim dan geografis mampu menciptakan ciri khas tersendiri dari kopi tersebut sehingga menciptakan kopi speciality seperti dikenal sekarang.

Kapan masa dimulainya "The First Wave Coffee"?

Seperti yang kita pelajari dari sejarah, Belanda akan memanfaatkan penduduk daerah jajahannya untuk menanam kopi dan merawatnya, dan saat sudah panen mereka akan menjualnya di pasaran dunia. 

Oleh karena itu. zaman dulu kopi merupakan minuman yang sangat mewah karena hanya bangsawan dan kolonial saja yang meminumnya. Rakyat jelata dilarang untuk menikmati kopi meskipun tanaman kopi mulai umum dijumpai di Nusantara, mereka hanya diberi tugas menanam dan merawatnya. 

Bahkan, ada cerita kalau asal muasal kopi luwak yang dihargai sangat mahal saat ini, dulu berawal dari masyarakat yang tidak diijinkan meminum kopi hasil panen, sehingga mereka terpaksa mencari biji kopi dari kotoran hewan Luwak (saat itu banyak Luwak di Jawa dan Sumatra dan dianggap sebagai hama). 

Setelah masa kolonial berakhir, kopi menjadi terbuka bagi semua kalangan. Dengan cepat, kopi menjadi minuman yang sering dijumpai di rumah-rumah. Saat itu teknik menyeduh kopi belum ditemukan, orang-orang hanya menyeduhnya saja seperti manual brew biasa.  

Masa-masa ini hingga awal abad ke-19 dikenal sebagai "The First Wave Coffee". Era First Wave Coffee sendiri di negara maju berbeda dengan di Indonesia, di Amerika misalnya era ini ditandai dengan munculnya beberapa merk kopi yang mulai menyerbu dapur rumah tangga, sebut saja Maxwell House Coffee pada 1950an.

Namun ada yang menganggap era ini harusnya masuk sebagai second wave coffee. Banyak sekali perbedaan pendapat tentang First Wave dan Second Wave, yang pasti First Wave dianggap sebagai periode pertama kopi masuk di suatu negara hingga mulai dikenal luas.

Coffee plantation atau perkebunan kopi di Tretes pada masa kolonial Belanda. Sumber Gambar : wikipedia.org
Coffee plantation atau perkebunan kopi di Tretes pada masa kolonial Belanda. Sumber Gambar : wikipedia.org
The Second Wave Coffee

Gelombang kedua kopi atau The Second Wave Coffee merujuk pada masa 1960an hingga 1980an dimana saat itu kopi diolah dalam mesin kopi dari Italia yang terkenal hingga sekarang, menghasilkan  kopi jenis espresso, cappuccino, dan latte. Dunia diperkenalkan dengan kopi espresso bergaya Italia.

Masa ini juga ditandai dengan berkembangnya kedai kopi menjadi franchise dunia yaitu Starbuck's. Ide seperti menghabiskan waktu di cafe mulai populer bahkan urusan bisnis juga dibicarakan di cafe. Ungkapan "meeting for a coffee" atau istilah populer "can i buy you a cup of coffee?" sangat populer pada masa ini. Banyak film-film yang secara tidak langsung ikut mempopulerkan istilah ini. Pesan yang ingin disampaikan sangat terlihat yaitu "Drinking Coffee in cafe is lifestyle"

Salah satu scene dalam film City of Angels yang dibintangi Tom Hanks, menggambarkan lifestyle tersebut. Sumber gambar: ReelRundown
Salah satu scene dalam film City of Angels yang dibintangi Tom Hanks, menggambarkan lifestyle tersebut. Sumber gambar: ReelRundown
Starbucks menyadari bahwa mereka bisa mengambil lebih banyak untung dengan menawarkan ragam pilihan kopi dengan harga tinggi. Tidak lama setelah itu, banyak kedai kopi dan cafe sejenis yang bermunculan dengan konsep marketing ala Starbucks.

Starbuck's menjadi salah satu pemain penting dalam era Second Wave Coffee. Sumber Gambar: BBC
Starbuck's menjadi salah satu pemain penting dalam era Second Wave Coffee. Sumber Gambar: BBC
Starbuck's Scene dalam film The Proposal yang dibintangi Sandra Bullock. Sumber Gambar: csvegalo.weebly.com
Starbuck's Scene dalam film The Proposal yang dibintangi Sandra Bullock. Sumber Gambar: csvegalo.weebly.com
The Third Wave Coffee 

Era The Third Wave Coffee adalah era yang sedang berlangsung saat ini. Cirinya adalah mulai bermunculan Single Origin Coffee dengan nama daerah, varietasnya, proses pengolahan, hingga waktu roasting. Jika anda penikmat kopi, anda akan semakin bisa membedakan antara kopi robusta dan kopi arabica (dan kopi sachet tentunya hehe). 

Anda akan semakin banyak menjumpai nama-nama menu kopi seperti Bondowoso Blue Mountain, Java Ciwedei, Java Puntang, Sunda Gulali, Ethiopia Yirgacheffe, Kenya AA, Gayo Red Wine, Jamaica Blue Mountain, Panama Margogype dan masih banyak lagi. Semua menawarkan cita rasa dan keunikan masing-masing. Anda mungkin akan menemui kopi yang memiliki rasa mirip apel, asam wine, kacang, hingga rasa apricot.

Flavour Wheel Notes yang dirilis oleh Speciality Coffee Association of America (SCAA). Sumber Gambar: SCAA
Flavour Wheel Notes yang dirilis oleh Speciality Coffee Association of America (SCAA). Sumber Gambar: SCAA
Detail seperti varietas, ketinggian tanaman, proses pasca panen, hingga flavour notes dari kopi biasanya dicantumkan dalam kemasan kopi third wave. Sumber gambar: Revuezzle
Detail seperti varietas, ketinggian tanaman, proses pasca panen, hingga flavour notes dari kopi biasanya dicantumkan dalam kemasan kopi third wave. Sumber gambar: Revuezzle
Roast date atau waktu penggorengan kopi biasanya diperhatikan oleh mereka yang suka kopi yang fresh. Sumber gambar: Otten Coffee
Roast date atau waktu penggorengan kopi biasanya diperhatikan oleh mereka yang suka kopi yang fresh. Sumber gambar: Otten Coffee
Detail kopi yang anda pesan mungkin akan lebih banyak dibanding sebelumnya. Anda akan sering mendengar istilah proses wet honey, light roast, medium roast, dark roast, hingga waktu biji kopi tersebut di roast. Pada awal era Third Wave Coffee juga ditandai dengan menjamurnya latte art, sebuah seni menghias permukaan kopi menjadi beragam bentuk.

Latte art. Sumber gambar: Vectorstock
Latte art. Sumber gambar: Vectorstock
Ciri berikutnya adalah ditemukannya metode baru menyeduh kopi. Tahukah anda bahwa metode aeropress baru diketemukan pada tahun 2005, demikian juga Hario V60 yang belum sampai satu dekade. Chemex, cold brew, siphon, calita wave menjadi sekian metode yang mungkin akan anda jumpai ketika anda memutuskan mampir ke cafe terdekat. 

Kedai kopi kini bukan lagi hanya menjual minuman saja tetapi it's about coffee experience. Selain itu, para pencari coffee experience umumnya menghindari pemakaian gula pada kopi mereka. They just seek the natural taste of coffee!

Beragam jenis alat manual brew. Sumber gambar:Cenksezgin.com
Beragam jenis alat manual brew. Sumber gambar:Cenksezgin.com
Ciri berikutnya yaitu mulai banyak bermunculan roaster dan coffee shop baru yang independen. Kalau dulu mungkin orang datang ke cafe model franchise untuk mencari kopi yang enak, kini tidak lagi. Roaster di dekat rumah anda bisa jadi memiliki biji kopi terbaik dibandingkan cafe yang mahal. 

Banyak juga coffee shop yang merangkap sebagai roaster sehingga pengunjung dapat berinteraksi secara langsung untuk mendapatkan tips menyeduh kopi yang benar. Sehingga tidak heran jika saat ini orang lebih tertarik mencari biji kopi ke roaster dan mulai bereksperimen sendiri di rumah.

Beberapa roasters di Indonesia. Sumber gambar: Deskgram
Beberapa roasters di Indonesia. Sumber gambar: Deskgram
Era informasi yang serba cepat saat ini juga mempengaruhi The Third Wave Coffee. Tidak sedikit coffee shop dan roaster yang memiliki media sosial seperti Instagram dan website sendiri. Di Instagram mereka biasanya berusaha menggaet pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama supaya stay connected dan keep in touch dengan produk kopi mereka. Event give away, potongan diskon melalui Instagram, dan postingan berhadiah paling sering digunakan untuk menarik pelanggannya. 

Salah satu event dan promo yang diselenggarakan independen roasters. Sumber gambar: evensi.ie
Salah satu event dan promo yang diselenggarakan independen roasters. Sumber gambar: evensi.ie
Anda juga akan sering menjumpai video proses brewing oleh barista dan postingan foto yang artistik pada Instagram mereka. Instagram benar-benar memanjakan coffee shop dan roaster untuk dapat berkembang di era The Third Wave Coffee. Mereka biasanya memiliki lapak di situs belanja online populer. 

Selain harus pintar meracik kopi, barista juga menjadi lebih interaktif dengan pengunjung. Sumber gambar: merahputih.com
Selain harus pintar meracik kopi, barista juga menjadi lebih interaktif dengan pengunjung. Sumber gambar: merahputih.com
Peran barista juga menjadi lebih menonjol, kebanyakan barista akan lebih komunikatif terhadap pengunjung dengan menanyakan coffee experience apa yang ingin dinikmati.

Manfaat yang diperoleh dengan adanya Third Wave Coffee semakin luas. Semakin banyak penikmat kopi spesialis bermunculan membuat coffee shop dan roaster semakin eksis dan mempunyai tempat untuk berkembang. Kompetisi dan event bertema kopi seperti seminar mulai banyak bermunculan, fokusnya bukan lagi profit oriented tetapi juga "Mengedukasi masyarakat untuk melek kopi". Bisa dikatakan budaya ngopi berkembang menjadi literasi kopi. 

Salah satu event yang ditunggu penggemar kopi tanah air adalah Jakarta Coffee Week. Sumber gambar: merahputih.com
Salah satu event yang ditunggu penggemar kopi tanah air adalah Jakarta Coffee Week. Sumber gambar: merahputih.com
Petani kopi pun semakin diuntungkan karena hasil panennya kini dihargai lebih mahal dibanding sebelumnya, kondisi ini dikenal dengan istilah Fair Trade. Sebuah gerakan yang diinisiasi untuk lebih mensejahterakan petani kopi.

Standar Fairtrade certified coffee menciptakan sebuah sistem distribusi kopi yang berusaha mensejahterakan para petani kopi. Sumber gambar: thanksgivingcoffee.com
Standar Fairtrade certified coffee menciptakan sebuah sistem distribusi kopi yang berusaha mensejahterakan para petani kopi. Sumber gambar: thanksgivingcoffee.com
Starbuck's juga bergabung dalam trend Speciality Coffee dengan meluncurkan produk Single Origin Speciality mereka yang diberi nama Starbuck's Reserve. Sumber gambar: Starbucks
Starbuck's juga bergabung dalam trend Speciality Coffee dengan meluncurkan produk Single Origin Speciality mereka yang diberi nama Starbuck's Reserve. Sumber gambar: Starbucks
Kendati demikian, The Third Wave Coffee nampaknya tidak terlalu berpengaruh pada masyarakat yang hanya melihat kopi sebagai sebuah minuman. Kelompok ini hanya memandang kopi sebagai minuman dengan rasa yang sama, darimanapun dan bagaimanapun cara menyeduhnya. 

Umumnya harga kopi speciality yang diatas rata-rata kopi sachet akan sulit mereka terima. Kalau diungkapkan secara kasar, mirip sudut pandang orang yang bukan perokok terhadap perokok aktif.

Apa pun itu, era The Third Wave Coffee sudah terjadi, akankah ada The Fourth Wave coffee? Mungkin saja. Saat ini, mari menikmati pahit manis kopi dalam keragaman yang indah. Keep calm and enjoy your coffee.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2