Robbi Gandamana
Robbi Gandamana swasta

tak perduli..jika dengan menulis ini tak menjadikanku apa-apa...tapi setidaknya aku sudah memberi warna pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Valentine Day" Islami

13 Februari 2018   18:03 Diperbarui: 14 Februari 2018   08:11 1509 23 8
"Valentine Day" Islami
Ilustrasi: Shutterstock

Semua agama mengajarkan kasih sayang. Begitu juga dengan Islam. Bahkan Islam adalah kasih sayang itu sendiri. Kalau ada orang yang mengaku islam tapi sukanya melecehkan, menyakiti manusia, itu bukan Islam. Itu jelas bajingan yang agamanya Islam. Salahkan manusianya, jangan agamanya.

Ngomong soal kasih sayang, Islam sebenarnya punya semacam Hari Kasih Sayang ---Ini saya juga baru tahu, dari buku Cak Nun "Jejak Tinju Sang Kyai", ojok ngomong sopo-sopo--. Tentu saja kasih sayang dalam arti yang universal, bukan kasih sayang ala Valentine Day, kasih sayang sejoli yang saling mencintai itu.

Hari Kasih Sayang di sini adalah mengenang Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah) yang diabadikan dalam Al Quran sebagai Fathan Mubina (kemenangan yang nyata), tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H (Surat Al-Fath ayat 1). Saat itu sepuluh ribu pasukan Islam dari Madinah berhasil merebut kembali kota Mekkah dari pasukan Quraisy tanpa perlawanan berarti.

Setelah Mekkah berhasil direbut, berhala-berhala dihancurkan, Rasulullah memberikan pengampunan kepada ribuan tawanan musuh, "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masingmasing."

Padahal bisa saja saat itu pasukan Islam membalas dendam atas penindasan kaum Quraisy pada umat Muslim selama bertahun-tahun. Tapi Rasulullah menghendaki perdamaian dan pengampunan. Pokoknya hari itu tidak ada yang boleh ngasah pedang, dipersilahkan kembali ke istrinya masing-masing. Terserah kalau mau bercinta sampai dengkul kopong. Perang sudah berakhir.

Tentu saja pasukan Islam langsung  galau mendengar pidato Rasulullah. Sudah capek-capek mempertaruhkan nyawa, dihinakan, dinistakan bertahun-tahun, lha kok saat kemenangan sudah diraih, disuruh membebaskannya.

Apalagi ternyata masih ada perintah lagi. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, harta benda dibagikan kepada para tawanan perang. Pasukan Islam sendiri nggak kebagian apa-apa, ndlahom jaya. Mereka pun protes keras.

Melihat pasukan Islam tidak terima, Rasulullah pun bertanya, "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku? Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian? Kalian memilih mendapatkan unta ataukah memilih cintaku kepada kalian?"

Mendengar pitutur Rasulullah, pasukan Islam pun terharu, nangis bombay, karena cinta Rasulullah pada mereka begitu besar, sama sekali tidak sebanding dengan pampasan perang, unta, harta benda yang dibagikan pada para tawanan.

Lewat kejadian ini Rasulullah memperlihatkan pada umatnya tentang kemenangan yang sejati. Yaitu kemenangan mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan nafsu duniawi. Beliau menunjukan pada kita bahwa Islam adalah agama kasih. Dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa rela memaafkan musuh yang telah melecehkan, menghina, bahkan membunuh keluarga mereka.

Karena hakikatnya manusia diciptakan tidak untuk mengalahkan manusia lain, tapi mengalahkan diri sendiri. Dalam perang antar manusia, permainan, olah raga, boleh menang. Tapi di luar itu, tiap hari manusia sebisa mungkin menang berperang melawan dirinya.

Apa yang sudah dicontohkan Rasulullah di atas sebenarnya sudah lama dikenal dan diamalkan oleh orang Jawa dengan falsafahnya "menang tanpo ngasorake" (menang tanpa merendahkan) sebelum Islam hadir di bumi Nusantara. Makanya Islam tidak di turunkan di Jawa. Karena filosofi hidupnya sudah matang. Rugi kalau diturunkan di Jawa.

Menurutku momentum Fathu Mekkah layak dijadikan hari besar Islam. Untuk mengenang keikhlasan, kesabaran dan kebesaran jiwa Rasulullah dalam memperlakukan para musuh Islam. Daripada Hari Ayah, Hari Anak, Hari Om, Tante, Ponakan, yang akar filosofinya berasal dari Barat. Nilai dan hikmahnya kurang kuat kalau dijadikan hari besar.

Mungkin namanya bukan Hari Kasih Sayang Islam, embuh karepmu. Kalau namanya Hari Kasih Sayang takutnya disalah-artikan jadi kayak Valentine Day. Hari Ibu saja disamakan dengan Mother's Day-nya Amrik. Padahal Hari Ibu itu mengenang Kongres Perempuan Indonesia di Jogja (22-25 Desember 1928). Kongres yang  ditujukan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Ya sudah itu saja, matur nuwun.

- Robbi Gandamana -