R. M. S. P. Alam
R. M. S. P. Alam Spiritual Entrepreneur

Creating the Future

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Dilema Gaji, Mimpi, dan Pengunduran Diri

8 Oktober 2018   22:13 Diperbarui: 9 Oktober 2018   11:36 3107 4 2
Dilema Gaji, Mimpi, dan Pengunduran Diri
Ilustrasi (NEWS.HEALTH.COM/ GETTY IMAGES)

"Gue udah kerja lembur bagai kuda, tapi gaji ama bonus ya segitu-gitu aja."

"Kayaknya gue mau pindah kerjaan deh, di sana gajinya lebih gede."

"Kenapa sih bos gue ngeselin banget. Suka ngasi tugas dadakan, gue kan juga punya kehidupan pribadi."

Apakah kita masih sering berkutat dengan keluhan-keluhan di atas? Pertanyaan saya, sebenarnya, apa sih motivasi kerja kita yang paling utama? Gaji kah, untuk modal nikah? Bonus kah untuk mengirim uang ke emak di kampung? Atau pengakuan agar tidak dicap sebagai pengangguran?

Resign telah menjadi topik paling panas di meja makan saat jam istirahat siang. Sesekali topik tentang memulai bisnis juga muncul di sana. Ketika satu orang nyeletuk ingin mulai bisnis---karena bosan dan demotivasi kerja rutinitas kantor-- maka tak ayal yang lainya juga menimpali dengan dukungan, bahkan perasaan yang senasib sepenanggungan. Tapi, topik-topik itu berhenti di meja makan, terlupakan begitu saja setelah orang-orang tersebut kembali ke meja kerjanya.

Menurut saya, ketika intensi keluar disebabkan karena perasaan tidak enak atas gaji yang diterima, atau bos yang terlalu otoriter, atau semacamnya, tidak selalu karena perusahaan yang bermasalah. Bisa jadi ada yang perlu diperbaiki dengan mindset orang tersebut. 

Lain halnya ketika alasan keluar adalah karena akhirnya diterima LPDP di kampus luar negeri, atau sedang menyambi bisnis dan bisnisnya mulai besar sehingga membutuhkan perhatian lebih, atau dari awal memang sudah merencanakan akan keluar dalam kurun waktu tertentu.

Ketika di awal bekerja, saya juga mengalami hal yang sama (belum sempat kepikiran resign sih), merasa kalau pekerjaan ini tidak worth it dan workload-nya tidak sebanding dengan gaji yang didapat.

Apalagi saat nongkrong dan bertemu dengan teman-teman yang telah bekerja di perusahaan-perusahaan papan atas dengan gaji dua digit. Alamak... rasanya ingin meringkuk di bawah meja dan sembunyi dari mereka. 

Apalagi, sebelum bekerja di tempat sekarang, saya telah menolak offering letter dari salah satu bank untuk menjadi ODP di sana. Asli nyesek banget rasanya. (Oh ya, sekarang saya bekerja di perusahaan startup yang belum berumur dua tahun).

Butuh waktu kurang lebih dua minggu untuk mencari justifikasi ke sana sini, bahwa apa yang saya lakukan adalah hal yang benar. Jujur, baru pertama kali itu, saya, ketika bangun tidur, terduduk di pinggir kasur, merenungi nasib dan menyesali pilihan. 

Saya harus menelpon orang tua, curhat tentang keadaan gaji yang tidak seberapa. Saya harus lebih banyak doa, memohon pembenaran atas kondisi yang ada. Tak lama kemudian, rombongan jawaban atas kegelisahan-kegelisahan pun datang, bak pawai pengangkatan Lurah baru hasil pemilihan.

Pembenaran Pertama: Banyak Orang Yang Bahkan Gajinya Jauh di Bawah Standar

Suatu malam saya ngobrol dengan teman-teman kosan yang mereka adalah pegawai di salah satu outlet di mall besar. Tiba-tiba dia membahas tentang pekerjaan. "Enak ya Lam, kerja kayak kamu, nggak capek. Sabtu minggu libur. Dan gajinya gede." 

Dalam hati saya membalas, "Enak pala lu bekerak!" Lalu dia melanjutkan, "Kalau gue sih dikit banget gajinya. Ah males ah nyebutin, malu banget." Saya diam saja dengan senyum yang dipaksakan.

Eh si Otong masih mau melanjutkan obrolan. "Asli malu gue. Buat modal pulang kampung pas lebaran aja kagak ada. Ah malu banget dah." Saya mulai tergerak hatinya. By the way, teman saya ini kerja di outlet kuliner sebagai koki (tukang masak---red). 

"Kalau gaji lu berapa Lam? Tanya dia. Saya hanya mematut jari di atas meja, mengernyitkan dahi. Belum sempat menjawab, dia nyelonong lagi seperti kuda balap, "UMR yak? Ah gue malu banget. Gaji gue kecil. Malu ah nyebutinnya." Siapa yang nanya? Benak saya berkata.

"Gaji gue Cuma satu juta, Lam."

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3