Rizky Permana
Rizky Permana

Concern terhadap sosiokultural masyarakat.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Genereasi Muda Mutiara Hitam di Yohanes Surya Institute

3 Februari 2012   02:41 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:07 569 0 1

Mereka berkulit hitam legam, berambut keriting, bermata indah dari bulu mata yang lentik. Berjalan tegap dan kuat, serta tersenyum manis di balik deretan gigi rapih dan putih bersih.

Inilah pemandangan eksotis dari perawakan anak Papua asli yang kini sering dijumpai ketika memasuki kawasan Gading Serpong. Tepatnya, ketika memasuki kawasan gedung Surya Research and Education center (SREC) di Jalan Scientia Boulevard Blok U No. 7. Mereka adalah para siswa SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan Surya (STKIP Surya).

Mereka ada yang berasal dari Kabupaten Serui, Tolikara, Jaya Wijaya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Timika, Raja Ampat, Fakfak, Sorong Selatan, Jayapura, bahkan dari Yahukimo, sebuah daerah yang baru mengalami pemekaran. Di STKIP Surya atau Surya Institute, mereka tengah berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Program beasiswa dari pemerintah daerah di Papua memang telah bekerja sama dengan banyak sekolah atau universitas. Namun, tak ada yang menampung hingga ratusan siswa-siswi dari "Bumi Cendrawasih" seperti yang dilakukan Surya Institute.

Sebagian dari mereka tinggal di sebuah asrama yang ada di samping gedung Surya Research and Education Center (SREC). Dari pagi hingga sore, nampak mayoritas warga Papua mondar-mandir di sekitar gedung itu. Sepulang sekolah, sebagian besar dari mereka bermain di sekitar gedung. Di sore hari pula mereka kerap bermain sepak bola atau berlari di seputar Summarecon Serpong. Jadi jangan heran jika di lingkungan ini didominasi oleh putra-putri asli Papua.

Melihat mereka, seperti sedang berada di sebuah negeri mutiara hitam itu. Sungguh sebuah pemandangan yang berbeda, menyadari mereka kini tengah berada di kawasan elite dan di antara gedung-gedung bertingkat nan megah. Jauh dari lingkungan asli mereka di Papua yang berada di antara pegunungan dan lautan. Belum lagi banyak dari mereka yang berasal dari pedalaman Papua, di mana budaya setempat masih melekat kuat.

Kebiasaan dan keseharian mereka di Papua masih terbawa hingga kini. Para pengajar di Surya Institute juga ikut merasakan adanya perbedaan budaya. Para pengajar melihat begitu eratnya persaudaraan antara mereka. Jika di suatu sekolah selalu ada ketua kelas, maka di sana lebih terasa seperti kepala suku. Kepala suku tak hanya memimpin kelas, tapi juga mengurusi semua hal yang menyangkut kebahagiaan temannya. Jika ada salah satu anak Papua yang menangis, semua langsung ikut menghibur. Di sini mereka bertukar energi untuk saling mendukung, menyemangati, dan melindungi.

Kejadian unik pun kerap terjadi pada awal masa para mahasiswa ini saat mengenyam pendidikan di perantauan. Sempat ada warga di perumahan yang bingung karena pernah ada seorang mahasiswa Papua yang memanjat pohon di perkarangan rumahnya. Bagi kita hal tersebut mungkin tidak lumrah dilakukan, tetapi bagi orang Papua ini, memanjat pohon di perkarangan rumah orang lain umum dilakukan.

Orang Papua menganggap hal itu wajar. Mereka memanjat bukan untuk mencuri buah-buahan, tapi hanya untuk sekadar berteduh. Ini memang kebiasaan anak-anak dari pedalaman Papua karena di sana mereka hidup dekat dengan alamnya.

Mutiara hitam ini juga masih mengenakan aksesori pakaian dari daerahnya. Seorang mahasiswa terlihat mengenakan noken, yakni kerajinan tas rajut asli Papua, untuk menaruh perlengkapan belajar mereka. Meski sudah menggendong tas ransel, noken itu tetap saja dikenakannya di leher untuk membawa buku-buku.

Nampak pula seorang gadis yang berjalan tanpa mengenakan alas kaki di sekitar Jalan Scientia Boulevard. Di Papua, hal ini sudah biasa. Di sana mereka dengan nyamannya berjalan di atas aspal maupun jalan pegunungan bertanah dan batu tajam tanpa mengenakan alas kaki.

Ah, rasanya memang seperti berada di sebuah negeri mutiara hitam itu, tetapi di tengah lingkungan yang metropolis. Mutiara hitam di Gading Serpong memberikan suasana baru dan menyadarkan betapa indahnya perbedaan suku, agama, dan ras yang ada.