Mohon tunggu...
Reki Sipatsu
Reki Sipatsu Mohon Tunggu...

Jurnalis biasa

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Kenapa Tim Identifikasi Korban AirAsia Dinamakan DVI?

2 Januari 2015   21:49 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:57 64 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Tim Identifikasi Korban AirAsia Dinamakan DVI?
1420184780727459875

[caption id="attachment_362790" align="aligncenter" width="320" caption="TIM DVI (Sumber: Korlantas Polri) "][/caption] Tim DVI tengah menjadi sorotan utama saat ini, terutama bagi keluarga penumpang pesawat AirAsia QZ8501 yang diduga kuat jatuh akibat cuaca buruk. Berkali-kali kata DVI disebut di berbagai media, terutama televisi. Tapi saya heran kenapa dinamakan tim DVI. Itu kan bahasa Inggris? Kenapa kita sebagai orang Indonesia lebih memilih singkatan dari bahasa asing. Biar lebih keren gitu? Begitu kira-kira yang terbesit di pikiran saya. Kenapa bukan pakai istilah dalam versi bahasa Indonesia. DVI merupakan singkatan dari Disaster Victim Identification atau dalam bahasa Indonesia menjadi Tim Identifikasi Korban atau kalau bisa disingkat menjadi TIK. Mungkin, dugaan saya jika diberi nama TIK, bisa tumpang tindih atau bertabrakan dengan TIK yang biasa dipakai dalam dunia TI jadi Teknologi Informasi Komunikasi. Tapi memang nggak ada salahnya jika pakai TIK. Toh, sekarang menurut saya istilah TIK sudah jarang digunakan dalam dunia IT. Orang-orang lebih memilih kata IT. Atau, seolah tak mau kalah, istilah DVI juga digunakan dalam video. Ada kabel yang disebut kabel DVI (Digital Video Interface). Kabel DVI merupakan kabel konektor penghubung analog digital video bisa dari komputer ke perangkat lain. [caption id="" align="aligncenter" width="490" caption="Kabel DVI"]

Kabel DVI
Kabel DVI
[/caption] Alasan lain, kenapa kita tidak seragam menggunakan bahasa Indonesia untuk semua singkatan atau akronim. Seperti ABRI, Polri, KPK. Kenapa harus ICW atau Indonesia Corruption Watch, bukan misalnya Badan Pemantau Korupsi Indonesia (BPKI). Dalam berbagai buku cara menyerap dan pendapat ahli bahasa yang pernah saya pahami, seharusnya suatu pihak baru bisa menggunakan istilah asing jika memang istilah di bahasa Indonesia benar-benar sudah tidak ada padanannya. Misalnya hamburger, makanan yang jelas bukan asli Indonesia, sehingga kita sulit untuk membuat istilah sendiri. Berikut penjelasan Badan Bahasa Kemdikbud soal cara menyerap bahasa:
Unsur bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia harus mempertajam daya ungkap bahasa Indonesia dan harus memungkinkan orang me nyatakan makna konsep atau gagasan secara tepat. Penyerapan unsur bahasa asing itu harus dilakukan secara selektif, yaitu kata serapan yang dapat mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indo nesia. Kata itu memang diperlukan dalam bahasa Indonesia untuk kepen tingan pemerkayaan daya ung kap bahasa Indonesia mengiringi perkem bangan ilmu pengetahuan dan tekno logi Indonesia modern. Berikut beberapa contoh tentang hal itu. Kata condominium, diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penye suaian ejaan menjadi kondominium. Demikian juga penyerapan kata konsesi, staf, golf, manajemen, dan dokumen. Kata-kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyesuaian ejaan. Namun, kata laundry, sebenarnya tidak diperlukan karena dalam bahasa Indonesia sudah digu nakan kata binatu dan dobi. Perlakuan yang sama dapat dikenakan pada kata tower karena padanan untuk kata itu sudah ada dalam khazanah ba hasa Indonesia, yaitu menara atau mercu. Kata garden yang pengertian nya sama dengan kata taman atau bustan juga tidak perlu diserap ke da lam bahasa Indonesia. Sejalan dengan pemaparan kosakata serapan itu, bagaimana denga n kata developer dan builder? Apakah perlu diserap? Kedua kata itu, sudah tidak asing lagi bagi pengusaha yang bergerak dalam bidang pengadaan sarana tempat tinggal ataupun perkantoran. Akan tetapi, apakah tidak lebih baik jika pengguna bahasa Indonesia berusaha memasyarakatkan penggunaan kata pengembang untuk padanan developer dan pembangun untuk padanan builder.

Jadi kenapa kita dahulukan menggunakan istilah Indonesia, baru kemudian pakai yang asing bila sudah mentok, sebagai wujud kita cinta dengan bahasa Indonesia. Bahasa yang dinilai paling mudah dipelajari dan berpotensi jadi bahasa internasional ketujuh setelah bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Arab, bahasa Spanyol, bahasa Rusia, dan bahasa Prancis. Bagaimana menurut Anda?

VIDEO PILIHAN