Mohon tunggu...
Rizal Jamjam
Rizal Jamjam Mohon Tunggu... -

Lebih senang disebut seorang "Katalis" yang ingin memberikan manfaat seluas-luasnya

Selanjutnya

Tutup

Money

Regresi Kapasitas Manusia

1 Agustus 2016   16:05 Diperbarui: 1 Agustus 2016   18:00 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Bila hanya manusia yang memiliki kapasitas "Membangun Dunia" maka hanya manusia yang akan bertanggung jawab terhadap dunia ciptaannya. (Prof. Yasraf A. Piliang, 2016)

Tertegun ketika mendengarkan salah satu orasi ilmiah dari Bapak Prof. Yasraf A. Piliang, Beliau memaparkan tentang "Kondisi Manusia dan Kebudayaan di Abad Informasi", judul orasi yang sederhana, tetapi penuh dengan makna. Pemaparan Beliau sangat filosofis, tetapi mudah dipahami oleh audiens yang ada di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah, Institut Teknologi Bandung. Beliau menjelaskan bahwa salah satu pengetahuan yang paling fundamental dalam ilmu kebudayaan dan kemanusiaan adalah "pengetahuan tentang manusia" atau tentang "kondisi manusia".

Kondisi manusia sangat ditentukan tidak saja apa yang disediakan oleh alam, akan tetapi oleh karya cipta manusia sendiri dalam mengubah alam, apapun bentuk ciptaan manusia baik itu berupa pengetahuan, teknologi, seni, desain atau karya cipta lainnya. Pengetahuan tentang kondisi manusia menjadi hal penting terutama jika kita ingin menempatkan bentuk karya cipta tersebut sebagai elemen pembangun peradaban. Peradaban yang dimaksud merupakan pencapaian kebudayaan yang tinggi dan kompleks dengan rentang waktu yang panjang dalam "membangun dunia yang lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih bermakna".

Salah satu contoh sederhana adalah ilmu budaya. Ilmu budaya membedakan cara kerja menjadi dua yaitu cara kerja alam "nature"  dan cara kerja kebudayaan "culture". Cara kerja alam dimiliki oleh binatang dan manusia. Akan tetapi, cara kerja kebudayaan hanya dimiliki oleh manusia. Manusia memiliki kesamaan dengan binatang dalam memakan makanan mentah : apel, pisang, pepaya, dsb. Manusia berbeda dengan binatang dengan kemampuannya dalam mengolah makanan : digoreng, direbus, dioven, dibakar, dsb. Manusia mampu melakukan transformasi dari nature ke culture,  yang menjadikan pembeda antara manusia "humanitas" dengan binatang "animalia".

Ada 4 kapasitas manusia dalam "membangun dunia" sebagai wujud dari humanitas, wujud dari humanitas artinya wujud dari pengembangan sifat-sifat kebaikan manusia dalam segala hal yang dimaksudkan untuk membangun dunia. Empat kapasitas tersebut adalah sains, politik, cinta, dan seni. Ekonomi atau "oikonomia" memiliki makna luas "mencari hidup" tidak termasuk kedalam kapasitas yang mencirikan manusia, karena kapasitas ini juga dimiliki oleh hewan.

Empat kapasitas dalam membangun dunia (sains, politik, seni dan cinta) memiliki tujuan yang sama yaitu membangun "hidup baik". Pertama adalah sains, sains merupakan kapasitas yang mencirikan manusia, dengan sains manusia dapat menemukan "kebenaran ilmiah". Sains tumbuh karena kekuatan matematis dalam mengungkap kebenaran yang bersifat universal, sedangkan teknologi merupakan perwujudan dari sains melalui dunia material.

Kedua adalah politik, politik merupakan perwujudan humanitas dalam membangun dunia melalui berbagai bentuk aktivitas politik, politik sebagai manifestasi kebenaran dan keutamaan didalam sebuah medan pertarungan kekuasaan. Politik merupakan sebuah ranah mengungkap kebenaran "kebenaran politik" melalui kontestasi ideologi, dan pertarungan kekuasaan.

Berikutnya adalah Seni dan Cinta, seni memiliki caranya sendiri dalam mengungkap kebenaran, kebenaran seni bersifat partikular, kebenaran seni dibangun melalui bentuk, citra, objek, dan dimensi-dimensi material. Sedangkan cinta, cinta adalah kapasitas manusia paling sublim, didalam kapasitas cinta dirangkai makna melalui kesetiaan diatas fondasi relasi mutual kebaikan bersama, dan pegorbanan. Kapasitas cinta hanya dimiliki oleh manusia, sementara binatang digerakkan oleh instink.

Kemajuan zaman dan berbagai perkembangan teknologi di abad informasi membawa kita pada sebuah kenyataan pahit, dimana Empat kapasitas manusia dalam membangun peradaban mulai mengalami regresi. Empat kapasitas yang seharusnya membuat dan menjadikan ciri manusia, mulai bergeser mendekati sifat binatang (menjadi binatang atau "becoming animal"). Seperti yang diungkapkan oleh Esposito, "becoming animal" bukan sebuah metafora, akan tetapi merupakan sebuah realitas hidup kita yang nyata. Manusia bukan menjadi manusia "yang lain", akan tetapi manusia mundur kepada sifat alamiahnya. Sifat alamiah adalah sifat-sifat animalitas yang pada diri manusia, yang selama ini ditolak, disangkal dan disembunyikan.

Ekonomi atau "oikonomia" memiliki makna luas "mencari hidup" tidak termasuk kedalam kapasitas yang mencirikan manusia, karena kapasitas ini juga dimiliki oleh hewan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun