Wisata Pilihan

Mengapa Aku Harus Pergi?

7 Desember 2017   17:26 Diperbarui: 7 Desember 2017   17:32 491 1 0
Mengapa Aku Harus Pergi?
dokumen pribadi

Rutinitas yang begitu padat dan membosankan membuat banyak orang memerlukan refresh untuk beberapa saat. Kalo ada ungkapan bahwa hidup hanya numang makan dan minum, sebenarnya itu tak semuanya benar. Kalo hanya numpang untuk makan dan minum yang pasti akan terasa membosankan, apalagi jika waktu hanya dihabiskan di rumah saja. 

Indonesia itu sangat indah dan tak ada habisnya, hidup kita belum tentu bisa menikmati seluruh keindahan Indonesia. Maka tak heran jika banyak orang rela menghabiskan uang demi mendapatkan kenikmatan dari perjalanan wisatanaya. Menikmati perjalanan yang kita lihat itu sangat menyenangkan dibanding hanya melihat dan menikmati tujuan wisata saja, karena ketika menikamati perjalanan kita membuka mata dan keingintahuan kita lebar-lebar kita akan mendapat banyak hal baru dari perjalanan kita, selain itu kita bisa melihat betapa besar dan indahnya karya Tuhan atas alam semesta ini.

Jika kalangan atas menikamati hidup ini dengan nongkrong di caffe atau shoppingdi mall,namun banyak orang juga lebih suka dan tertarik untuk menikmati wisata berupa alam, selain pantai yang sangat cocok dijadikan tempat untuk bersantai, gunung pun menjadi tempat untuk sejenak melupakan beban pikiran ataupun beban pekerjaan yang semakian menggunung. Aktivitas pendakian sekarang ini menjadi pilihan untuk menikmati karya Tuhan yang luar biasa dan tak ada habisnya, baik untuk anak muda maupun orang tua sekalipun.

Gunung Andong adalah pengalaman pertamaku bagaimana merasakan dinginnya kabut dan panasnya terik matahari yang perlahan membakar kulitku hingga membuat kulitku semakin hitam. Tapi pengalaman pertamaku tak lantas membuatku jengkel ataupun kapok melakukan pendakian, namun justru membuatku semakin tertantang untuk semakin tahu dan ingin mencobanya kembali. 

Gunung Andong yang terletak di Kopeng, Magelang, Jawa Tengah ini  memang sebenarnya belum bisa untuk dikatakan sebagai gunung karena ketinggiannya masih dibawah 2000 mdpl, namun karena kebiasaan orang menyebutnya sebagai gunung, maka sampai sekarangpun orang menyebutnya Gunung Andong.

Perjalanan pendakianku terus berlanjut dari Gunung Andong yang ketinggiannya hanya 1.726 mdpl, terus berlanjut ke gunung yang semakin tinggi, Gunung Ungaran dengan ketinggian 2.050mdpl, Gunung Prau dengan ketinggian 2.565 mdpl, hingga ke Gunung Sindoro dengan ketinggian 3.153 mdpl, Gunung Merbabu dengan ketinggian 3.142 mdpl, dan yang terakhir adalah Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl.

Inilah pengalaman terakhirku yang ku harap bukan benar-benar pengalaman terakhir dalam hidupku, masih begitu banyak gunung yang belum aku jelajahi di seantero negri ini yang sayang jika hanya sekedar tahu nama gunung itu saja tanpa masuk lebih dalam bagaimana gunung itu, karena di setiap gunung itu pasti berbeda. 

Walaupun sudah berulang kali terjatuh, sampai merasakan hiportermia bahkan merasa dan takut kalo mati di gunung karena saking dinginya waktu malam di gunung yang sampai menusuk tulang belakang. Mungkin inilah yang namanya hobi sekalipun sudah dilarang orang tua karena cuaca yang kurang mendukung tapi bagiku semua itu tak pernah menghalangi niat dan keinginanku.

Gunung Lawu sendiri merupakan gunung api yang beristirahat, terakhir kali meletus sekitar 132 tahun lalu tepatnya tanggal 28 November 1885, dengan ketinggian 3.265 mdpl, letaknya berada di perbatasan antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. 

Ketika akan melakukan pendakian terdapat 2 jalur, yaitu jalur pendakian via Cemoro Kandang dan jalur pendakian via Cemoro Semu, jarak keduanya hanya terpisah 200 meter saja. Untuk via Cemoro Sewu medannya lebih ngetrack dari pada via Cemora Kandang yang lebih datar  namun dengan waktu pendakian lebih lama. Gunung Lawu sendiri memiliki 3 puncak yaitu puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Pendakian Gunung Lawu sendiri biasanya rame ketika malam Satu Sura karena banyak orang atau pendaki yang ingin berziarah dari Cemoro Kandang sampai ke puncak.

Hal agak berbeda dengan gunung yang lainya yaitu disana terdapat beberapa warung yang siap 'memanjakan' kaum pendaki , sehingga pendaki tak perlu khawatir kelaparan atau kehausan saat disana, selain warung di pos 2, pos 3, pos 5 ada satu warung yang paling terkenal yaitu warung pecel milik seorang ibu bernama Wukiyem yang melegendaris, beliau sudah berjualan sejak tahun 1980an, warungnya terletak beberapa meter dari puncak Hargo Dumilah dengan suhu yang hampir minus 5 derajat celcius.  

Mbok Yem begitulah para pendaki memanggilnya, beliau hanya turun gunung sewaktu hari raya idul fitri atau keadaan mendesak lainnya. Kalau bahan baku yang beliau jual habis biasanya anaknyalah yang membawakan dagangannya itu dari bawah. Lawu sendiri yang termasuk dalam The Seven Summits of Indonesia memang terkenal dengan kesakralan ataupun pusat kegiatan spiritual, hal ini sangat di percayai di tanah Jawa, sehingga tak jarang banyak ditemui sesaji, bunga melati ataupun dupa, sehingga ketika kita kesana harus menjaga setiap perbuatan maupun perkataan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. 

Konon katanya burung jalak menjadi penuntun langkah kita ketika berada disana agar kita tidak tersesat, sedangkan kupu-kupu hitam dengan bulatan biru merupakan pertanda bahwa Gunung Lawu menerima kedatangan kita, dan bagi pendaki yang tidak menaati aturan maka akan tertimpa musibah.

Gunung merupakan salah satu tempat untuk kita merelaxkan diri kita, dengan alam yang ada di dalamnya membuat kita menjadi tenang dan nyaman, sekalipun perlu perjuangan untuk mendakinya, tapi kita akan mendapat keindahan dibaliknya, puncak bukalah tujuan utama melainkan adalah bonus dari perjuangan kita. 

Mengapa aku harus pergi? Karena aku harus memiliki cara pandang maupun pengalaman baru dalam hidupku, hidup mungkin hanya sebentar namun terlalu singkat jika hanya untuk numpang makan dan minum. Sehingga ketika aku pulang kembali ke tempatku semula pengalamanku bertambah dan lebih baik dari sebelum aku melanglang. Dari situlah aku tertantang memberanikan diriku mengali hal baru sembari menikamati karya Sang Kuasa yang sayang jika terlewatkan. Itulah alasan mengapa aku harus pergi.