Mohon tunggu...
Risna Nugroho
Risna Nugroho Mohon Tunggu... Blogger

Blogger, Ibu Rumah Tangga, Homeschooler, Chiang Mai, Thailand, tulisan lainnya di blog.compactbyte.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kegalauan Orang Tua Terkait Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Pandemi

2 Juni 2020   00:23 Diperbarui: 2 Juni 2020   00:19 432 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kegalauan Orang Tua Terkait Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Pandemi
Membaca buku sebagai kegiatan belajar anak usia dini di rumah (sumber: dokpri)

Menjelang tahun ajaran baru 2020/2021, ada banyak ketidakpastian apakah anak-anak harus kembali belajar di sekolah atau masih dari rumah saja. Mengingat angka infeksi Covid-19 belum juga menunjukkan penurunan saat ini, sepertinya rumah adalah tempat paling aman untuk anak dan seluruh keluarga. Akan tetapi proses belajar jarak jauh melalui internet yang dilakukan dirasakan tidak optimal.

Beberapa orang tua yang anaknya hampir 7 tahun juga jadi ragu-ragu untuk memulai mendaftarkan anak masuk SD. Untuk orangtua yang anaknya masih di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) merasa malah jadi repot dengan tugas-tugas sekolah yang terkadang dirasakan terlalu banyak untuk anak di bawah 6 tahun.

Beberapa sekolah sudah mengumumkan tanggal di mulainya kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Beberapa teman bercerita, kalau sekolah anaknya akan memulai KBM di sekolah untuk tingkat PAUD dan SD mulai akhir bulan Juli, sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA melanjutkan belajar dari rumah. Teman yang lain bercerita kalau di sekolah anaknya malah kebalikannya. KBM di sekolah hanya untuk tingkat SMP dan SMA, sedangkan tingkat PAUD dan SD melanjutkan belajar dari rumah.

Perbedaan kebijakan sekolah ini membuat saya berpikir sendiri. Setiap sekolah ini pastilah ada pertimbangan masing-masing, maka membuat keputusan yang berbeda. Tapi saya pribadi lebih setuju kalau yang belajar di sekolah itu untuk anak yang memang sudah lebih mengerti untuk menjaga jarak.

Melihat berita di tanah air, terkadang saya terpikir, "Bagaimana mengharapkan anak SMP atau SMA untuk patuh aturan menjaga jarak dan tidak berdekatan dengan teman-temannya, sedangkan orang dewasa yang seharusnya lebih bijaksana saja banyak yang abai dengan aturan jaga jarak dan berlaku seenaknya, terus mau berharap anak TK dan SD lebih patuh dengan aturan?" 

Memang tidak semua orang dewasa di Indonesia yang tidak patuh aturan jaga jarak, tapi ya setidaknya beberapa yang diberitakan di media ya seperti itu.

Saya tidak bisa membayangkan anak PAUD dan SD bertemu teman-teman di sekolah tapi tidak boleh bermain bersama. Belum lagi mengharapkan mereka rajin cuci tangan, dan memakai masker dengan benar sepanjang hari. 

Tidak bisa membayangkan anak-anak usia dini yang ke sekolah itu biasanya belajar melalui bermain, lalu dilarang untuk bermain dan nantinya disuruh duduk manis jaga jarak dan dengarkan petunjuk dari depan saja. Yakin bisa? saya kok ga yakin ya.

Istilah anak ingusan bukan sekedar istilah. Anak yang belum tahu apa-apa ataupun mengatur dirinya sendiri itu termasuk kategori anak ingusan. Umumnya anak PAUD dan SD sampai kelas tertentu bisa disebut anak ingusan. 

Buang ingusnya sendiri belum bisa dengan benar. Bersin masih suka lupa untuk tutup mulut. Sebelum makan masih harus diingatkan lagi untuk mencuci tangan, dan apakah semua itu harus diawasi guru dengan mata elang untuk meyakinkan protokol kesehatan tetap berjalan di sekolah?  Apakah ada penambahan guru untuk mengawasi jumlah anak?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN