riska nuraini
riska nuraini

seorang yang senang membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tebarlah Bibit Perdamaian, Bukan Bibit Peperangan dan Kebencian

12 Juli 2018   23:27 Diperbarui: 12 Juli 2018   23:33 225 1 0
Tebarlah Bibit Perdamaian, Bukan Bibit Peperangan dan Kebencian
Ilustrasi: Tribunnews.com

Indonesia sebenarnya saat ini hidup dalam kondisi damai atau perang? Indonesia menjunjung toleransi atau intoleransi? Dan Indonesia indentik dengan gotong royong atau saling caci maki? 

Mari kita renungkan pertanyaan tersebut. Kenapa merenungkan pertanyaan diatas penting? Karena sejatinya banyak pihak yang tidak menginginkan Indonesia damai, padahal sejatinya negeri ini dihiasi dengan kedamaian, toleransi dan gotong royong. 

Lalu, kenapa masih ada orang yang secara sengaja menebar kebencian? Kenapa masih ada orang yang menginginkan Indonesia menjadi negara konflik? Bahkan, akhir-akhir ini ayat-ayat suci yang bernuansa perang pun, sering dimunculkan di media sosial. Apa maksudnya?

Tak dipungkiri, perhelatan politik yang terjadi saat ini telah melahirkan pribadi yang saling membenci, bukan pribadi yang saling menghargai. Provokasi juga menguat seiring dengan memanasnya konstelasi politik ditanah air. 

Dan pertanyaan sederhana lagi, apa maksudnya? Kenapa kok ada orang yang sengaja memprovokasi orang lain untuk saling membenci. Bahkan dalam kondisi tertentu, orang yang terus memelihara kebencian bisa melakukan tindakan yang sifatnya intoleran. Jika hal ini terus berulang, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melakukan tindakan teror.

Entah kenapa sentimen agama seringkali dibawa dalam perhelatan politik. Dalam pilkada DKI Jakarta misalnya, sentimen begitu kuat sekali. Pola yang sama sempat juga diterapkan di beberapa daerah yang kemarin menggelar pilkada serentak. 

Kini publik mengkhawatirkan hal serupa diterapkan pada pemilihan legislative dan pemilihan presiden pada 2019 mendatang. Kekhawatiran ini tentu sangat beralasan. Karena tidak sedikit dari mereka sering membawa ayat-ayat Al Quran untuk saling membenci. Pihak yang berbeda pandangan dianggap sebagai kafir. Padahal, agama tidak pernah mengajarkan untuk saling membenci apalagi menebar kekerasan.

Dalam QS Al Hujurat ayat 13 disebutkan, "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal." Jika dalam kitab suci disebutkan seperti itu, kenapa masih ada yang saling membenci dan memaki?

Biarlah masyarakat hidup tenang, rukun, saling berdampingan satu dengan yang lainnya. Ingat, setiap manusia mempunyai hak asasi yang melekat sejak lahir. Termasuk hak untuk menentukan keyakinannya. 

Setiap manusia juga mempunyai hak untuk memilih pemimpin yang mereka inginkan. Panasnya perhelatan politik antar elit partai, semestinya tidak diprovokasi. Justru sebaliknya, perhelatan politik harus mampu menyatukan semua kepentingan. Perhelatan politik harus mampu mendamaikan, bukan saling menjauhkan satu dengan yang lain.

Mulailah menebar pesan damai dalam setiap aktifitas. Jangan libatkan ayat suci untuk mendapatkan simpati publik. Dan yang terpenting, Indonesia adalah negara yang beragam. Karena itulah sangat tidak tepat jika hari ini banyak orang saling menyalahkan, saling mencaci hanya karena perbedaan dan keberagaman. Mari satukan Indonesia dalam keberagaman.