riska nuraini
riska nuraini

seorang yang senang membaca

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Deteksi Dini Radikalisme di Dunia Maya

14 Februari 2018   06:40 Diperbarui: 14 Februari 2018   07:11 181 0 0
Deteksi Dini Radikalisme di Dunia Maya
Toleransi - jalandamai.org

Beberapa hari lalu, publik dikejutkan dengan perilaku Suliyono, mahasiswa 23 tahun, yang melakukan penyerangan di Gereja Santa Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta. Tindakan yang tidak terpuji sekaligus tidak masuk akal ini, tentu bukan tanpa sebab. 

Diperkirakan ada pihak-pihak yang sengaja mempengaruhi pola pikir pemuda tersebut, sampai berani menyabetkan pedangnya ke Romo yang sedang memimpin misa. Jika melihat yang sudah terjadi, perilaku radikal tersebut banyak dipengaruhi dengan maraknya provokasi radkalisme di dunia maya. Bibit radikal itu sengaja disebarluaskan, dan akan menemukan sendiri korbannya. Jika ada anak yang galau, atau sedang kesal, marah atau yang lainnya, umumnya akan mudah terpengaruh oleh provokasi radikal ini.

Di Gereja Santo Yoseph, pada 2016 lalu sempat diancam bom oleh seorang pemuda yang barus berusia 18 tahun. Bahkan tidak hanya menyerang, pelaku juga membawa bom yang dirakitnya sendiri setelah mendapatkan turorial di media online. 

Aksi tersebut berhasil digagalkan oleh jemaat. Pelaku mengaku melakukan aksi tersebut atas suruhan orang tak dikenal, yang menjanjikan uang sebesar Rp 10 juta untuk menyerang gereja.

Lalu, bagaimana dengan motif penyerangan gereja Sleman? Hingga saat ini masih didalami. Namun, disalah satu media online, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, beberapa bulan sebelum kejadian, Suliyono sempat berada di Poso dan Magelang. 

Bahkan, pelaku juga sempat akan melakukan jihad ke Suriah tapi gagal. Belum bisa dipastikan apakah pelaku merupakan anggota jaringan Santoso di Mujahidin Indonesia Timur, atau hanya sebatas simpatisan yang melakukan serangan lone wolf di negaranya sendiri.

Seperti kita tahu, sejak awal 2018 lalu, kelompok intoleran dan radikal ini selalu mencuri perhatian dengan melakukan penyerangan ke sejumlah pemimpin agama. Kiai Umar Basri, pemimpin pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, tiba-tiba dianiaya orang tidak dikenal. 

Awal Februari lalu, Ustad Prawoto, Komando Brigade Persatuan Islam di Bandung, juga dianiaya hingga tewas orang. Tidak lama berselang, di Legok ,Tangerang,  sekelompok orang melakukan persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim. Dan minggu kemarin, terjadi penyerangan di Gereja Sleman.

Kepolisian sendiri masih mencari apa motif penyerangan sejumlah tokoh agama dan tempat ibadah ini. Publik diharapkan bisa bijak dan logis dalam menyikapi peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Jangan terprovokasi untuk saling menyalahkan. 

Lebih baik kita lebih aktif melakukan pencegahan. Ketika media sosial seringkali digunakan untuk provokasi, kita juga harus aktif membersihkan media sosial dari segala bibit negatif. Pesan provokasi harus dilawan dengan pesan damai, yang berisi nilai-nilai kearifan lokal, nilai toleransi dan gotong royong. Ingat, kita semua bersaudara. Tidak ada gunanya saling bertengkar, saling mempermasalahkan perbedaan yang ada.

Sekali lagi, mari kita terus membentengi diri dari segala pengaruh buruk, sekaligus aktif melakukan deteksi dini dan pencegahan. Di tahun politik ini, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Karena tidak sedikit dari oknum yang mencoba memanfaatkan ajang politik ini, untuk membuat kondisi tidak kondusif demi mendapatkan kursi kekuasaan. Mari terus kita kobarkan, semangat untuk melawan radikalisme dan terorisme hingga kapanpun.